Ombak

653 128 9
                                        

Malam hari, setelah menghabiskan satu hari penuh mengelilingi laut di Dogashima dengan kapal, Lingling dan yang lainnya memutuskan untuk beristirahat di vila. Tubuh mereka terasa sangat lelah dan kehabisan tenaga.

Orm, Ice dan Nene yang paling bersemangat dan paling banyak bergerak langsung tertidur setelah duduk di sofa. Sementara Grace pergi mengembalikan kapal yang mereka sewa kepada pemiliknya.

"Aku akan memasak makan malam," ucap Lingling setelah menyelimuti Orm dengan selimut.

"Aku akan membantu Kakak," ucap Bam seraya bangkit berdiri.

"Tidak apa-apa, Bam. Kau juga beristirahatlah bersama yang lainnya,"

Bam menggeleng, "Kakak juga pasti sangat lelah saat ini. Aku memang tidak terlalu bisa memasak, tapi biarkan aku membantu Kakak. Akan lebih cepat selesai kalau dikerjakan berdua, kan?"

Jujur saja Lingling memang merasa sangat kelelahan saat ini. Sudah lama sejak terakhir kali dia melakukan aktivitas fisik yang berat. Di tambah lagi dengan kondisi paru-parunya, Lingling jadi semakin cepat merasa lelah.

"Baiklah," ucapnya tersenyum. "Mohon bantuannya, Bam."

Mereka pun menuju dapur, meninggalkan ruang tamu yang kini dipenuhi suara napas tenang mereka yang tertidur.

Lingling tahu Bam tidak jauh berbeda dengan Orm dan Ice—anak tunggal yang tumbuh dalam kasih sayang penuh dari keluarganya. Apalagi Lingling juga tahu betul bagaimana ayah Bam memperlakukannya seperti seorang tuan putri. Gadis itu mungkin jarang, atau bahkan tidak pernah, turun ke dapur untuk memasak.

"Apakah kau bisa mengupas bawang putih?" tanya Lingling.

"Bisa, Kak," ucap Bam mengangguk.

Gadis yang lebih muda itu mengambil salah satu pisau lalu mulai mengupas bawang putih dengan cekatan. Lingling, yang sedikit khawatir dengan keselamatan juniornya itu, memperhatikan dengan seksama.

"Kau hebat juga," puji Lingling saat melihat hasil kupasan Bam.

Bam tersenyum, sedikit bangga. "Benarkah?"

"Iya. Caramu memegang pisau terlihat seperti profesional,"

Bam tertawa kecil. "Profesional dalam mengupas bawang?"

"Kalau Orm melihat ini, dia pasti berkata bahwa kau berbakat," ucap Lingling. "Dia ahli melihat bakat terpendam orang lain."

Kedua gadis itu tertawa. Suasana di dapur terasa sangat ringan dan bersahabat. Bam bisa merasakan bahwa Lingling sudah mulai bisa bersikap santai di dekatnya. Dan dia merasa sangat bersyukur atas hal itu.

"Aku sempat belajar memasak waktu masih kuliah dulu," ucap Bam membuka topik pembicaraan.

"Benarkah?" tanya Lingling merasa tertarik.

"Iya. Aku mau membuat bekal untuk Kakak," ucap Bam sambil mengiris bawang yang sudah dia kupas.

Lingling mengerjapkan mata, lalu tersenyum kecil. "Oh ya?"

Bam hanya menggumam pelan, seolah memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya. Fokusnya kembali tertuju pada bawang dan pisau di tangannya. Setelah beberapa detik, dia tertawa kecil.

"Tapi masakanku tidak enak. Tidak beracun, tapi rasanya bisa membuat Kakak masuk IGD," ucapnya.

Lingling tersenyum, tangannya sibuk membersihkan ikan dan udang di wastafel. "Aku pernah masuk IGD setelah makan bekal dari Orm."

"Benarkah?" kaget Bam, menoleh ke arah Lingling dengan dahi berkerut.

Lingling tertawa, meletakkan udang-udang yang sudah selesai dia bersihkan ke dalam sebuah mangkuk. "Dia menaruh terlalu banyak bubuk cabai dan lada ke dalam nasi goreng buatannya. Rasanya pedas sekali sampai lidahku mati rasa," ucapnya kembali mengenang hari yang tragis itu.

Agent 00KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang