Chapter 67

184 33 9
                                        

Jeongyeon tidak pernah menyangka bahwa Mina benar-benar akan berani melakukan hal seperti itu.

Jika tiba-tiba terpojok di dinding saja sudah memperlambat pikirannya, maka ciuman yang menyebabkannya sangat kesakitan itu, cukup untuk menghancurkan rasionalitasnya.

Ciuman ringan seperti bulu yang dia terima dua kali sebelumnya, bisa dibilang itu hanya sesuatu yang terjadi tanpa adanya emosi lain, tapi sekarang, maknanya sudah jelas berbeda.

Juga, tidak ada yang mencium bibir orang lain tanpa alasan untuk ketiga kalinya, terutama seseorang seperti Mina yang tidak pernah suka melakukan kontak fisik dengan orang-orang.

Ciuman pertama yang dilakukan Mina dengan main-main saja sudah seperti kembang api yang meledak di benaknya, belum lagi yang di pemakaman dan sekarang, dia dicium lagi bahkan juga digigit.

Pikiran Jeongyeon benar-benar seperti akan membara, seolah-olah ada sebuah kejutan kuat di ikuti oleh kekosongan.

Kekosongan yang menyebabkan dia tidak bisa bereaksi terhadap apapun dan tidak dapat memikirkan apapun.

Sentuhan bibir mereka singkat, tetapi bahkan sedetik pun cukup untuk menyulut api di dalam dirinya.

Bukan hanya itu, ada juga rasa sakit yang menyayat hati yang menyusul dan membuat dadanya terasa semakin sesak. Itu bukan karena luka di bibirnya, tapi karena wanita di depannya.

Setiap kali Mina menyentuh bibirnya, dia teringat mata merah itu. Wanita yang biasanya dingin dan tenang tiba-tiba kehilangan kendali seperti ini, dia pasti sangat marah.

Jeongyeon merasakan sakit yang menusuk di hatinya, sikapnya yang menghindar jelas telah melukai Mina.

Rasa perih di awal perlahan memudar dan samar-samar merasakan kelembapan di bibirnya.

Rasa gatal yang berbeda muncul di dalam dirinya, bahkan setelah digigit, dia tetap bereaksi karena itu adalah Mina.

Dia benar-benar tak bisa lagi menahan diri untuk tidak berinteraksi dan menanggapi keintiman ini.

Pikiran kosong Jeongyeon tidak dapat menawarkan solusi yang efektif, dia hanya bisa mengikuti kata hatinya, cemberut, mencoba mengubah gigitan itu menjadi ciuman lembut.

Tapi tepat ketika tangan kanannya yang telah lama kosong mendarat di pinggang lembut itu, orang dipelukannya tiba-tiba menjadi kaku dan kemudian bibirnya kosong.

Mata merah Mina muncul kembali dalam pandangannya dan air mata itu masih ada di sana, membuat Jeongyeon terkejut dan bahkan agak bingung.

Untuk sesaat, dia tidak bisa berbicara, hanya menatap Mina dengan panik dan tidak dapat berpaling.

Mina tidak menyangka bahwa dia akan melampiaskan amarahnya dengan cara seperti ini, cukup berani dan tak tahu malu.

Ketika Jeongyeon dengan sengaja menghindari topik tentang perasaan, dia masih bisa mengabaikannya untuk sementara, namun ketika melihat Jeongyeon pergi begitu terburu-buru setelah menjawab panggilan Sana, dia tidak bisa lagi menahan amarahnya.

Jeongyeon jelas peduli padanya, jadi mengapa dia pergi begitu saja?

Mina marah dan kesal, ingin menghentikannya dan mencari tahu akar masalahnya. Tapi melihat ekspresi tak berdaya Jeongyeon, dia benar-benar kehilangan kendali atas amarahnya.

Dia membencinya!

Mengapa dia begitu tidak mengerti tentang percintaan?

Setelah berbulan-bulan menghabiskan waktu bersama, Mina tidak percaya bahwa orang seperti Jeongyeon tidak akan memahami perasaannya.

Where am i?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang