Liburan(2)

1K 154 26
                                        

Suasana malam yang biasanya tenang, hari ini dipenuhi dengan obrolan-obrolan yang sedaritadi terus sambung-menyambung tanpa henti. Terkadang terdengar suara kikikan tawa di antara kelima gadis yang sedang duduk sambil menikmati daging panggang yang tersaji di atas meja. Di waktu berikutnya hanya terdengar suara dari salah satu gadis yang sedang berbagi secuil kisah yang pernah terjadi di dalam hidupnya, sementara gadis-gadis yang lain diam mendengarkan dengan seksama.

Di antara kelima gadis itu, ada satu orang yang hanya duduk sebagai pendengar. Dia sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia mengikuti obrolan yang sedang berlangsung, meskipun jauh di dalam hatinya dia tidak benar-benar peduli akan apa yang sedang tejadi di sekitarnya saat ini.

"Jadi, Orm adalah seorang violinist?" tanya Grace, matanya berbinar penuh ketertarikan.

Orm mengangguk pelan. "Iya, Kak," jawabnya sambil tersenyum malu. Sejujurnya, Orm merasa dirinya masih belum layak disebut sebagai seorang violinist. Kemampuannya masih jauh di bawah ayah dan kakeknya yang sudah diakui dunia musik klasik.

"Itu berarti kau sering tampil bersama orkestra-orkestra ya? Kau keren sekali!" ucap Grace seraya mengacungkan kedua jempolnya ke arah Orm. "Sejak kecil aku ingin sekali menonton konser orkestra, tapi sampai sekarang belum kesampaian."

Grace memanyunkan bibirnya, ekspresi kecewa yang tampak polos. Mungkin karena pengaruh alkohol yang mulai menyebar di aliran darahnya, sikapnya yang dingin dan penuh kewaspadaan mulai memudar. Sikap ramahnya yang selama ini terasa palsu dan dibuat-buat, sekarang terasa lebih hangat.

"Apakah Kakak mau menonton konser orkestra kakek ku? Kakek akan mengadakan konser amal untuk sebuah panti asuhan tiga bulan lagi," ucap Orm tersneyum lebar, menunjukkan rentetan giginya yang rapi. "Aku bisa meminta beberapa kursi untuk dikosongkan. Kak Bam dan Kak Nene juga bisa ikut kalau mau."

"Benarkah?" pekik Nene, melonjak bangkit dari kursinya.

"Tentu saja," angguk Orm. "Sebenarnya kakek memintaku untuk menjadi concert master, tapi aku rasa itu tidak memungkinkan untuk saat ini. Aku juga sudah mengumumkan bahwa aku akan mengambil hiatus untuk waktu yang belum ditentukan."

Lingling, yang sedaritadi hanya diam saja, mengalihkan pandangannya ke arah kekasihnya. Dia teringat bahwa Orm juga membatalkan partisipasinya di konser yang diselenggarakan sebulan yang lalu. Konser perdana di aula New Paradise Orchestra, aula yang dibangun atas kerja sama antara orkestra milik kakek Orm dan orkestra Manhattan yang ada di Amerika.

Orm mengundurkan diri dari posisinya sebagai concert master karena tidak ingin meninggalkan Lingling yang dirawat di rumah sakit. Mereka berdua sempat berdebat akan hal itu, Lingling tidak mau dirinya menjadi batu penghalang bagi karir Orm sebagai musisi. Lingling tau bahwa konser itu bisa mengangkat nama Orm dan menjadi jembatan bagi tunangannya itu meraih pengakuan dan popularitas di dunia musik klasik.

Namun Orm memilih untuk tidak pergi.

Orm bersikeras bahwa dia tidak akan meninggalkan Lingling barang selangkah pun. Gadis yang lebih muda itu berkata bahwa dia masih bisa membangun karirnya nanti, setelah Lingling kembali sehat seperti sediakala. Bagi Orm, popularitas tidak sebanding dengan kebersamaannya dengan Lingling di masa-masa pemulihan.

Dan akhirnya, Orm benar-benar tidak ikut dalam konser itu. Dia menghabiskan satu hari penuh bersama Lingling seperti yang sudah dia janjikan.

Lingling's POV

Perasaan ini, perasaan tidak nyaman ini muncul lagi...

Bagaimana aku harus menyebut perasaan ini?

Ini bukan kesedihan.
Aku mengenal dengan baik bagaimana rasa dari kesedihan. Aku hidup berdampingan dengannya seumur hidupku.

Agent 00KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang