Lingling menjalani pengobatan intensif di rumah sakit selama dua bulan, hingga paru-paru kanannya dinyatakan telah beradaptasi sepenuhnya. Awalnya, Dokter Tan memprediksi bahwa akan membutuhkan waktu tiga bulan hingga hal itu terjadi. Namun berkat tekad dan semangat yang kuat dari Kepala Departemen Forensik Digital itu, tubuhnya pulih lebih cepat dari perkiraan.
"Jangan terlalu gugup, aku yakin Kakak bisa melewati persidangannya dengan baik," ucap Orm seraya merapikan dasi Lingling.
Lingling memandang pantulan dirinya di cermin. Hari dia diizinkan keluar dari rumah sakit bersamaan dengan jadwal persidangan nya bersama Dewan Pengawas Internal Kepolisian Osaka. Lingling menjadi satu-satunya orang yang belum memasuki ruang sidang setelah kasus penjualan obat-obatan terlarang yang dilakukan oleh kelompok Yakuza Yamazaki.
Faye, Ice, Bow, Anda sudah melakukannya terlebih dahulu. Bahkan Freen yang sempat dirawat di rumah sakit juga sudah menjalani persidangan beberapa minggu yang lalu.
Faye dipindahkan ke Kantor Kejaksaan Pulau Sado di Prefektur Niigata, sebuah pulau di laut Jepang yang terkenal dengan sejarah pembuangan politiknya, seminggu setelah upacara pemakaman Noon. Pulau itu berada di lokasi yang sangat terpencil dengan akses terbatas, membuat mereka sangat kesulitan berkomunikasi dengan Si Jaksa itu.
Sedangkan Ice dipindahkan ke Tim Forensik Distrik Wakayama yang berjarak sekitar 70 km dari Osaka. Alih-alih merasa kesal karena dipindah tugas selama delapan bulan ke wilayah yang jauh dari kota, kekasih Marissa itu justru senang karena merasa dia bisa bersantai sejenak dari hiruk-pikuk kota yang bising. Apalagi Wakayama memiliki garis pantai yang panjang, Ice merasa dia dikirim ke sana untuk berlibur. Satu-satunya hal yang membuat dia keberatan dengan hukumannya itu adalah karena dia harus berjauhan dengan Marissa, kekasihnya.
"Jangan melamun, Kak. Ini masih pagi," ucap Orm seraya mencubit gemas pipi tunangannya. "Apa yang sedang Kakak pikirkan? Kenapa dahi Kakak berkerut seperti itu, hmm?"
Lingling menggeleng, meraih tangan Orm lalu menyandarkan kepalanya di sana. "Aku hanya sedang memikirkan apa yang sedang Ice lakukan saat ini," ucapnya sambil terkekeh.
"Kak Ice? Dia pasti sedang bersantai sambil menikmati pemandangan alam Wakayama. Kemarin dia baru mengirimkan foto nya sedang berenang di sungai sambil menangkap ikan,"
"Itu bagus untuknya. Dia belum pernah mengambil cuti selama dua tahun ini," ucap Lingling.
Orm mengangguk mengiyakan, lalu memasang atribut terakhir di seragam Lingling. Dia memandang kekasihnya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan tidak ada satu atribut pun yang tertinggal. "Kakak keren sekali," ucapnya tersenyum puas.
"Terimakasih, Orm," ucap Lingling, tersenyum lebar menunjukkan rentetan giginya yang rapi. "Kau benar-benar ingin menemaniku ke sana?" tanyanya dengan wajah ragu.
"Iya, Kak," angguk Orm. "Aku mau menemani Kakak melewati ini semua. Kita berdua bersama-sama menghadapi nya, ya?" ucapnya lembut.
Lingling menghembuskan napas panjang, kedua netranya memandang gadis yang sedang berdiri di hadapannya itu dengan hangat. Apa yang sudah dia lakukan di kehidupan yang sebelumnya hingga dia bisa memiliki Orm di sisinya di kehidupan ini? Lingling yakin dia pasti sudah menyelamatkan ribuan nyawa orang untuk bisa bertemu dengan Orm.
"Kita pergi sekarang?" tanya Lingling.
"Kakak sudah siap?"
"Siap atau tidak aku sudah harus berada di sana sebelum jam sepuluh," jawab Lingling seraya melihat jam yang tergantung di dinding kamar rumah sakit, jarum panjangnya berada di angka sembilan.
"Aku sudah meminta supir ayah untuk menjemput kita ke sini. Dia sudah menunggu di bawah,"
"Tidak bisakah kita pergi dengan motor saja? Aku sudah lama tidak mengendarai motorku," pinta Lingling dengan wajah memelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
FanfictionKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
