Liburan (7)

763 134 13
                                        

Saat mereka tiba di vila, semua orang sudah berkumpul di meja makan. Aroma sup hangat dan hidangan laut yang baru matang memenuhi ruangan, menciptakan suasana nyaman setelah udara dingin di luar. 

Orm langsung bangkit dari kursinya begitu melihat Lingling masuk. Dengan ekspresi khawatir, dia mendekat dan mengusap wajah kekasihnya yang tampak pucat.

"Kakak baik-baik saja?" tanyanya lembut.

Lingling mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya ke tangan Orm yang hangat. Napasnya terasa berat, tapi senyum kecil muncul di wajahnya. "Aku lapar."

Orm tersenyum tipis, lalu menarik kursi untuk kekasihnya itu. "Kalau begitu, makanlah yang banyak."

Makan malam pun dimulai dalam suasana yang cukup tenang. Namun, topik pembicaraan segera beralih ke kejadian yang menimpa Faye. Hampir semua orang, kecuali Lingling dan Grace, terlihat antusias ingin tahu lebih banyak tentang kemalangan yang dialami Si Jaksa itu.

"Sebenarnya aku tidak ingat banyak hal tentang kejadian itu," ucap Faye santai sambil mengambil sepotong ikan. "Semuanya terjadi begitu cepat, dan aku sempat kehilangan kesadaran beberapa kali."

Faye meletakkan sumpitnya sejenak, bersandar ke kursi, lalu mulai bercerita. "Malam itu, setelah pulang dari kantor, aku hanya berniat berbaring sebentar. Aku bahkan masih mengenakan jas saat itu. Kemudian ada yang mengetuk pintu."

Faye menghela napas. "Aku memang sedang menunggu paket dari Yoko, jadi aku membukanya tanpa curiga sedikit pun."

"Tapi begitu pintu terbuka..." Faye mengerutkan kening, seolah berusaha mengingat detailnya dengan lebih jelas. "Aku hanya sempat melihat tiga orang berpakaian serba hitam sebelum merasakan sesuatu menyengat paha dan bahuku."

Lingling melirik Faye dari ujung meja, tapi tetap diam.

"Begitu menyadari situasiku berbahaya, aku langsung mencoba melawan. Aku menendang dan memukul sekuat tenaga, tapi tidak lama kemudian semuanya mulai berputar... lalu gelap." Faye menutup ceritanya dengan nada santai, seolah-olah itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.

Ice, yang sejak tadi mendengarkan dengan serius, akhirnya berbicara. "Mereka melakukan injeksi intramuskular, menyuntikkan obat ke dalam otot deltoid di bahu dan vastus lateralis di paha. Mudah dilakukan dan efeknya menyebar dengan cukup cepat. Apalagi mereka menyuntikmu di dua titik sekaligus, itu mempersingkat waktu obatnya bereaksi."

 "Orang-orang yang menculikmu itu cukup berpengalaman."

Faye terkekeh, menyuapkan sepotong ikan ke dalam mulutnya. "Saat aku sadar, kami sudah di dalam hutan. Mereka mencoba untuk menanyaiku banyak hal, tapi mungkin karena pengaruh obat otakku tidak bisa bekerja sama sekali," ucapnya sambil tertawa.

"Berdasarkan pengalamanku sebagai jaksa, aku sudah biasa terlibat dalam proses interogasi bersama kepolisian. Terkadang kami bertanya memutar-mutar untuk menjebak pelaku. Aku tidak menyangka akan ada hari di mana akulah yang duduk di kursi pesakitan,"

Ice tertawa kecil. "Roda kehidupan berputar, Faye."

Sementara itu, Bam, Nene, dan Grace yang sedari tadi mendengarkan hanya bisa merasa heran. Cara Faye dan Ice membicarakan penculikan dan penyiksaan seperti ini—dengan santai, seolah itu hanya kejadian biasa—sungguh di luar nalar.

"Benar juga," ucap Faye, kembali menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya. "Tapi berkat itu, aku bisa tau apa yang berusaha mereka dapatkan dariku."

"Apa itu?" tanya Ice.

"Mereka menginginkan lokasi semua orang yang terlibat dalam kasus penyergapan markas yakuza dua bulan yang lalu," jawab Faye.

Agent 00KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang