"Katakanlah kalau ada yang ingin kau katakan," ucap Lingling tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan mereka.
Grace menoleh singkat, lalu memalingkan wajahnya ke jendela. "Aku hanya tidak mengerti kenapa kau memutuskan untuk berpisah dengan Orm," ucapnya dengan datar. "Bukankah berdasarkan rekaman yang kita peroleh dari kamar Kak Ice waktu dia menginap di vila, para yakuza itu tidak akan berani menyentuh Orm karena perjanjian dengan kakek buyut keluarga mereka?"
"Maksudku, dia akan tetap aman meskipun ada bersama kita," Grace mengakhiri protesnya dengan helaan napas panjang.
Lingling tetap diam, tangannya perlahan memutar roda kemudi, membelokkan mobil ke sebuah gang sempit yang gelap dan terasing. Sepanjang dua puluh menit, mereka melaju dalam sunyi, hanya suara mesin mobil dan napas yang mengisi udara.
Grace mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan di dalam gang itu. Tidak ada apapun di sisi kiri dan kanannya selain tembok kusam dengan grafiti-grafiti aneh memenuhi tiap jengkal permukaannya. Mereka tidak melewati satu rumah pun, apalagi berpapasan dengan orang lain. Ditambah lagi ujung dari gang itu tidak kunjung terlihat.
"Tidak ada jaminan untuk itu," ucap Lingling tiba-tiba, membuat Grace sedikit tersentak. "Siapa yang tau apa yang akan dilakukan para yakuza sialan itu. Jika merasa keberadaan Orm menjadi ancaman, maka mereka akan mengingkari perjanjian itu tanpa ragu."
"Iyasih, tapi-"
"Kau meragukan penilaianku?" potong Lingling tajam, menoleh sekilas untuk melihat wajah adiknya.
Grace menggeleng tanpa berpikir dua kali. "Aku tidak akan pernah meragukan mu," ucapnya tegas.
"Kalau begitu buang semua kekhawatiran tidak penting yang ada di dalam hatimu saat ini. Jangan biarkan perasaan mengacaukan dirimu. Kita tidak sedang bermain-main,"
"Maafkan aku," ucap Grace pelan.
"Tidak perlu minta maaf. Tetap fokus dan jangan ulangi kesalahan ini lagi," ucap Lingling dingin.
Grace menunduk, hatinya terasa berat. Lingling sudah berubah menjadi sosok yang berbeda. Sangat berbeda dari Lingling yang dia kenal selama persembunyian di Izu. Saat ini Grace tidak bisa merasakan emosi apapun dari kakaknya itu, selain amarah.
Kedua netra Lingling tidak lagi tampak hangat dan lembut. Sekarang, setiap kali pandangan mereka bertemu, Grace merasakan bulu kuduknya merinding ketakutan. Mata Lingling mengkilat tajam, dipenuhi kebencian yang membara. Suaranya tidak lagi sarat akan kasih sayang, sekarang terdengar dingin, tajam menusuk, seolah ada belati di setiap kata yang melontar keluar.
Lingling berubah menjadi monster begitu berpisah dengan Orm. Dan Grace tidak menyukai versi Lingling yang ini, meskipun tau mungkin ini adalah wajah Lingling yang asli. Lingling yang hidup dalam dendam. Lingling yang dipenuhi amarah. Lingling yang bertekad membunuh semua orang yang menjadi alasan kematian ibu mereka.
Grace lebih menyukai versi Lingling kekasih Orm. Dia hangat, lembut, penuh perasaan, dan yang paling penting, Lingling yang hidup. Lingling benar-benar menjadi manusia saat bersama dengan Orm. Bukan sekadar seonggok mesin balas dendam, tapi manusia yang benar-benar memiliki kehidupan.
"Kita sudah sampai," ucap Lingling, menarik Grace dari dalam lamunannya.
Gadis yang lebih muda itu mengangkat kepalanya. Dahinya seketika berkerut saat melihat sebuah rumah usang yang tampak telah lama ditinggalkan. Rumput liar tumbuh setinggi bumper mobil, menari-nari tertiup angin yang musim semi yang dingin.
"Kalau sial aku pasti akan bertemu dengan ular setidaknya sekali. Kalau beruntung paling hanya bertemu hantu," gumam Grace dalam hati.
"Ayo turun," ucap Lingling seraya melepaskan sabuk pengamannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
FanfictionKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
