Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Special Part 1

5.2K 61 1
                                        

Langit Seattle sore itu berwarna jingga lembut, menyelimuti danau di ujung jalan dengan bayangan panjang pepohonan maple yang mulai memerah dan berguguran. Angin musim gugur berhembus lembut, membawa aroma hujan tipis yang sebelumnya jatuh di jalan. Dari balik jendela apartemen lantai sepuluh, Adhara menatap ke luar, tersenyum tipis, menikmati pemandangan yang sudah mulai terasa seperti rumah.

Sudah tiga tahun ini Adhara menjalani hidup di Seattle, mengikuti langkah suaminya yang memutuskan untuk kembali bekerja di perusahaan lamanya, namun kali ini memegang posisi di cabang baru, di Kota Seattle. Keputusan yang cukup berat bagi Adhara karena harus berpisah jauh dari Sintia dan untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Walaupun beberapa kali mereka masih sering saling mengunjungi, namun hidup sebagai seorang istri dan ibu sekaligus tanpa bimbingan ibu nya tetap menjadi tantangan tersendiri bagi Adhara. 

Bagaimana beratnya menjaga keluarga dan mengurus anak, sudah Adhara rasakan sendiri saat ini. Kehidupan yang Adhara jalani sekarang, membuatnya semakin bangga pada Sintia. Sosok ibu yang sempat mengurus nya sendirian dalam waktu yang cukup lama. Adhara yang masih mendapatkan perhatian penuh dari Ian saja tak jarang masih mengeluh dan kewalahan dengan semua ini, rasanya Adhara tak akan sanggup menjalani kehidupan seperti apa yang dijalani oleh ibunya itu. 

Alan, anak kecil mereka, sedang asyik menyusun balok warna-warni di lantai ruang tengah, tertawa riang. "Lihat Ma! Ini menara tertinggi di dunia!" serunya bangga.

Adhara tersenyum, menunduk, memeriksa keseimbangan balok terakhir yang Alan letakkan. "Hati-hati ya, jangan sampai jatuh menaranya," katanya sambil menepuk bahu kecil Alan. Tawa bocah itu membuatnya merasa hangat hingga ke dada. Meski hari-hari mereka sederhana, momen-momen kecil seperti ini selalu berhasil menenangkan pikirannya.

Ian baru pulang dari kantornya, melepaskan dasi dan menggantung jas kerja di dekat sofa. Wajahnya tampak lelah, tapi ada senyum tipis yang terselip ketika melihat Alan tertawa dan Adhara tersenyum hangat. Ia duduk di lantai, mendekat ke menara balok itu. "Hmm... papa bisa membuatnya jauh lebih tinggi," godanya sambil menepuk punggung Alan.

Alan tertawa lepas, "Pa, lihat! Aku bisa berdiri di atas balok terakhirnya!" Ian pura-pura menahan napas dan Alan tertawa lebih keras. Adhara ikut tertawa, mengamati dua orang yang paling ia cintai itu.

Malam harinya, setelah Alan tidur, Ian dan Adhara duduk di balkon apartemen, menikmati lampu-lampu kota yang mulai menyala, memantul di permukaan danau. Angin dingin menusuk pipi mereka, tapi justru terasa menyegarkan.

"Kamu nggak nyangka ya... akhirnya kita bisa sampau sejauh ini, kita punya Alan yang bisa main dengan bebas, dan kita... hidup lebih tenang?" kata Adhara pelan.

Ian menggenggam tangan Adhara, menatap matanya. "Aku selalu nyangka kita bisa bahagia, tapi nggak pernah semulus ini. Rasanya seperti mimpi yang jadi nyata."

Memang waktu sudah berlalu cukup lama, kehidupan keluarga mereka pun rasanya baik-baik saja. Semua sesuai dengan porsinya. Namun terkadang, perasaan itu datang dengan sendirinya, membawa mereka pada tiap kenangan-kenangan kecil yang terasa jauh di masa itu.

Adhara tersenyum, menarik napas panjang. "Iya... walaupun kadang aku masih kepikiran masa lalu, dan masih gak nyangka akan semuanya, tapi... lihat Alan. Semua itu terbayar sudah."

Kehidupan sehari-hari mereka sederhana tapi penuh warna. Pagi hari biasanya dimulai dengan Alan yang bangun lebih dulu, berlari ke kamar orang tuanya sambil membawa boneka favoritnya. Ian menyiapkan sarapan, sambil bercanda dengan Alan, dan Adhara duduk di meja makan dengan laptopnya, mengatur proyek-proyek freelance yang sedang ia kerjakan. Proyek itu bervariasi, mulai dari menulis konten sosial, memberi konsultasi ringan untuk komunitas lokal, hingga membantu penyusunan laporan proyek untuk NGO kecil di kota. Fleksibilitas pekerjaan itu membuat Adhara bisa tetap dekat dengan Alan, sekaligus tetap produktif dan berguna.

