Putus

414 52 6
                                        

Miqdad duduk bersila dilantai ruang utama apartemen Jihan. Ia mengistirahatkan keningnya disisi meja, memandang ke lantai. Matanya memerah dan bengkak.

Di sofa belakang Miqdad, Ruby sedang berswafoto sambil bermain ponselnya. Membuat profile diri di aplikasi Bumble.

Jihan meletakkan dua kaleng soda kemeja sambil menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir.

Bisa-bisanya, Miqdad dan Ruby putus dengan pacar mereka dihari yang sama. Namun memiliki pelampiasan patah hati yang berbeda.

"Kok soda sih, Ji? Gue butuh alkohol!" beberapa kali Miqdad masih mengelap air matanya yang tak henti.

"Iya, gue juga mau beer!" tambah Ruby, masih serius mengisi data diri di aplikasi dating.

"Gue udah nggak nyimpen beer lagi dikulkas. Gue abis sakit, remember?" peringat Jihan. "Mending lo minta ke kamar Tyaga."

"Mager." jawab Ruby dan Miqdad bersamaan. Sepetinya mereka berdua ini Soulmate.

"Lo kenapa putus?" tanya Jihan, kepada mereka berdua.

Miqdad menangis lagi. Memiliki badan sebesar gapura, tetapi berhati Hello Kitty, itulah Miqdad.

"Devon sibuk banget kuliah-kuliah-kuliah. Gue tau di ngejar lulus tahun ini, tapi dia jadi nggak ada waktu buat gue. Jarang chat, jarang telpon, jarang ketemu. Bingung gue, sebenernya gue punya pacar apa enggak." tutur Ruby dengan nada datar. "Gue putusin tadi pagi lewat chat, nomernya langsung gue blokir."

Mendengar cerita Ruby, Miqdad makin menangis.

"Miq, berisik tau! Cewek nggak cuma Rose doang!" omel Ruby.

"Lo gimana sih bisa biasa aja padahal lo yang mutusin. Rose gue yang mutusin tauk! Tapi gue yang nyesel! Huaaaa!!" keluh Miqdad.

Jihan menepuk-nepuk punggung Miqdad, "Kenapa lo putusin?"

Miqdad memandang wajah Jihan, lalu menyeka air mata dan ingus nya. "Gue liat dia ciuman sama cowok, di ruang kesenian pas gue mau jemput dia."

"Hah?!! Yakin lo?!" teriak Ruby.

Miqdad diam, "Ya gue liatnya gitu."

Alis Jihan bertaut, "Maksudnya, lo liat bibir mereka ciuman?"

Laki-laki itu menggigit bibirnya, ragu. "G-gue liat cowok itu nunduk, sejajar sama muka Rose. Gue liat dari punggung si cowok. Tapi kepala mereka miring-miringan, Jiii, pasti ciuman!!"

Jihan dan Ruby saling pandang. Lalu Ruby menepuk kepala Miqdad.

"Pantes lo nyesel! Ternyata lo cuma asal nuduh!"

Yap. Miqdad menangis karena itu. Ia menangis karena memilih untuk mendahulukan emosinya, daripada bertanya lebih dulu kepada Rose.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Miqdad sudah mengirimkan pesan tentang mereka yang putus melalui pesan WhatsApp, dam telah di baca oleh sang kekasih.

Ah, maksudnya, mantan kekasih.

***

BECAKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang