Warning‼️
Chapt3r ini mengandung violence dan unsur ped0filia.
Please skip this chapt3r If you have traumatic and sensitiveness.
——————
12 tahun yang lalu.
Setelah beberapa bulan pernikahan kedua Ayahnya bersama Ibu sambung yang tak pernah Kay harapkan itu, seketika rumah jadi ramai.
Yah, Kay akui itu.
Kay akui Ibu sambungnya ternyata tidak terlalu buruk. Mau mengurus pekerjaan rumah sendirian, bahkan tanpa pamrih urus semua kebutuhan Kay kecil. Mulai dari baju sekolah, bekal sekolah, Ibu sambungnya kerap memperhatikan setiap asupan yang Kay makan demi masa pertumbuhan Kay dan nutrisi yang dibutuhkan. Se-perhatian itu. Jujur, Kay mulai merindukan Ibu nya.
Walaupun Kay berkali-kali minta untuk pisah rumah, tetap saja dia masih butuh sosok seorang Ibu tanpa bisa menolaknya lagi.
Kay tidak butuh Ibu sambung, Kay hanya ingin Ayahnya, atau bahkan sekarang dia tidak lagi butuh keduanya. Semuanya sudah berubah, Kay sadar keluarga lama-nya nggak akan pernah bisa kembali.
Sehari-harinya, Kay tinggal bersama Ayahnya, istri baru Ayahnya, dan satu anak yang dimana itu menjadi adik tiri Kay. Ada dua. Istri baru Ayahnya, nyonya Morìemer punya dua anak perempuan, tapi hanya satu yang ikut dengannya disini, sementara satu anak perempuan tertua ikut mantan suaminya.
Yah, Kay sudah cukup menerima dirinya punya Ibu baru sekaligus seorang adik. Yang dimana hal itu adalah baru untuk dirinya. Biasanya Kay hanya akan sendirian ketika orang tuanya bekerja, tapi kini, dia harus ditempeli oleh sosok anak kecil yang senang sekali mengganggunya. Tak terkecuali lagi makan, ataupun ke toilet.
"Bisakah kau menunggu diluar? Tidak perlu ikut aku kesini, aku ingin buang air besar!"
Sialan pikir Kay. Anak itu selisih delapan tahun dengan Kay. Pendiam tapi cukup rumit. Padahal Kay bisa dibilang cuek, tapi ntah kenapa anak itu selalu menempeli Kay. Kemana Kay pergi, anak itu pasti minta ikut. Bahkan sekarang tidak ada lagi ruang pribadi untuk Kay selain disini—di toilet.
Hal ini cukup digunakan untuk Ayahnya bisa semakin berduaan dengan istri barunya. Kay benci kenyataan itu. Ayahnya dan Ibu sambungnya kerap kali keluar untuk dinner ataupun vacation berdua sementara Kay ditinggal dengan adik kecilnya.
Kay sendiri pun nggak akan kepikiran kalau di umur lima belas tahun ini dia akan mendadak punya adik perempuan.
Lucu, kecil, kurus. Vionna Morìemer nama si cantik. Kay harusnya tidak akan lupa dengan pipi merah muda yang mencuat urat-urat kecil disana—saking putihnya Vionna.
"Apalagi?" kata Kay.
Ekspresi datar nyaris sinis, kedua tangan sidekap dada.
"Kau mau tidur juga dikamar ku?!"
Setelah seharian dihari libur sekolah Kay mengurusi anak ini. Mulai dari makan, sampai antar ke kamar mandi untuk pipis, mandi juga. Entah kenapa anak ini lebih mau diurus oleh Kay ketimbang Ibu kandungnya.
Tanpa diduga sekarang anak itu mengangguk. Dia benar-benar ingin menempeli Kay sepanjang hari bahkan malam, begitu?
"Hahhh... Yang benar saja?" tanya Kay entah ke siapa.
"Ku ulangi sekali lagi. Kau mau ikut tidur dikamarku juga? Apa tidak lelah seharian menempeli ku kemana-mana? Bahkan hari ini aku tidak dapat mengerjakan PR-ku! Kau sangat merepotkanku kalau kau tahu!"
Well, inilah alasan Kay menolak untuk punya adik dulu.
Tapi anak ini terlihat begitu lugu. Dia hanya diam bahkan kakinya belum bergerak sama sekali diperbatasan pintu kamar Kay.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dancing on my body (21+)
General Fiction🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞 🔞⚠️ WARNING! 21+ USE VIOLENCE ⚠️🔞 💦 LGBT LAPAK!!! ⚠️ MENGANDUNG ADEGAN SEX YANG TDK WAJAR DIHARAPKAN KEBIJAKSANAANNYA! @crescentmoon608
