Orm baru saja selesai mandi, rambutnya masih meneteskan air dingin saat duduk di depan meja rias. Lampu kamar yang kuning temaram membuat bayangannya di cermin tampak lebih pucat dari biasanya.
"Orm, apakah kau sudah selesai mandi?"
Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Ice yang sudah memakai baju rumahan.
"Tidak bisakah Kakak mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" suara Orm terdengar kesal, matanya tidak lepas dari bayangan diri di cermin.
"Untuk apa aku melakukannya?" ucap Ice santai, duduk di sisi tempat tidur, menatap wajah adik sepupunya itu dari pantulan cermin dengan dahi berkerut.
Orm memutar matanya malas. "Itu namanya tata krama."
"Aku tidak perlu bertata krama saat bersamamu," Ice mengendikkan bahunya.
Orm menghembuskan napas, merasa terganggu. Sepertinya hari-hari damainya telah berakhir. Di dalam hati, dia merindukan kembali kehidupan sunyi di Izu—menghabiskan waktu dengan membaca buku, latihan violin, atau sekadar duduk menatap aliran Sungai Katsura. Setidaknya di sana, tidak ada orang yang seenaknya masuk kamar dan membuatnya kesal.
"Bibi dan Ibu sudah memasak jamuan khusus untuk menyambut kepulanganmu. Kalau sudah selesai, ayo turun ke bawah,"
"Aku tidak selera makan," ucap Orm menggeleng pelan. Tangannya terulur meraih sisir, mulai merapikan rambutnya yang masih basah.
Ice menghela napas panjang, lalu bangkit. Dengan sekali gerakan, dia menarik sisir dari tangan Orm. Gadis yang lebih muda itu sempat hendak protes, tetapi bibirnya tertahan ketika Ice mulai menyisirkan rambutnya dengan penuh perhatian.
"Aku mengerti bahwa kau sedang sedih," ucap Ice dengan suara yang jauh lebih lembut. "Tapi kau harus tetap bertanggung jawab pada tubuhmu sendiri. Kau ingat kan, tadi Lingling menitipkanmu padaku?"
"Itu artinya kau harus menuruti semua perkataanku,"
"Gila ya?" kesal Orm melotot tajam.
Ice terkekeh, tidak terpengaruh. "Aku tidak akan menyuruhmu makan kodok atau melompat dari gunung. Aku hanya perlu memastikan kau hidup selayaknya manusia normal selama bersamaku di rumah ini. Apa yang harus kukatakan pada Lingling kalau kau sampai jatuh sakit? Dia pasti akan membunuhku."
"Kakak sudah berjanji tidak akan bercanda seperti itu lagi,"
"Ah! Maaf... kebiasaan hehehe," Ice menepuk keningnya sendiri sambil tertawa kecil.
Hening sejenak. Hanya suara sisir yang merambat lembut di antara helai rambut basah Orm yang terdengar.
"Pokoknya, kau harus jaga diri sampai Lingling datang dan menjemputmu pulang. Kau tidak mau membuatnya khawatir, kan?"
Orm menunduk, lalu menggeleng pelan. Membuat Lingling khawatir adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan.
"Tetap sehat dan bahagia adalah salah satu cara untuk membantunya," ucap Ice lagi. "Dengan begitu, dia tidak perlu mengkhawatirkan keadaanmu dan bisa melakukan apapun yang sedang dia lakukan dengan tenang. Jadi, anggap saja ini sebagai caramu membantunya. Bagaimana?"
Orm menatap pantulan Ice di cermin, bibirnya perlahan terangkat dalam senyum samar. "Kakak banyak berubah setelah tinggal di Wakayama, ya? Aku rasa bergaul dengan kakek-kakek dan nenek-nenek membuat Kakak jadi bijaksana," ucapnya.
Ice mengangkat dagu, merasa bangga. "I'll take that as a compliment,"
"That is a compliment," Orm menegaskan, kali ini senyumnya lebih tulus.
"Baiklah, kau sudah cantik sekarang. Ayo turun. Mereka sudah menunggu,"
Kedua kakak-beradik itu saling memandang di cermin. Ice menepuk-nepuk bahu adik sepupunya itu, seolah sedang memberitahu bahwa dia akan selalu ada di sisinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
Fiksi PenggemarKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
