"Aku akan membantu teman-temanmu mencari Freen,"
Grace mengangkat wajahnya, menatap Lingling dengan bingung. "Apa maksudmu? Bagaimana caranya kau akan membantu mereka sementara kau ada di sini?"
Lingling tersenyum tipis, tatapannya berubah tenang. "Jangan terlalu banyak tanya. Cepat ambil kapalmu, aku akan mengambil peralatan ku dulu."
"Kapal? Untuk ap-"
"Bawa aku ke gua yang tadi," potong Lingling cepat. Suaranya terdengar lebih tegas. "Kita tidak punya banyak waktu. Pastikan kau sudah siap saat aku kembali."
Tanpa menunggu respon Grace, Lingling langsung berlari ke vila. Kakinya menghentak butiran pasir pantai, angin laut mengibarkan rambut panjangnya yang terurai.
Begitulah, beberapa menit kemudian, kedua kakak-beradik itu melaju di atas perahu motor tipe Marex 310, menuju salah satu gua laut di kawasan Dogashima.
Langit malam gelap gulita, hanya ada beberapa bintang redup yang malu-malu menunjukkan dirinya. Ombak menggoyang ringan kapal kecil mereka, menciptakan suara gemuruh pelan yang kontras dengan suasana tegang di antara kedua gadis itu.
Grace memegang kemudi, sesekali melirik ke arah Lingling yang berdiri diam di sebelahnya. Gadis itu menatap lurus ke laut, seolah pikirannya jauh menembus gelapnya malam.
"Sebenarnya apa yang akan kau lakukan?" tanya Grace.
Lingling menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Melacak keberadaan Freen."
Grace menoleh cepat. "Bagaimana caranya?"
"Kau ingat kenapa aku memintamu membawa kami ke gua itu?" tanya Lingling, menerima anggukan dari adiknya.
"Kau bilang tentang jaringan tower atau apalah itu, aku tidak mengerti,"
"Benar. Saat ini ada dua kemungkinan yang mungkin terjadi kepada Freen. Pertama, dia diculik. Kedua, dia pergi atas keinginannya sendiri,"
"Yang manapun di antara keduanya, kita harus memastikan keberadaan dan keamanannya. Yang paling penting saat ini adalah menemukan di mana Freen berada agar teman-temanmu bisa memantaunya lagi,"
"Lalu apa hubungannya dengan gua?" tanya Grace.
"Gua yang kita datangi tadi masih dalam jangkauan salah satu tower jaringan di Kota Hamamatsu. Itu berarti aku bisa menggunakan jaringan itu sebagai jalur aman untuk mengakses sistem keamanan milik Kepolisian Prefektur Shizuoka," jawab Lingling.
"Pertama-taman, aku akan mencari data pribadi Freen yang terdaftar di dalam database pegawai negeri Jepang. Dari sana aku bisa mendapatkan nama lengkap, tanggal lahir, nomor ponsel, dan emailnya."
"Setelah itu, dengan menggunkan nomor ponsel, aku akan menyusup ke jaringan operator seluler Jepang untuk mencari tahu tower jaringan terakhir yang terhubung dengan ponselnya. Jika ponselnya masih menyala, kita bisa menemukan lokasi terakhirnya secara real-time,"
"Bagaimana kalau ponselnya mati?" tanya Grace lagi.
"Kalau ponselnya mati atau dalam mode pesawat, aku akan mencoba metode lain," ucap Lingling santai. "Aku bisa menggunakan SIM swap untuk menyamar sebagai Freen dan mengakses data selulernya dari jarak jauh. Itu akan melewati proses yang rumit dan berbahaya karena berhubungan dengan operator. Tapi dalam situasi saat ini, cara ini layak untuk dicoba sebagai pilihan terakhir."
Lingling berhenti sejenak. Angin laut menerpa wajahnya lembut.
"Aku juga berencana menjalankan AI pengenal wajah yang kubangun saat masih di Departemen Forensik Digital. Semua pegawai negeri di Osaka ada dalam database, jadi aku bisa memindai CCTV lalu lintas dan melihat apakah Freen tertangkap kamera sebelum menghilang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
FanfictionKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
