Suara tawa dari Orm, Bam dan Nene menggema di udara, mengumumkan ke seluruh penjuru betapa menyenangkannya kegiatan yang saat ini sedang mereka lakukan. Deburan ombak dan kicauan burung laut menemani ketiga gadis yang sedang asyik bermain air itu.
Lingling memandang ke arah pantai dari tempatnya berdiri, sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat Orm berlari-lari kecil menghindari serangan air dari Bam dan Nene. Gadis yang lebih muda itu terlihat sangat bahagia saat ini. Dan Lingling bisa memastikan bahwa dia belum pernah melihat Orm tersenyum selebar itu sejak mereka pindah ke Izu.
"Untung kita datang ke sini, kan? Dia terlihat lebih santai sekarang,"
Lingling mengalihkan pandangannya ke arah datangnya suara, mendapati Grace sedang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah kamera di tangannya.
"Ini, kamera yang kau minta," ucap Garce. "Tapi untuk apa? Bukankah kau bisa menggunakan ponsel?"
"Kamera tidak bisa dilacak," ucap Lingling seraya menerima kamera itu dari Grace. "Kualitas foto dan videonya juga lebih bagus."
Grace menggumam sambil mengangguk. Dia berdiri di sebelah kakaknya itu, ikut memperhatikan ke arah pantai.
"Aku menerima pesan dari salah satu temanku yang bertugas menjaga Kak Ice tadi," ucapnya. "Katanya dia pergi ke apartemenmu."
"Iya. Ice pergi ke sana untuk mengambil barang titipan Orm," ucap Lingling, fokusnya diambil alih oleh kamera baru di tangannya.
"Tapi dia pergi tanpa membawa apapun,"
"Hmm..." Lingling menyalakan kameranya, membidik ke arah pantai lalu menekan shutter.
Cekrek!
"Dia juga tidak mengunci pintu," tambah Grace.
"Ya," jawab Lingling acuh, melihat foto yang baru dia ambil dengan dahi berkerut. Ada sesuatu yang terasa kurang dari hasil jepretannya itu.
Grace menoleh, sedikit frustrasi dengan sikap kakaknya yang tampak acuh. "Karena curiga, temanku memutuskan mengecek apartemenmu. Tebak apa yang dia temukan?" tanyanya, berharap kali ini bisa menarik perhatian Lingling.
"Apa?" tanya Lingling, mengarahkan kameranya ke arah pantai sekali lagi. Mata kanannya memejam erat, memberikan seluruh fokus kepada mata kirinya.
Cekrek!
Grace mendengus kesal, dia gagal menarik perhatian Lingling. Ingin rasanya dia merampas kamera itu dari tangan Lingling, tapi dia sadar bahwa dia masih ingin hidup lebih lama di dunia ini.
"Dia menemukan apartemenmu dalam kondisi berantakan. Dan ada seorang anggota yakuza yang sedang bersembunyi di dalam kamarmu," ucap Grace.
"Lalu?"
Lingling masih terlihat santai. Dia kembali mengecek hasil fotonya. Alisnya sedikit terangkat, kepalanya mengangguk memberi pengakuan. "Bagus juga," gumamnya puas.
Grace hampir tersedak udara. "Kakak!" protesnya. "Kita sedang membahas penyusup! Yakuza! Di apartemenmu! Apartemenmu!"
Lingling akhirnya menoleh, dahinya mengerinyit, "Aku tau. Lalu kenapa?"
Grace membuka mulut, mengatupkannya, lalu membukanya sekali lagi, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia seolah kehilangan kata-kata untuk diucapkan. Dia tidak tau harus mengucapkan apa untuk menjawab sikap tidak peduli Lingling.
"Apartemen itu tidak akan pernah menjadi tempatku pulang setelah mereka mengetahui lokasinya. Aku juga tidak menyimpan barang-barang berharga di sana, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
FanficKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
