61

418 9 4
                                        

Udah tiga tahun ya gue proses nulis book ini? (bertanya dengan emot nangis)

Selamat menikmati!

Vote!

.
.

____________________________

"Kan!"

Seseorang gadis muda meneriaki adik kecilnya.

"Berdiri disana dan jangan mendekat!"

Serpihan beling dimana-mana. Mug besar yang tidak sengaja tersikut telah membuat keributan dipagi hari. Nyaring sekali bunyinya saat terhempas ke lantai.

"Astaga! Katnaya, Vionna.... Menjauh! Serpihan beling itu bisa melukai kaki kalian,"

Nyonya Morìemer datang. Beliau lebih tahu apa yang harus dilakukan untuk mengamankan serpihan mug yang pecah berserakan itu.

Bersamaan Nyonya Morìemer pergi untuk mengambil sapu rumah dan dustpan. Kay membantu. Ia mengambil mug yang bagian pecahannya masih besar dengan tangan kosong untuk ia masukkan ke dalam kresek kosong. Tanpa aba-aba, adik kecilnya datang lagi. Ia ikut memunguti pecahan mug itu dengan tangan kosong sama seperti Kay. Tetapi niat baik membantu kakaknya tidak berjalan mulus, tangan Vionna berdarah akibat beling yang ia pungut menancap disalah satu jari tangannya.

"Kan!!!"

Ia berteriak lagi.

"What is wrong with you?!"

Katnaya hanya bocah 15 tahun yang sedang belajar arti kata sabar. Pun diuji oleh adik tirinya yang berumur 7 tahun.

Nyonya Morìemer semakin bergegas takut dua putrinya itu bertengkar.

"Katnaya, jangan berteriak, sayang.."

"Vionna berdarah, Bu!" ucap Kay sambil memegangi jari telunjuk Vionna yang terluka.

"Tangan kakak juga berdarah!"

Seketika Kay menoleh pada adik kecilnya itu, lalu berujung melihati jari telunjuknya sendiri yang sudah digenggam juga oleh jari kecil Vionna.

"Astaga.... Kalian ini~"

Kay dan Vionna berjongkok memegangi jari telunjuk satu sama lain, berdarah dijari telunjuk kanan yang sama dengan posisi yang hampir sama seperti bocah kembar beda usia.

"Pergi ambil P3k, Katnaya! Bawa adikmu ke ruang depan dan duduk disana tunggu sampai Ibu datang untuk mengobati luka kalian."

Katnaya berdiri, Vionna juga. Kemudian mereka pergi dari dapur menyerahkan pecahan mug itu kepada Ibu mereka.

"Jangan nangis!" Tegur si kakak sambil menggandeng tangan manis adik kecilnya.

Sampai di ruang depan dan duduk disofa, Kay berkonsentrasi menekan-nekan jari telunjuk Vionna yang semakin mengeluarkan banyak darah. Kay harus mengeluarkan serpihan beling itu dulu dari jari tangan Vionna.

"Sakit kan'? Hati-hati lain kali. Kalau mau ambil sesuatu didapur bilang sama kakak aja!" Ya, mug itu tersikut karena Vionna mengambil sepotong roti yang berada ditengah meja makan saat mereka sarapan berdua tadi.

Vionna meringis kesakitan. Matanya sudah berair tapi ia enggan menangis karena takut diteriaki kakaknya lagi.

Setelah serpihan belingnya Kay keluarkan, Kay mulai mengobati jari telunjuk adik kecilnya dengan jari yang sama berdarahnya. Tapi adiknya lebih penting bagi Kay.

Memberi antiseptik setetes mampu membuat adiknya berteriak pun akhirnya menangis. Kay tetap memegangi jari telunjuk itu, lalu ia memberikan plester agar lukanya rapat kembali.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 27 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dancing on my body (21+)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang