"Apa yang kau lihat dariku?"
"Semuanya... Jadi, tolong jangan bergerak barang se-inci pun."
Vionna kembali menekuk kedua lututnya diatas kursi kayu. Merapatkan selalu kakinya karena merasa malu, dan kedua tangannya yang dibiarkan melemas dikedua sisi dengan tangan kanan memegang setangkai bunga matahari segar.
Sedang disebrang sana, Kay dengan lihai menggoreskan tinta demi tinta ke canvas putih itu. Menaruh seluruh fokus pada objek terindahnya saat ini.
Kay sedang menggambar 'elf tanpa sayap'. Begitu cantik dengan polos-nya.
Kay mulai dari mimik itu setelah sketsa. Sepasang mata yang terlihat tajam namun damai, rahang tegas dan persepsi muka yang sempurna. Wajahnya kecil, imut bibir kecilnya terbuka sedikit dengan menampilkan sedikit gigi kelinci nya. Membuat Kay tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Ternyata inilah sensasi yang ia dapatkan saat menggambar objek yang sering ia rasakan itu. Bibir plum menawan didepan sana terlihat begitu cerah meski di canvas belum Kay beri warna.
Perlahan mata Kay mulai sayu. Degup dadanya begitu kencang kala ia sampai pada bagian helai rambut. Tebal dan sangat mempesona terurai natural bahkan beberap anak rambut menutupi sebagian wajah.
Kay suka. Hampir ia lepaskan canvas itu ketika berulang kali Vionna membuyarkan keinginannya untuk melukis. Kay tidak ingin melukis dicanvas, Kay ingin melukisi tubuh polos didepannya itu sekarang juga.
Sampai pada perpotongan leher, bahu, lalu melanjutkan sedikit dua belahan daging yang tertutup dengkul kaki jenjang. Kaki panjangnya begitu kurus dan mulus, Kay hampir hilang kendali lagi-lagi. Kaki itu seperti memberikan degup yang sama dengan bibir plum si karakter.
"A-apa sudah selesai?"
"Buka kakimu!"
"H-hah?"
"Aku merubah lukisanku. Jadi, sekarang buka kakimu!"
"K-kay... Aku naked."
"Mau tahu judul lukisanku? 'Natural Fairy' so you must show me naturality of your body, almost full of your body."
Vionna merunduk. Tapi tidak ada lagi alasan dirinya membantah. Toh Kay tidak akan menyebarkan lukisan ini jika dia benar-benar melukisnya, ini akan menjadi lukisan paling rahasia untuk Kay dan dirinya.
Perlahan she spread her legs.
"Hahhhh...." tubuh keduanya meremang. Tatapan kotor Kay sangat jelas dari sini. Vionna melengos dengan sedikit menggigit bibirnya.
Tanpa Vionna tau, Kay melukis dicanvas baru.
"Taruh bunga mataharinya disebelah pahamu! Dan silahkan tutupi area yang menurutmu sensitif. Setelah itu, kau tidak boleh bergerak sama sekali."
Bodohnya, Vionna malah menutupi buah dadanya. Saat ia baru sadar dan akan menutupi area paling sensitif dibawah sana berdampingan dengan kelopak bunga mataharinya, Kay langsung melarangnya.
"Stop! Such a nice pose... Ku bilang tidak boleh bergerak se-inci pun!"
Sungguh pose memalukan!
Posisi kaki terlentang begitu saja membiarkan inti dari tubuhnya terlihat bahkan dilukis, bunga matahari dengan kelopak seolah menemani posisi inti kelamin polos itu disebelahnya persis. Dan dua tangan Vionna yang berada dimasing-masing puting. Kepala yang melengos ke kanan dengan bibir sedikit digigitnya. Kay merasa mendadak ruang lukisnya sangat membawa hawa panas.
Indah sekali. "So... the elf is horny now."
Tidak ada bagian tubuh yang tidak realita dilukis Kay. Ini benar-benar sama dengan apa yang ia lihat. Sungguh Kay ingin sekali menyudahi ini, namun sebisa mungkin jika sudah memegang canvas dan kuas, Kay harus profesional.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dancing on my body (21+)
Fiksi Umum🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞 🔞⚠️ WARNING! 21+ USE VIOLENCE ⚠️🔞 💦 LGBT LAPAK!!! ⚠️ MENGANDUNG ADEGAN SEX YANG TDK WAJAR DIHARAPKAN KEBIJAKSANAANNYA! @crescentmoon608
