Pesawat itu mendarat mulus di landasan Soekarno–Hatta siang hari yang panas dan lembap, jauh berbeda dari udara Seattle yang dingin dan bersih. Begitu pintu kabin terbuka, udara tropis langsung menyergap—hangat, padat, dan terasa asing untuk sesaat bagi Alan yang menggenggam tangan ibunya erat-erat.
“Ma… panas…” gumam Alan pelan, mengerutkan hidungnya.
Adhara tersenyum sambil mengusap kepala anaknya. “Iya, nak. Emang begini Indonesia. Negara mama dan papa.” Ucap Adhara tertawa singkat.
Ian berjalan di samping mereka sambil membawa koper. Kemejanya sedikit basah oleh keringat, tapi wajahnya justru terlihat tenang, seperti seseorang yang akhirnya kembali ke tempat yang lama ia tinggalkan.
Di area kedatangan, suasana langsung berubah. Suara orang-orang berteriak memanggil keluarga, koper beradu, dan aroma makanan dari gerai kecil di kejauhan bercampur jadi satu. Namun di tengah semua itu, satu sosok berdiri diam.
Namun di tengah semua itu, satu sosok berdiri diam. Di antara keramaian bandara yang terus bergerak tanpa henti, sosok itu seperti berhenti di satu titik waktu yang berbeda.
Sintia disana. Di sebelahnya Brian berdiri santai, tangan dimasukkan ke saku celana, tatapannya tidak banyak berubah sejak mereka terakhir kali bertemu di Seattle.
Adhara yang pertama kali benar-benar berhenti melangkah. Bukan karena kaget, tapi karena ada rasa yang tiba-tiba kembali muncul begitu saja, campuran antara pulang, gugup, dan lega yang anehnya datang bersamaan.
Ian di sampingnya ikut melambat, lalu tanpa sadar menggeser posisi sedikit ke depan, seperti memastikan arah mereka tetap lurus.
“Di sana,” ucapnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Alan yang masih menggenggam tangan Adhara menatap bingung ke depan. Dunia orang dewasa selalu terasa terlalu cepat berubah untuknya.
“Ma… itu siapa?” tanyanya polos.
Adhara menunduk sebentar, lalu mengusap kepala Alan pelan.
“Itu nenek. Alan lupa ya sama nenek." Kalimat itu jatuh sederhana, tapi di dalamnya ada perjalanan panjang yang tidak terlihat.
Langkah mereka akhirnya bergerak lagi, pelan, menembus jarak yang terasa seperti memendek sekaligus memanjang di saat yang sama. Hingga akhirnya tidak ada lagi ruang yang tersisa di antara mereka.
Sintia tidak langsung berbicara. Ia hanya menatap Adhara, lalu Ian, lalu Alan, satu per satu, seperti memastikan bahwa semua orang yang seharusnya ada di sini memang benar-benar kembali.
“Akhirnya sampai,” katanya akhirnya.
Tidak ada nada tinggi. Tidak ada emosi meledak. Hanya suara yang terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu lama belajar menerima banyak hal sendirian. Brian yang pertama lebih dulu menyambut Ian dengan anggukan kecil.
“Capek?” tanyanya singkat.
Ian menghela napas kecil, senyum tipis muncul tanpa sadar.
“Panas, Pa.”
Brian terkekeh pelan. “Itu baru Jakarta.”
Alan yang sedari tadi diam tiba-tiba menarik perhatian semua orang saat ia menatap Sintia lebih lama.
“Ini nenek?”
Sintia tidak langsung menjawab. Ada jeda kecil di antara pertanyaan itu dan responsnya, seperti ia sedang menimbang sesuatu yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata panjang.
“Iya,” jawabnya pelan.
Lalu tangannya bergerak, sedikit ragu di udara, sebelum akhirnya menyentuh kepala Alan. Sentuhan itu ringan, hampir hati-hati, seperti seseorang yang sedang belajar kembali menyentuh bagian hidup yang lama tidak ia pegang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother [END]
RomanceBaca aja sendiri Start : 25 Maret 2023 Finish : 25 Maret 2024 ⚠️⚠️ [Area Brother Sister Complex]
![Brother [END]](https://img.wattpad.com/cover/337685297-64-k474909.jpg)