"Kau salah. Aku tidak mendekatimu karena cinta,"
"There's no love in the first place,"
Third Person's POV
Grace terpaku, matanya membesar. Kata-kata Lingling bagai belati yang menusuk udara di antara mereka. Apa yang sedang Lingling pikirkan? Apakah dia sudah gila?
Sebelum Grace sempat mencerna sepenuhnya, sesuatu yang jauh lebih mengejutkan terjadi.
Satu tamparan mendarat di pipi Lingling. Suaranya tajam, memecah keheningan ruangan.
Orm menampar Lingling.
Grace ternganga. Tapi, anehnya, dalam detik berikutnya, dia justru merasakan dirinya berdiri di pihak Orm. Kata-kata Lingling barusan memang sudah kelewatan. Dia memang layak mendapat satu-dua tamparan untuk itu.
"Kakak memilih cara yang paling bodoh untuk mendorongku pergi," ucap Orm sambil terisak. "Apakah menurut Kakak aku akan percaya dengan kata-kata yang Kakak ucapkan sambil menangis?"
Orm meraih wajah tunangannya, mengusap lembut jejak air mata yang mengalir pelan di pipi Lingling. Sentuhan itu membuat Lingling tersentak. Tangannya refleks menyentuh pipi satunya. Dia baru sadar, air matanya jatuh tanpa dia sadari.
Sejak kapan? Bukankah dia sudah mengubur semua perasaannya dalam-dalam? Bukankah dia sudah berlatih untuk tetap tenang, bahkan di saat terburuk? Bukankah dia sudah bersiap untuk hari ini?
"I know you by heart, Lingling Kwong. Kakak tidak akan bisa membohongiku seperti ini," ucap Orm, suaranya semakin lirih dan mengandung luka. Dia memukul dada tunangannya itu dengan kesal.
"Aku yakin Kakak sudah menggali informasi tentang keluarga kami hingga ke akar-akarnya. Dan itu berarti Kakak pasti sudah tau kalau sejak beberapa generasi yang lalu, keluarga kami sudah memutuskan hubungan dengan kelompok yakuza itu,"
Orm menghela napas, matanya menatap Lingling tanpa berkedip sedikitpun. "Lalu apa yang menahan Kakak tetap berada di sisiku selama delapan tahun ini? Kakak tidak membutuhkanku atau Kak Ice lagi, kan? Tidak ada informasi apapun yang bisa kami berikan untuk Kakak. Kami tidak berguna sama sekali di dalam rencana balas dendam Kakak,"
"Tapi lihatlah," Orm mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin emas putih yang melingkar di jari manisnya. "Kakak masih di sini. Bersamaku. Kakak bahkan sudah merencanakan masa depan kita berdua."
"Jadi, jangan bicara omong kosong, Kak Ling. Aku bukan anak SMA yang bisa ditipu dengan berita bodong lagi,"
Kedua netra Orm melembut, namun suaranya tetap tegas. "Aku tidak meminta untuk dilibatkan dalam rencana yang sudah Kakak susun. Aku hanya ingin Kakak membiarkanku berada di sisi Kakak sampai ini semua selesai."
Orm menunduk sebentar, seolah sedang mencari kata-kata yang tepat. "Aku sadar diri, aku tidak punya kekuatan apapun untuk membantu Kakak. Tapi aku ingin Kakak tau kalau aku bersedia menjadi tempat Kakak pulang. Whenever you think this world is too cruel and harsh, come to me and take some rest first,"
Orm menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dalam hatinya. Dia kemudian mengulurkan kedua tangannya, meraih tangan Lingling dan menggenggamnya erat. Pandangannya melembut, bertemu dengan kedua netra Lingling yang tergenang air mata.
"Baiklah. Aku setuju pulang ke rumah Ayah dan Ibu untuk sementara," ucap Orm hampir berbisik. Jauh di dalam relung hatinya terdengar berbagai bentuk protes, namun dia mengabaikan semuanya.
"Tapi berjanjilah untuk datang mengunjungiku kalau Kakak punya waktu kosong, hmm?"
"Aku akan menunggu Kakak, mau itu jam 3 pagi sekalipun, aku akan membukakan pintu untuk Kakak," Orm memaksakan diri untuk tersenyum, namun air mata mengkhianati dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
FanfictionKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
