Mina memilih mundur ketika dia hanya selangkah lagi untuk bertemu dengan orang yang pernah berpengaruh dalam hidupnya sementara Jeongyeon tetap teguh melindunginya dari hujan dingin dan angin yang menerpa.
Pada saat ini, Jeongyeon tidak memikirkan mengapa Mina tiba-tiba menciumnya dan tidak peduli apakah dia hanya dimanfaatkan atau tidak.
Bukan karena dia tidak ingin tahu alasannya, tapi yang ada di kepalanya saat ini hanya melindungi Mina yang sedang tak berdaya.
Untuk pertama kalinya, dia melihat Mina menjadi begitu rapuh dan lemah, hanya berdiri diam seperti boneka porselen yang ringkih. Jadi, dia memilih untuk menerima apapun yang Mina lakukan jika memang itu akan membuatnya tenang.
Ketika langkah kaki itu perlahan menjauh dan menghilang sepenuhnya, Mina akhirnya berani membuka matanya. Dalam cahaya redup, dia dan Jeongyeon betatap muka.
Mina menjilat bibirnya dengan lembut, senyum tipis terukir di bibirnya, tapi matanya masih menyimpan kesedihan yang tak berdasar.
Jeongyeon dengan lembut menepuk kepalanya, merendahkan suaranya untuk membujuknya, "Kau tetap di sini, aku akan mengambil gelangmu, oke?"
"......"
Mina tidak berbicara.
Jeongyeon juga tidak menunggunya membalas, dia hanya melepaskan tangannya lalu membungkuk dan melangkah keluar dari bawah payung.
Hujan perlahan membasahi pakaian dan rambutnya, tapi dia tidak merasa kedinginan dan terus melangkah maju untuk mencari gelang Mina yang ketinggalan.
Payung hitam besar itu menyelimuti Mina yang ramping, seolah menciptakan dunia kecil yang dingin di sekitarnya.
Jeongyeon yang tidak berada di dekatnya merasa khawatir dengan suasana hatinya dan memanggilnya di tengah hujan, "Mina."
Mina bergumam dengan satu suku kata, "Hmmm?"
Jeongyeon yang dikelilingi oleh suara angin dan hujan tidak dapat mendengarnya, tapi dia terus berjalan maju dan berkata, "Berdiri diam di sana dan tunggu aku kembali."
Mina masih tetap diam, berdiri sendirian di bawah payung hitam, mengenakan pakaian hitam, menyatu dengan pemakaman yang sunyi dan khidmat, tampak benar-benar tak bernyawa.
Dia menurunkan kelopak matanya, mengerucutkan bibirnya dengan lembut dan memperhatikan jejak hujan yang berkelok-kelok di lempengan batu abu-abu.
Tubuh Mina perlahan mulai gemetar tak terkendali. Benang-benang yang tak terhitung jumlahnya tampak saling terkait dan tumbuh liar di benaknya, menuju jurang yang lebih dalam.
Rasanya seperti jurang yang tak terukur, jatuh ke dalamnya hanya akan membawa kehancuran total.
Dia ingin menutup matanya, tapi tidak bisa, seolah-olah seseorang memaksanya untuk tetap membuka matanya.
Benang logika diotaknya semakin menegang. Dia belum pernah merasa seperti ini sejak orang tuanya meninggal. Rasanya seperti dia benar-benar akan hancur.
Napas Mina menjadi tegang dan dia tidak lagi dapat menggengam payung dengan erat, menyebabkan payung itu miring dari bahunya, memperlihatkan separuh tubuhnya ke hujan.
Tangannya benar-benar lemas dan payung itu akhirnya jatuh ke tanah, berguling dua kali sebelum berhenti jauh darinya.
Tepat ketika benang dipikirannya hampir putus, Jeongyeon sudah bergegas menghampirinya dan memeluknya erat-erat.
Dia berbisik di telinganya, mencoba memberitahunya bahwa dia ada di sana, "Mina, tidak apa-apa."
Suara lembutnya sampai ke telinga Mina, "Aku di sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
Fiksi PenggemarJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
