Bohong

628 128 24
                                        

Grace mengatur posisi duduknya untuk yang kesekian kalinya, menimbulkan suara gemersik dari celana jeans yang bergesekan dengan jok kulit bangku belakang mobil Lingling. Belum pernah dalam hidupnya dia merasa segugup dan setidaknyaman ini.

Pemandangan di luar jendela, berkas-berkas jingga dari matahari yang malu-malu muncul di ufuk timur, seolah ingin menghiburnya, memikat hatinya untuk tenang. Tapi justru, udara di dalam mobil terasa terlalu berat, nyaris tidak bisa dihirup. Jika saja bisa, Grace ingin melompat keluar, kabur dari situasi yang mencekik ini.

Grace melirik ke arah kursi pengemudi, menemukan kakaknya sedang menatap lurus ke depan dengan mulut terkatup rapat. Tampak seperti biasa, tenang dan fokus. Namun, di dalam hatinya Grace tau, bahwa bibir yang sedang terkatup rapat itu sedang menahan sangat banyak perasaan saat ini.

Pandangannya kemudian beralih ke arah Orm. Grace harus sedikit bergeser ke kanan agar bisa melihat side-profile gadis yang lebih muda itu dengan lebih jelas. Mata Orm tampak sembab, kelopaknya berat, dan hidungnya memerah. Spontan, Grace menggigit bagian dalam pipinya, perasaan bersalah dan canggung mengaduk dalam perutnya.

"Ekhem..." Grace mencoba menyingkirkan cekatan yang ada di tenggorokannya. "Orm, coba lihat keluar. Sunrise nya indah sekali," ucapnya dengan nada ceria, yang sangat terdengar dibuat-buat.

Namun tidak ada respons.

Orm bahkan tidak bergerak. Hanya diam, membatu, tenggelam dalam keheningannya sendiri. Suara napasnya tidak beraturan, dan kemudian mulai terdengar isakan lirih. Tertahan dan berat.

"Oh, tidak. Jangan menangis lagi," panik Grace dalam hati saat melihat bahu Orm yang naik-turun tidak beraturan.

Dengan cepat, dia merogoh saku jaket dan mengeluarkan sapu tangan, menyodorkannya kepada tunangan Kakaknya itu. "Orm, jangan-"

Kalimatnya terpotong saat matanya bertemu dengan tatapan Lingling di kaca spion tengah. Datar. Tegas. Penuh peringatan.

Grace membeku, lalu pelan-pelan menarik kembali tangannya. Dia bergeser ke samping, menempel ke pintu mobil, seperti sedang mencari perlindungan dari dinginnya suasana yang menggantung.

Dia tahu betul arti tatapan itu.

Jangan terlalu banyak berbicara. Jangan ikut campur. Tutup mulutmu dan diamlah.

Tidak ada kata-kata lagi setelah itu. Tidak ada yang berkata apa pun sepanjang sisa perjalanan menuju Stasiun Osaka. Bahkan suara napas terdengar tertahan di tenggorokan mereka masing-masing. Waktu mengalir dengan senyap, hanya suara-suara dari GPS yang sesekali terdengar memberi arahan.

Mobil berhenti. Lingling mematikan mesin. Jam di pergelangan tangan Grace menunjukkan pukul 12 lewat 13 menit siang saat mereka tiba di parkiran stasiun.

Namun tidak seorang pun bergerak.

Grace ragu apakah dia sudah boleh bicara atau belum, jadi dia hanya diam mematung di tempatnya, menunggu aba-aba dari kakaknya yang belum beranjak sedikitpun.

Lima menit berlalu, namun mereka bertiga masih duduk di posisi masing-masing. Tidak ada yang membuka mulut, namun suasana di dalam mobil terasa semakin mencekat seiring dengan berjalannya waktu.

Grace sudah tidak tahan lagi. Dia harus keluar dari mobil ini secepatnya sebelum kewarasan pergi meninggalkannya. Dia sudah mencari alasan sejak tadi, dan sepertinya toilet akan menjadi alasan yang masuk akal untuk kabur. Namun, belum sempat dia membuka mulut, Orm sudah lebih dulu memecah keheningan.

"Bisakah Kakak memikirkannya sekali lagi?" ucap kekasih Lingling itu dengan suara lirih. "Apakah tidak ada cara lain?"

Grace menoleh cepat.  Meskipun pertanyaan itu tidak tertuju padanya, tapi entah kenapa hatinya terasa pahit saat mendengar suara Orm yang penuh luka.

Agent 00KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang