Chapter 64

174 35 6
                                        

Pemakaman orang tua Mina berada di pinggiran kota, searah dengan jalan ke kediaman lama keluarga besar Myoui, sekitar dua jam perjalanan ke sana.

Iklim di daerah pinggiran agak sedikit berbeda dari kota, kelembapannya jelas lebih tinggi dan bahkan ada gerimis tipis.

Mina tidak banyak bicara selama perjalanan, tampak termenung dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Jeongyeon yang memperhatikan itu pun tidak mengganggunya, dia fokus mengemudikan mobil dan mengikuti petunjuk jalan.

Hari ini, Chaeyoung tidak ikut bersama mereka dan akan menyusul bersama yang lainnya nanti siang.

Awalnya Jeongyeon bertanya kenapa Mina tidak membawa Chaeyeong bersama mereka, tapi setelah mendengarkan penjelasannya, dia benar-benar tidak dapat berkata apa-apa.

Di tambah dengan ekspresi datar dan nada santai Mina ketika bicara saat itu, membuat Jeongyeon tidak bisa untuk tidak mengasihaninya

"Jika sesuatu yang buruk terjadi padaku, setidaknya masih ada Chaeyoung yang bisa menggantikanku untuk mengurus semuanya."

Kata-kata itu sungguh menyayat hatinya.

Dia bahkan tidak dapat membayangkan betapa sulitnya perjuangan kakak beradik itu hingga bisa sampai seperti sekarang ini.

Sungguh besar sekali usaha serta dedikasi Mina untuk menjaga dan melindungi Chaeyoung.

Bahkan sampai mengorbankan waktunya dan memaksakan diri untuk bersikap kejam kepada adik satu-satunya itu.

Karena cuaca yang kurang mendukung, Jeongyeon mengemudi dengan lebih hati-hati dan tiba di sana lebih lambat dari perkiraan waktu.

Sesampainya di sana, Jeongyeon keluar lebih dulu, membuka payungnya lalu pergi ke kursi penumpang untuk menunggu Mina keluar.

Dia melirik dari jendela mobil dan melihat Mina mengeluarkan payung lipat dari tasnya, tapi hanya ujungnya yang terlihat.

Berpikir bahwa Mina akan membawa payungnya sendiri, Jeongyeon menjauhkan payung miliknya.

Namun, kemudian Mina hanya meletakkan tasnya di kursi belakang, tanpa mengeluarkan apapun dan keluar dari mobil.

Jeongyeon segera menggeser kembali payungnya untuk melindungi Mina dari gerimis dan bertanya, "Kau tidak memakai payungmu?"

Mina menjawab tanpa mengubah ekspresinya, "Aku tidak membawanya."

"?????"

Jeongyeon mulai ragu apakah dia salah lihat sebelumnya, namun itu hanya insiden kecil yang tidak perlu diperpanjang.

Setelah memasuki pemakaman, masih ada jalan panjang yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Pemakaman itu sangat luas, berisi makam para tetua Myoui dan juga ayah serta ibu Mina.

Mina meletakkan bunga yang dibawanya ke makam kedua orang tuanya, gerimis tipis menambah suasana sunyi namun damai.

Setelah beberapa saat, Mina melirik Jeongyeon yang berdiri agak jauh darinya, seolah sengaja menjaga jarak untuk memberikan privasi.

Mina menundukkan pandangannya, menatap makam ayah dan ibunya dengan mata berkaca-kaca lalu memperkenalkan Jeongyeon dengan suara rendah, "Appa, eomma, itu Jeongyeon, dia...."

Dia berhenti sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu, "Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan status kami sekarang, tapi aku....sangat menyukainya."

Mina tersenyum ketika mulai bercerita, "Banyak hal yang terjadi pada tahun ini dan Jeongyeon termasuk salah satunya. Dia sebenarnya tidak berasal dari dunia ini. Dia datang begitu tiba-tiba ke dalam hidupku dan membuat segalanya terasa menjadi jauh lebih baik."

Where am i?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang