"Aku merasa bahwa dia masih di sini, Kak. Ada bersama kita."
"Apa maksudmu ada bersama kita? Apa yang sedang kita bahas ini?" tanya Nene yang asyik makan buah.
"Kami sedang membahas misi terakhir Bam. Apa kau sudah mendengarnya?" tanya Lingling.
"Oh! Kami sudah membahas itu tadi di perjalanan ke sini," jawab Nene seraya berusaha mengingat-ingat isi pembicaraannya dengan Bam di dalam mobil. "Pembunuh berantai yang kabur ke Cina, kan? Lalu apa yang membuatmu merasa kalau dia masih ada di Jepang?"
Bam menelan potongan buah yang ada di dalam mulutnya, lalu berkata, "Hanya firasat saja. Jejak terakhirnya terdeteksi di Kyoto, jadi aku merasa aneh sekali dia tiba-tiba sudah ada di Cina di malam harinya."
"Ah, jadi kau bukan sedang mengatakan kalau ada pembunuh di antara kita," kata Nene sambil memutar mata. "Bisa saja dia memang pergi ke Cina, kan?"
"Mungkin saja. Tapi bukankah tidak masuk akal? Kalau dia pergi ke Cina, mestinya dia menuju Osaka, tempat Bandar Udara Internasional Kansai," ucap Bam.
"Bukankah itu terlalu beresiko? Dia masuk di dalam daftar pencarian orang interpol. Kalau aku jadi dia, aku akan menghindari pesawat," ucap Nene.
"Dia bisa memalsukan identitas, kan?" tanya Bam belum menyerah.
"Mungkin dia tidak punya keahlian untuk menyamar?" jawab Nene sambil mengendikkan bahu.
"Baiklah, buatlah dia berpikir sama seperti mu. Kalau begitu, pantai di bagian utara jauh lebih masuk akal dijadikan sebagai jalur pelarian. Dia bisa kabur dengan kapal," Bam mengarahkan argumennya lagi.
"Siapa tau dia mabuk laut?" ucap Nene, sekali lagi mematahkan asumsi Bam.
"Kalau begitu bagaimana caranya dia pergi? Itulah yang membuatku merasa curiga," ucap Bam, berhasil menjebak Nene untuk memperkuat kecurigaannya.
"Dia tidak punya cara untuk kabur kalau pergi ke Kyoto. Ditambah lagi, penjagaan di Kyoto sudah diperkuat tiga kali lipat semenjak kami mendeteksi keberadaannya di sana."
"Berapa lama dia ada di Kyoto?" kali ini Lingling yang bertanya.
"Tiga hari, Kak. Dia tinggal di Kyoto selama tiga hari,"
"Tiga hari? Itu waktu yang cukup untuk menemukan tempat persembunyiannya. Aku yakin dia tidak mungkin berani berkeliaran kemana-mana selama tiga hari itu. Tapi kenapa kalian tidak berhasil menangkapnya?"
"Itulah bagian teranehnya, Kak. Aku hanya diutus sebagai penengah, jadi aku tidak bisa ikut campur dalam penyelidikan. Tugasku hanya memastikan bahwa kerja sama antara kedua tim forensik digital berlangsung dengan baik," ucap Bam menghela napas.
"Aku tidak tau apa alasannya, tapi selama tiga hari itu, proses pelacakannya berjalan dengan sangat lambat. Tim Forensik Pusat beralasan kalau dia berusaha untuk mengintervensi sistem dan menyembunyikan jejaknya,"
"Tapi bukankah itu rasanya aneh? Dua tim forensik digital terbaik di dunia kesulitan untuk menemukan keberadaan satu orang," ucap Bam yang tampak sedikit frustasi.
Lingling dan Nene terdiam. Apa yang dikatakan Bam sangat masuk akal. Apalagi menurut Lingling, yang sudah pernah pergi ke Departemen Forensik San Diego sebelumnya, kemampuan para anggota tim mereka sangat luar biasa.
"Maaf, Kak. Kita jadi membahas misi ku yang sudah berakhir. Aku terbawa suasana," ucap Bam sambil tersenyum canggung.
Lingling menggeleng, "Tidak apa-apa. Aku senang bisa mendengar detail-detail misi yang kalian lakukan. Banyak hal yang bisa kupelajari," ucapnya sambil tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
FanfictionKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
