Penyamaran

1K 100 24
                                        

"Jangan bergerak atau peluruku akan melubangi kepalamu,"

"Buang senjatamu lalu berlutut,"

Rahang Lingling mengeras. Urat halus di pelipisnya menegang, tapi dia tahu dia tidak punya pilihan lain. Mulut pistol menempel dingin di belakang kepalanya, terlalu dekat untuk bisa dihindari. Dengan gerakan perlahan, dia melepaskan senjatanya, membiarkannya jatuh ke lantai sebelum menendangnya jauh ke samping.

"Aku tahu kau masih menyimpan satu lagi di sakumu," suara di belakangnya terdengar mantap, seolah sudah hafal kebiasaannya.

Senyum tipis menyungging di bibir Lingling. Ketahuan. Dengan berat hati dia merogoh saku, mengeluarkan pistol yang satunya, lalu melemparkannya jauh ke arah berlawanan dari senjata pertama.

"Sudah semua," ucapnya tenang, perlahan berlutut dengan kedua tangan terangkat ke udara tanda menyerah.

Beberapa detik kemudian, tekanan dingin di kepalanya menghilang—pistol itu ditarik menjauh. Itu saja sudah cukup. Dalam sekejap, tubuh Lingling berputar. Siku kerasnya menghantam pergelangan lawan hingga senjatanya terlepas ke lantai. Tangannya segera memelintir lengan si penyusup, menekan titik sendinya dengan kejam.

"Arrghh!" si penyusup meringis, lututnya dipaksa roboh oleh tendangan Lingling.

"Aku mengenal semua suara yang kau gunakan saat menyamar," bisik Lingling dengan senyum sinis, matanya menatap tajam. "Ini bukan cara yang baik untuk menyambutku pulang, Nene."

Gadis yang ada di dalam kukungan Lingling itu terkekeh. "Aku tidak akan pernah bisa menipu Kakak," ucapnya seraya menggeleng, mengakui kekalahannya.

Lingling melepaskan tangan Nene, lalu membantu juniornya itu berdiri. "Mungkin kau akan menyesal karena tidak menarik pelatuknya saat ada kesempatan tadi," bisiknya. "Kau bisa lepas dariku kalau melakukannya."

Nene kembali terkekeh. "Tidak akan seru kalau begitu caranya," balasnya berbisik. "Saat ini kita adalah partner in crime dan aku ada di bawah komando Kakak. Aku tidak mungkin menembak kepala atasanku."

"Keputusan bodoh, tapi aku hargai itu," ucap Lingling tersenyum dingin.

"Terima kasih, Kak," ucap Nene sambil menundukkan kepala singkat, separuh hormat, separuh main-main.

"Ayo ke atas. Ada banyak hal yang harus kubicarakan dengan kalian," ucap Lingling seraya melangkah lebih dulu.

Mereka naik menuju ruang kendali di lantai dua. Begitu sampai, Nene langsung terbahak. Bam terlihat sedang meringkuk di bawah meja, tubuhnya kaku seperti anak anjing yang ditinggalkan induknya.

"Apa yang kau lakukan di situ? Main petak umpet?" goda Nene, suaranya masih bergetar menahan tawa.

Bam bangkit dengan tergesa, wajahnya cemberut. "Aku hanya menuruti perintah Kak Ling," gumamnya, lalu buru-buru duduk di kursinya. "Kenapa kau sudah datang? Bukannya seharusnya kau masih sibuk di markas?"

Nene mengangkat tangan kanannya, meminta jeda karena tawanya belum reda. Setelah mengatur napas, dia melompat santai ke atas meja kerja Bam, duduk dengan sikap seenaknya. Wajah Bam langsung menegang tidak suka, tapi dia menahan diri karena Lingling ada di sana.

"Aku bisa datang dan pergi kapanpun aku mau," ucap Nene seraya mengendikkan bahu. "Aku baru saja diangkat menjadi 若頭補佐 (Wakagashira-Hosa) kemarin," lanjutnya dengan nada bangga.

"Wakagashira-Hosa?" heran Bam. Dia belum pernah mendengar istilah itu sebelumnya.

Lingling menoleh sekilas, suaranya datar namun tegas. "Itu adalah sebutan untuk orang-orang kepercayaan Wakagashira, wakil kepala cabang. Mereka tangan kanan yang mengurus anggota dan bisnis di bawah arahan Wakagashira."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Agent 00KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang