Keesokan harinya, seperti yang sudah dijanjikan, Grace datang dengan sebuah mobil van hitam tepat jam sembilan pagi. Gadis itu menekan klakson 3 kali sebagai tanda kehadirannya kepada seluruh penghuni vila.
Tidak lama kemudian, terdengar suara gerbang yang terbuka. Orm keluar lebih dulu, membawa dua tas tenteng di tangannya. Grace langsung turun dari kursi pengemudi dan menghampiri kekasih Lingling itu.
"おはよう(Selamat pagi)," sapa Orm bersemangat.
"おはよう," balas Grace. Dia meraih tas dari tangan Orm dan memasukkannya ke dalam bagasi. "Tidurmu nyenyak semalam?"
"Iya, Kak," angguk Orm. "Tapi aku tidak bisa mengingat apapun tentang tadi malam. Kapan aku mulai tertidur?" tanyanya sambil mengekor di belakang Grace.
Grace tertawa kecil. "Entahlah. Kak Lingling yang membawamu ke kamar setelah kau mabuk berat. Mungkin kau tertidur setelah itu."
"Oh... begitu, ya? Dasar aku." ucap Orm tersenyum canggung. "Aku tidak bisa mengingat apapun kalau sudah mabuk."
"Itu biasa terjadi," ucap Grace sambil terkekeh. "Di mana yang lain?" tanyanya seraya melihat ke arah gerbang.
"Kak Lingling sedang mengunci semua jendela dan pintu. Kalau Kak Bam dan Kak Nene masih berkemas, mungkin sebentar lagi mereka keluar," jawab Orm.
"Ah, baiklah," Grace mengangguk paham.
Keheningan mengudara. Kedua gadis itu bersandar di mobil, menunggu tiga gadis lainnya untuk datang. Langit musim panas yang cerah sepertinya akan menemani perjalanan mereka hari ini. Matahari sedang tersenyum, seolah menjanjikan bahwa hari ini akan berlangsung dengan damai dan penuh sukacita.
"Kakak baik sekali mau menjadi tour guide kami," ucap Orm memecah keheningan. "Padahal kita baru saling mengenal beberapa hari, tapi kami sudah membuat Kakak repot."
Grace cepat-cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak, kok. Aku sama sekali tidak merasa keberatan. Aku senang bisa berkenalan dengan kalian," ucapnya sambil tersenyum.
Orm terdiam sebentar sebelum kembali bersuara. "Kakak tau? Aku masih merasa aneh dengan satu hal," ucapnya, mengalihkan pandangannya ke arah Grace. "Selama tujuh tahun aku mengenal Kak Lingling, ini adalah kali pertama aku melihat dia membuka diri kepada seseorang secepat ini."
Grace menatap Orm, mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Kak Lingling adalah orang yang sangat tertutup," lanjut gadis yang lebih muda itu. "Kak Ice, kakak sepupuku, pernah mengatakan kalau mendekati Kak Lingling adalah hal tersulit yang pernah dia lakukan di dalam hidupnya. Dan sebagai informasi, Kak Ice adalah seorang Dokter Forensik di Kepolisian Prefektur Osaka."
Grace tertawa mendengar penuturan Orm itu. Dalam hati, dia bisa memahami kesulitan yang sudah Ice hadapi. Dia memang belum pernah bertemu dengan sahabat Lingling itu, tapi Grace yakin bahwa Ice adalah sosok yang pantang menyerah. Buktinya dia berhasil menjadi teman Lingling.
"Tapi Kakak, yang bahkan tidak melakukan apapun, berhasil masuk ke dalam vila ini di pertemuan pertama kalian. Aku merasa itu sangat luar biasa,"
"Benarkah?" Grace mengerutkan dahi. "Aku tidak merasa ada yang spesial dari itu. Aku bahkan tidak merasa kalau Kak Lingling adalah orang yang sulit didekati. Dia sangat ramah padaku."
"Benar juga... Kenapa begitu ya?" heran Orm, dahinya berkerut, mencoba memikirkan jawaban dari pertanyaannya sendiri.
"Aku rasa kau terlalu banyak berpikir, Orm," ucap Grace sambil tersenyum. "Cobalah untuk lebih rileks. Hari ini kita pergi liburan, ingat?"
Orm terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. "Iya, ya. Aku rasa karena akhir-akhir ini banyak kejadian yang terjadi di sekitarku, aku jadi mencurigai semua hal."
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
FanfictionKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