Siang hari biasanya Alan pergi ke playgroup lokal, belajar sambil bermain. Ian sibuk di kantor, sementara Adhara bekerja dari rumah, menyesuaikan jadwal dengan kebutuhan proyek. Kadang ia merasa lelah, tapi melihat Alan tersenyum riang selalu membuatnya merasa segar kembali. Bahkan saat menghadapi deadline, Adhara selalu menyisakan waktu untuk Alan, karena ia tahu kebahagiaan keluarga adalah hal paling penting.

Sore hari menjadi waktu favorit mereka. Alan kembali dari playgroup, membawa cerita-cerita kecil tentang teman-temannya yang terkadang beberapa kata dari anak itu juga masih belum cukup jelas, tapi itu lucu. Ian dan Adhara menyimaknya, sesekali tertawa bersama, dan tak jarang harus berpikir dulu apa maksud ucapan anak mereka.

Terkadang mereka juga menyiapkan makan malam bersama, Alan membantu mengambil piring, walau harus Adhara pilihkan yang paling ringan, atau sekadar bermain dengan Max, anjing peliharaan yang selalu setia mengikuti langkahnya.

Kadang mereka duduk di ruang tamu, Ian membaca berita ekonomi dan teknologi, sementara Adhara mencatat ide-ide baru untuk proyek freelance-nya. Terkadang brolan suami istri itu ringan saja, seperti siapa yang akan menemani Alan belajar naik sepeda minggu depan, atau film yang akan mereka tonton di malam hari. Kehidupan sederhana itu terasa damai, namun penuh warna, karena setiap detik mereka habiskan bersama selalu berarti.

Meski hidup di Seattle terasa tenang, Adhara tak bisa sepenuhnya menyingkirkan pikiran masa lalu. Ia terkadang merenung, mengingat bagaimana hidupnya berubah drastis sejak hamil di tengah kuliah, perjuangan menikah dan tetap mempertahankan keluarga orangtuanya, bahkan sampai akhirnya memutuskan pindah jauh dari Indonesia atau bahkan Canberra.

Banyak hal yang Adhara lepaskan, banyak mimpi yang harus ditunda. Cita-cita dan beasiswa yang ia perjuangkan susah payah, hilang, lenyap begitu saja. Tapi melihat Alan, melihat Ian yang selalu ada, dan melihat kehidupannya sekarang, Adhara juga merasa bersyukur. Hidup tidak selalu sempurna, tapi setidaknya kini lebih nyata, dan bahkan lebih bermakna.

Ian sendiri kadang merenung, memikirkan bagaimana semuanya berjalan. Ia tahu hidup mereka tidak sederhana di awal, bisa dikatakan cukup berat. Restu keluarga, pertentangan dari banyak pihak, bahkan harus kembali pada tekanan pekerjaan yang sudah sempat ia tinggalkan, dan harus pindah ke negara baru, serta tanggung jawab sebagai suami dan ayah baru. Semuanya adalah jalan hidup yang tidak pernah disangka, namun nyata adanya.

Melihat Adhara dan Alan, semua beban yang kadang berat di pundak Ian bisa seketika itu juga terasa ringan. Ia selalu menyadari bahwa cinta mereka bukan hanya soal perasaan, tapi juga tentang kesabaran, kompromi, dan kemampuan saling mendukung. Setidaknya itu adalah harapan dan pegangan dalam keluarga kecil yang mereka dapatkan dengan tidak mudah.

"Gimana pekerjaan kamu?"

"Seperti biasa, kadang hal-hal terjadi diluar rencana, tapi mau bagaimana lagi, itu tugas aku dan sudah seharusnya aku selesaikan," jelas Ian menjawab pertanyaan Adhara.

"so, maaf ya sayang kalau belakangan aku sering pulang telat."

"it's okay bang, adhara ngerti banget tuntutan pekerjaan pasti gak mudah. tapi, Abang gak lupa kan udah janji mau bawa adhara sama Alan ke Indonesia akhir bulan ini?"

Ian mengambil tangan Adhara, mengangkatnya ke udara dan kemudian mengecup jari jemari istrinya itu, "selalu ingat, sayang."

"Adhara udah kangen banget sama mama, sama papa juga. pengen dipeluk mama," ucap Adhara, sedikit sedih dengan perasaan rindu yang tak terbendung itu.

"Kan setiap hari juga dipeluk sama aku," Ian menarik Adhara dan membawa wanita itu dalam dekapannya.

"Ya beda dong bang. Lagipula Adhara juga mau Alan lebih kenal sama kakek nenek nya, Daddy juga bilang bakal ke Indonesia kalau kita pulang nanti."

"Iya sayang, akhir bulan ini ya. sedikit lagi juga proyek aku selesai, dan aku bisa ambil cuti cukup lama setelahnya, untuk kamu dan anak kita."

Dan malam itu, Seattle terasa damai. Jalanan basah memantulkan lampu kota, suara angin dan dedaunan menjadi irama yang menenangkan. Alan yang tadi sempat terbangun kini tertidur di pangkuan Adhara, Ian memeluk mereka dari belakang, sementara hati mereka semua penuh rasa syukur. Sebuah keluarga kecil yang bahagia, yang meski berasal dari kisah rumit dan luka masa lalu, akhirnya menemukan ruang untuk bernapas, tertawa, dan hidup bersama.

Brother [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang