"Apa lagi sih?" tanya Jihan marah, saat melihat Vito sedang berdiri di lobby apartemen nya.
"Gue cuma mau minta maaf. Sumpah gue nggak sengaja." jelas Vito, mengekori Jihan.
Jihan berdecak, "Udah deh, Vit, lupain. Mendingan lo pergi, sebelum Tyaga atau Jevan lihat lo."
"Jihan," Vito menarik lengan Jihan, membuat perempuan itu mau tak mau menghadap pada Vito. "Maafin aku."
Jihan berusaha memberontak, "Lepas-"
"Dengerin dulu." Kali ini Vito memegang kedua bahu Jihan, agar perempuan itu berhenti mengelak.
"Maafin aku atas kejadian kemarin."
"Maafin aku karena pergi tanpa bilang."
Jihan yang sedari tadi tidak melihat kearah Vito, jadi menoleh pada laki-laki itu.
"Aku sakit, Han. Saat itu, ada tumor di otak aku." ada jeda dalam ucapan Vito, dan Jihan berusaha mencari kebohongan di matanya.
"Aku nggak sadarkan diri, dan dibawa kerumah sakit. Saat sadar dan agak membaik, aku langsung dirawat di Amerika."
"Saat sehat dan berusaha hubungin kamu lagi, kamu udah pindah rumah, dan nggak ada yang tau kamu pindah kemana."
"Aku cari kamu lewat sosial media, dan aku kirim kamu pesan. Tapi nggak pernah kamu baca. Aku kira, kamu bener-bener marah sama aku Karena pergi tanpa bilang, tapi ternyata setelah aku lihat sekarang, mungkin pesan aku ketumpuk sama pesan fans-fans kamu yang lain ya?" Vito tertawa kecil, namun Jihan tetap diam. Setidaknya, sekarang Jihan tidak memberontak untuk melepaskan diri.
"Aku minta maaf, Han. Tapi asal kamu tahu, aku selalu sayang sam-"
"Cukup!" potong Jihan. "Lo harusnya nggak perlu jelasin apa-apa."
"Gue sama lo, nggak ada hubungan apa-apa. Dulu maupun sekarang, kita bukan apa-apa." uacapan tegas dari Jihan membuat hati Vito sedikit sakit.
"Gue akui dulu gue suka sama lo. Gue sedih dan marah waktu lo pergi tanpa kabar. Tapi lo tau Vit? Kalau seperti yang lo bilang, lo sayang sama gue, lo akan ngomong itu bahkan sebelum lo pergi."
"Lo tau kayak apa gue suka sama lo dulu, tapi apa yang gue dapet? Nggak ada Vit, lo cuma anggep gue bercanda soal perasaan gue ke lo."
Jihan tersenyum sinis, "Gue turut sedih soal penyakit yang lo derita. Tapi cerita itu nggak akan bikin gue luluh. Lo cuma masa lalu buat gue."
Vito menarik nafasnya dalam, "Kasih aku satu kesempatan lagi, Han-"
"Cukup!" kali ini Jevan yang memotong ucapan Vito.
Jevan melepas pegangan tangan Vito pada bahu Jihan, "Jihan udah punya tunangan, jadi jangan pernah lo ganggu dia lagi."
"Atau gue nggak akan segan-segan main kasar sama lo!" ancam Jevan, lalu pergi dari hadapan Vito yang merasa geram.
"Atau gue yang akan cubit lo lagi!" ucap Ruby yang menunjuk tepat di wajah Vito, membuat Vito kaget akan kedatangannya.
Tidak hanya Ruby yang ada disana, tapi juga teman-teman Jihan yang lain.
"Atau gue bakal gigit lo! Grrrr-" ucap Miqdad berlagak seperti anjing.
"Gue juga siap sini kalo berani!" timpal Brea bergaya ala petinju.
Naya menepuk pundak Vito, "Lo balik di saat yang salah, Vit. Mending lo sama gu-"
"Ekhem," deham Jonas, "sama siapa, Nay?"
Naya nyengir kuda, "Sama Gu-gu,, Guru ngaji aja kali ya, Vit. Biar berakhlak dikit."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
BECAK
ChickLitPerkumpulan anak BEM Kocak. Slice of life yang pemeran utamanya Jihan.
