Jeongyeon bergegas turun, langkahnya tidak stabil. Ruang tamu itu luas dan tanpa aroma lembut Mina yang masih tercium di udara, akhirnya dia berhasil menarik napas dalam-dalam sambil berpegangan pada tangga.
Menutup matanya, dia merasa sedikit lebih baik. Namun saat mencengkeram dadanya, jantungnya masih berdebar kencang seolah akan melompat keluar dari sana.
Hah....
Ini benar-benar di luar kendalinya.
Aroma Mina yang masih tercium sepertinya tetap melekat di bibir dan giginya. Terutama sensasi di giginya bahkan sentuhan sekilas pun masih terasa sangat jelas.
Kenangan itu masih membuatnya tanpa sadar menelan ludah. Dia hanya...benar-benar ingin menggigitnya lagi.
Sial!
Dia menyentuh giginya dengan ujung lidahnya ketika sebuah suara tiba-tiba menggema di dalam pikirannya.
Sentuh dengan ujung lidahmu
Atau sentuh kulit itu dengan bibirmu, pasti akan terasa lebih nyaman.
Uhmm....
"........"
BERHENTI!!!
Jeongyeon menepuk dahinya, menghentikan pikiran mesumnya.
Apa yang sedang dia pikirkan?
Kedua kakinya yang panjang dan lurus terasa sedikit lemah saat ini. Dia merasa sedikit terbantu karena berpegangan pada tangga, jika tidak...dia pasti sudah terjatuh.
Setelah detak jantungnya mulai tenang, dia menatap ke arah lantai dua. Dia masih ingat bagaimana Mina menatapnya. Itu adalah tatapan yang membuat jantungnya berdebar kencang.
Terutama karena barusan....
Jeongyeon merasa tingkah lakunya benar-benar kekanak-kanakan. Tapi saat itu, dia benar-benar berani menggigit Mina.
Hah.
Lupakan saja, dia tidak bisa memikirkannya lagi.
Terlalu banyak berpikir hanya membuatnya ingin membenturkan kepalanya ke lantai.
Mina sepertinya takut Chaeyoung jatuh ke lantai, jadi dia meletakkan bantal disebelahnya untuk menahannya
Saat Jeongyeon mendekat, dia melihat tangan kecil Chaeyoung berada di atas bantal dan sepertinya anak itu sedang bermimpi indah.
Dia mungkin sedang bermimpi makan sesuatu yang lezat. Lihatlah, bagaimana mulutnya terus mengecap dan senyum lembut terukir di bibirnya.
Namun di detik berikutnya, seluruh wajahnya tiba-tiba mendongak ke atas dan tubuh kecilnya hendak berguling ke atas bantal.
Melihat pemandangan itu, Jeongyeon segera menangkapnya dengan cepat dan menghela napas lega.
Jika dia terlambat sedikit saja, anak ini pasti sudah jatuh ke lantai dan menangis karena sakit.
Jeongyeon kemudian mengangkatnya ke dalam pelukannya dan kepala Chaeyoung bersandar di bahunya.
Senyum lembut terukir di bibirnya dan berpikir bahwa memeluk seorang gadis kecil itu sangat menenangkan.
Dia mengelus belakang kepala Chaeyoung dengan lembut lalu membawanya ke lantai atas, dimana Mina sudah menyiapkan tempat tidur untuknya berbaring.
Setelah Jeongyeon membaringkan Chaeyoung di tempat tidur, Mina tiba-tiba menerima telepon dari Suzy dan mereka bicara dengan suara pelan.
Karena takut menggangu tidur Chaeyoung, Mina memberi isyarat pada Jeongyeon untuk menunggu sebentar lalu keluar untuk melanjutkan menelepon.
Mina tidak kembali untuk waktu yang lama. Jeongyeon duduk di tepi tempat tidur sejenak, termenung, bertanya-tanya apakah akan kembali ke kamarnya atau tetap di sini sampai Mina kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
FanfictionJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
