Liburan(8)

877 142 29
                                        

Orm berjalan linglung menuju kamarnya. Pembicaraan dengan Ice memenuhi kepalanya. Kenapa dia baru mengetahui hal sepenting ini sekarang? Kenapa ibu dan ayahnya tidak menceritakan apapun sejak awal?

Bagaimana dia harus menghadapi Lingling setelah mengetahui semua fakta ini?

Orm mengetuk pintu beberapa kali sebelum membukanya. Udara di dalam kamar terasa lebih hangat dibandingkan ruang tamu yang baru saja dilewatinya. Cahaya lembut rembulan dari jendela yang setengah terbuka membentuk pola samar di lantai kayu.

Lingling sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon, suaranya lembut dan terasa penuh kasih sayang. Punggungnya tegak, tetapi bahunya tampak rileks. Saat melihat Orm masuk, gadis yang lebih tua itu menoleh dan tersenyum kecil, menganggukkan kepalanya sekilas.

"Siapa?" tanya Orm berbisik, takut menganggu obrolan tunangannya.

"Mama," jawab Lingling tanpa suara.

Orm mengangguk dan melangkah masuk. Dia duduk di tepi tempat tidur, matanya mengikuti Lingling yang berjalan menuju jendela, menarik gagangnya, lalu membiarkan angin malam yang sejuk mengalir masuk.

"Iya, Ma..." suara Lingling terdengar lebih lembut dibanding sebelumnya.

"Aku baik-baik saja, Ma. Aku sudah tidak sesak lagi. Kemarin kan Mama yang menemaniku latihan berjalan di rumah sakit. Aku bisa sembuh dengan cepat karena Mama ada bersamaku,"

Orm menyandarkan tangannya ke tempat tidur, mendengarkan percakapan itu tanpa bersuara.

"Sudah, Ma. Tadi Ice memberikannya kepadaku. Aku sudah meminumnya setelah sarapan tadi. Aku juga sudah memasang alarm agar tidak lupa minum ginseng pemberian Mama sebelum tidur,"

Lingling melirik ke arah Orm sekilas, tersenyum ketika menyadari gadis itu diam-diam memperhatikan. 

"Mama sehat? Akhir-akhir ini pasti sangat panas ya di Osaka?"

"Mama harus banyak minum air putih dan makan buah. Apakah ada sesuatu yang Mama butuhkan? Aku akan mengirimkannya ke rumah,"

Orm tersenyum melihat interaksi antara tunangannya dan ibunya. Mereka berdua selalu berbincang dengan penuh cinta. Ibu Orm menyayangi Lingling seperti anaknya sendiri, dan Lingling menghormatinya dengan sepenuh hati.

Bahkan terkadang Orm merasa cemburu dengan kedekatan antara Lingling dan ibunya. Berbeda dengannya yang cerewet dan rewel, Lingling yang tenang dan lembut lebih sering berbicara dari hati ke hati dengan Mama Koy.

Di antara semua mantan pacar yang pernah dikenalkan Orm kepada ibunya, hanya Lingling yang diterima dengan tangan terbuka. Dan entah kenapa, hanya kepada Lingling, ibunya bisa berbicara selembut ini.

"Aku belum tau kapan kami akan pulang ke Osaka, Ma. Aku juga tidak bisa menentukan tanggal pastinya. Maafkan aku karena sudah membuat Mama khawatir,"

Lingling menoleh ke arah Orm, menyandarkan bahunya ke jendela. "Mama mau berbicara dengan Orm?" tanyanya. "Dia ada di sini."

"Sebentar, biar aku loudspeaker dulu, Ma."

Lingling menghampiri Orm dan duduk di sebelahnya. Orm langsung mengangkat kepalanya dengan semangat, lalu meraih ponsel Lingling seperti anak kecil yang ingin merebut mainan.

"Halo, Ma!" sapa Orm penuh semangat. "Kenapa Mama hanya menitipkan camilan untuk Kak Lingling? Apakah Mama sudah melupakan aku?" protesnya dalam satu tarikan napas.

"Aduh, berisik sekali. Ling, matikan saja speakernya, Mama mau berbicara denganmu saja,"

Lingling terkekeh kecil, "Orm sangat merindukan Mama. Dia uring-uringan sejak kemarin."

Agent 00KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang