Pulang

1.1K 149 27
                                        

Orm menatap ke arah TV dengan pandangan kosong. Para karakter dalam film tampak sedang membicarakan sesuatu yang serius, bisa terlihat dengan jelas dari raut wajah mereka. Hampir semua karakter yang sedang muncul di layar mengerutkan dahi, beberapa di antaranya terlihat marah dengan rahang yang menegang.

Namun Orm sama sekali tidak memahami apa yang sedang mereka perdebatkan. Sama sekali tidak. Dia hanya mendengar suara-suara yang saling bersahutan, terkadang ada yang hampir berteriak, terkadang hanya sebatas bisikan lirih dari sebuah helaan napas berat.

Dari sampingnya terdengar suara kunyahan yang renyah. Orm tidak perlu menoleh untuk mengetahui bahwa Grace sangat menikmati camilan keripik kentang rasa rumput laut yang ada di dalam toples di pangkuannya. Gadis itu belum berhenti mengunyah sejak film dimulai setengah jam yang lalu.

Orm sempat terpikir untuk pergi ke supermarket dan membeli sekardus keripik kentang itu besok. Mengingat bahwa Grace selalu menghabiskan persediaan mereka setiap kali dia datang berkunjung. Namun pikiran itu hanya melintas sekilas di dalam benaknya, lalu menguap begitu saja tanpa meninggalkan jejak.

Akhir-akhir ini Orm merasa kepalanya sering mengajaknya bermain-main. Berlari-lari di atas benang ingatan—kadang meloncat ke masa lalu, kadang memutar di sekitar ide dan angan, atau yang paling sering, berdiri lama di batas antara kesadaran dan renung.

Renung.

Kata itu terasa tidak asing untuknya. Orm sering kali menemukan dirinya tenggelam dalam permenungan setelah peristiwa istana pasir saat mereka berlibur ke Dogashima. Sudah berapa lama berlalu sejak mereka pergi ke sana?

Adik sepupu Ice itu memusatkan fokusnya, mencari di setiap celah, di setiap kerutan yang ada di otaknya untuk menjawab pertanyaan itu. Rasanya belum terlalu lama. Tapi kenapa dia tidak bisa mengingat tanggalnya dengan jelas?

Apakah hari-hari yang dia lewati berlalu begitu cepat hingga dia kehilangan kemampuan untuk menghitung waktu? Atau memang tidak ada satu pun yang cukup penting, cukup nyata, untuk menandai perjalanan waktunya?

Helaan napas kecil lolos dari bibirnya. "Kita pergi ke Dogashima bulan berapa, Kak?" tanya Orm akhirnya, menyerah pada upaya mengingat-ingat yang tidak kunjung berhasil.

"Dogashima?" Grace balik bertanya, mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang lebih muda itu. "Hmm... kita pergi di awal musim panas tahun lalu. Kalau tidak salah bulan Juli. Kenapa?"

"Tidak. Aku hanya teringat saja," ucap Orm seraya menggeleng pelan.

Benar juga. Kenapa topik tentang Dogashima tiba-tiba muncul di dalam kepalanya? Apa yang sedang dia pikirkan tadi sehingga nama kota itu melintas dan menusuk kesadarannya?

Ah... Istana pasir.

Setiap kali nama Dogashima terlintas, hanya satu hal yang muncul di benaknya: momen saat dia dan Lingling duduk berdampingan, membangun istana pasir di tepi laut. Dan itulah alasan kenapa dia sangat membenci tempat itu.

Tidak—mungkin "benci" bukan kata yang tepat.

Orm tidak membenci Dogashima. Justru sebaliknya—dia mencintai tempat itu. Lautnya yang membentang damai, ombak kecil yang mengulum buih keemasan, pasir hangat yang menyentuh telapak kakinya dengan kelembutan yang menenangkan. Dia masih ingat kerang-kerang kecil yang berserakan indah di sepanjang garis pantai.

Namun ironisnya, suasana yang bisa disetarakan dengan indahnya surga itu harus membekas sebagai luka di dalam ingatan Orm. Dan yang menjadi alasannya sangat sederhana, sebuah istana pasir.

Sebuah istana pasir yang dijadikan Lingling sebagai perumpamaan untuk menggambarkan hubungan mereka. Gadis yang lebih tua itu menyamakan hubungan mereka yang sudah terjalin selama bertahun-tahun dengan sebuah istana pasir, bangunan kecil yang rapuh dan akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu.

Agent 00KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang