30 April 2024
"Kalian bertiga tidak berubah sama sekali. Kalian masih sama seperti dulu,"
Suara Orm menggema di lorong rumah sakit. Dia benar-benar merasa kesal kepada Ice saat ini. Kenapa Ice selalu saja tidak bisa mengendalikan mulutnya? Apakah berpikir sebelum berbicara terasa sangat sulit bagi kakak sepupunya itu?
"Permisi..."
Seorang perawat datang menghampiri mereka dengan canggung, sepertinya dia mendengar perdebatan antara Orm dan Ice tadi. Perawat itu memandang Orm, Ice dan Marissa bergantian lalu bertanya, "Siapa di antara kalian yang bernama Orm?"
Orm cepat-cepat menghapus air matanya, "Saya, Suster. Saya Orm," ucapnya sambil bangkit berdiri.
"Silahkan ikut saya,"
Orm pun mengikuti perawat itu masuk ke dalam ruang rawat Lingling. Di dalam, ada beberapa perawat lain bersama dengan dokter yang bertanggung jawab atas tunangannya itu. Mereka semua menunjukkan wajah lega saat melihat kedatangannya.
"Orm..."
Orm langsung menoleh ke arah tempat tidur, mendapati bahwa selang ventilator yang membantu Lingling bernapas sudah dilepas dan diganti dengan selang oksigen biasa. Lingling mengulurkan tangan kanannya ke arah Orm, meminta gadis itu untuk mendekat.
"Kak Ling," ucap Orm seraya menerima uluran tangan itu, mengengggamnya dengan erat. "Aku di sini, Kak. Aku di sini," ucapnya lembut.
Air mata mengalir perlahan dari sudut mata gadis yang lebih tua. Dia membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu namun mengurungkannya.
Orm perlahan mengelap air mata Lingling dengan punggung tangannya. Orm paham apa yang hendak kekasihnya itu katakan meskipun Lingling tidak mengucapkannya. Sahabat Ice itu pasti hendak bertanya tentang Noon, namun dia belum siap untuk mendengar jawabannya.
Hati Orm terasa pedih melihat Lingling yang tidak berdaya seperti ini. Selama ini, gadis yang lebih tua itu selalu terlihat kuat dan tegar. Namun hari ini, dia sangat rapuh, seperti cangkang yang kosong ditinggal pemiliknya.
"Kondisi Nona Lingling sudah stabil, namun masih harus berhati-hati karena paru-paru kanannya belum beradaptasi sepenuhnya," ucap dokter berdiri di sisi tempat tidur.
"Saya harap Nona bisa mengendalikan perasaan untuk sementara waktu hingga paru-paru yang tersisa bisa bekerja dengan normal. Saya tidak melarang Anda menangis, namun jangan terlalu lama karena bisa membuat Anda merasa sesak," ucap dokter itu sambil menepuk pelan tangan Lingling yang terletak lemas di sisi tubuhnya.
"Kami permisi dulu. Jika ada sesuatu, silahkan tekan tombol biru yang ada di atas tempat tidur," ucapnya mengundurkan diri.
"Terimakasih, Dokter," ucap Orm seraya menunduk sopan.
Setelah dokter dan para perawat pergi, Orm kembali duduk di kursi jaga. Dia mengusap wajah Lingling untuk menghapus jejak air mata yang masih tersisa. "Kakak dengar apa yang dikatakan Dokter tadi, kan? Jangan menangis lagi, hmm?" ucapnya lembut.
"Kakak haus? Mau minum?"
Lingling menggeleng. "Dimana Ice?" tanyanya lirih.
Orm terdiam mendengar pertanyaan dari kekasihnya itu. Setelah sadar dari koma, pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Lingling adalah tentang keberadaan Ice. Tidakkah ada pertanyaan lain yang bisa dia tanyakan? Pertanyaan yang lebih bagus dan berbobot?
Gadis yang lebih muda itu menghela napas, mengusir rasa kesalnya jauh-jauh. "Dia ada di luar. Kakak mau berbicara dengannya? Aku akan memanggilnya," ucap Orm berusaha terdengar lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
FanficKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
