Hilang

1K 151 16
                                        

"Ling..." panggil Ice.

Lingling yang sedang fokus dengan buku-buku yang ada di hadapannya hanya mengangkat alisnya sekilas untuk menjawab panggilan sahabatnya itu.

"Kau tidak ada kelas kemarin?"

"Ada," jawab Lingling singkat.

"Sampai jam berapa?"

"Lima,"

"Setelah itu? Kau ada kerja part-time kan?" tanya Ice lagi, menerima anggukan dari Lingling.

Ice terdiam sejenak. Kepalanya sibuk memikirkan antara cerita Orm kemarin dan jawaban yang baru saja dia terima dari Lingling.

"Kau punya kembaran?"

Lingling mengangkat kepalanya untuk melihat Ice, dahinya berkerut dan matanya penuh dengan penghakiman.

"Kata Orm dia pergi ke toko alat musik bersama mu kemarin. Ku dengar setelah itu kalian pergi makan siang, dan kau bahkan menemaninya latihan," 

"Tapi barusan kau bilang kalau kau ada kelas dan kerja sambilan, bagaimana keduanya bisa terjadi secara bersamaan? Ada dua kemungkinan," ucap Ice sambil mengangkat dua jarinya ke udara. "Pertama, kau punya kembaran. Dan yang kedua, Orm pergi dengan hantu."

Lingling menutup buku yang sedang dia baca lalu menatap Ice dengan lekat. "Aku tidak punya kembaran dan Orm tidak pergi dengan hantu," ucapnya.

Alis Ice seketika berkerut. "Jadi, kau benar-benar pergi dengan Orm kemarin?"

"Iya," 

"Kau tidak masuk kelas?" 

"Aku sudah mempelajari materi yang dibawakan di kelas yang kemarin waktu mengerjakan proyek sebelumnya, jadi aku rasa tidak masalah kalau aku hanya menitip absen," jawab Lingling seraya mengendikkan bahunya.

"Lalu bagaimana dengan kerja paruh waktu mu? Kau bolos?"

"Aku minta izin libur," 

"Kenapa?"

"Aku merasa tidak ini pergi kerja kemarin," jawab Lingling santai. "Apakah kau masih punya pertanyaan lain? Aku mau kembali belajar."

"Uh- hmm," ucap Ice sambil menganggukkan kepalanya.

Ice menatap Lingling yang kembali masuk ke dalam mode serius, membolak-balik lembaran buku yang ada di hadapannya menuju halaman yang terakhir dia baca. 

Ada yang terasa janggal dari jawaban Lingling. Ada sesuatu yang rasanya asing dan tidak pas. Ice lalu menyenggol lengan Faye yang duduk di sebelahnya untuk meminta pendapat, temannya itu juga sedang sibuk berkutat dengan buku hukum pidana Jepang yang tebalnya mencapai 7 inchi.

 "Jangan ganggu aku Ice, aku ada tes besok pagi," ucap Faye tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.

Ice mengerang, kenapa dua sahabatnya ini sangat sibuk malam ini? Padahal sangat jarang mereka bertiga bisa berkumpul bersama seperti ini, tapi sejak mereka duduk di perpustakaan tiga jam yang lalu, Lingling dan Faye hanya sibuk dengan buku mereka masing-masing. 

Calon dokter itu menyandarkan punggung di sandaran kursi perpustakaan yang keras, dia melirik ke arah jam yang menggantung di dinding di hadapannya. Ternyata sudah jam sembilan malam, pantas saja perutnya sudah mulai keroncongan sejak tadi. 

Ice lalu mengambil ponsel dari dalam tas nya, bermaksud untuk memesan makanan secara online. Namun, dahinya seketika berkerut saat melihat ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari ibu dan bibinya. 

"Aku keluar sebentar," ucap Ice seraya bangkit dari duduknya.

Gadis itu kemudian berjalan dengan cepat keluar dari perpustakaan lalu menghubungi nomor ibunya. Hanya satu deringan kemudian, panggilannya langsung diangkat dengan suara khawatir dari sang ibu.

Agent 00KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang