Chapter 58

196 37 10
                                        

Jeongyeon duduk diam, menyesap air yang diberikan oleh seorang staf kepadanya. Namun, nyonya Kim sudah mendekat dengan suara sepatu hak tingginya yang terdengar mencekam di telinganya.

Sepatu hak merahnya setinggi sepuluh sentimeter itu di poles hingga mengkilap, sangat cocok dengan dress merah yang dikenakannya.

Dia berjalan dengan tenang, setiap langkahnya bergoyang anggun, seperti bunga teratai yang mekar di sungai, bergoyang tertiup angin.

Tak diragukan lagi, dia sangat cantik, terawat dan sosoknya cocok sekali dengan dressnya saat ini.

Tetapi bagi Jeongyeon, kehadirannya saja sudah terasa menekan. Bahkan sebelum sampai didekatnya, dia merasakan jantungnya berdebar kencang di dadanya, keinginan putus asa untuk melarikan diri berputar-putar di benaknya.

Setiap bunyi "klik-klak" sepatu hak tingginya di lantai marmer, bergema dalam ingatannya, membuat Jeongyeon sudah berkeringat deras.

Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak takut, bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan, dia sekarang sudah dewasa dan pihak lain tidak akan bisa berbuat apapun padanya. Tapi, rasa takut yang mendalam membuatnya gemetar tak kendali.

Tzuyu dapat merasakan ada sesuatu yang salah pada Jeongyeon. Sebagai seorang yang telah bekerja di industri hiburan, mengamati kehidupan dan karakter adalah keterampilan mendasar.

Hampir seketika dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres antara Jeongyeon dan istri investor itu.

Tzuyu langsung berdiri dan berjalan ke sisi Jeongyeon tanpa ragu-ragu, menepuk lengannya, "Sudah selesai menontonnya?"

Jeongyeon tersadar dari lamunannya, menghela napas pelan, tapi mendapati bibinya masih gemetar saat mencoba berbicara.

Itu adalah rasa takut yang tersembunyi jauh dalam jiwanya. Orang bilang bahwa masa kecil yang tidak bahagia membutuhkan waktu seumur hidup untuk sembuh, namun jika itu adalah masa kecil yang penuh kekerasan, mungkin tidak akan pernah sembuh.

Rasa sakit semacam ini sudah tertanam di tulang korban, tidak akan pernah terlupakan dan sesekali akan muncul dari kedalaman ingatan untuk mengganggu, membuatnya merasa putus asa.

Begitulah perasaan Jeongyeon sekarang. Melihat nyonya Kim membuat kakinya gemetar dan dia ingin sekali melarikan diri.

Pemilik asli tubuh ini jelas tidak mampu melepaskan diri dari belenggu nyonya Kim, melayang seperti hantu di dunia gelap yang telah ditenun untuknya.

Dia telah hidup di bawah bayang-bayang nyonya Kim sejak kecil, bagaimana mungkin dia memiliki keberanian untuk melawan?

Sialnya, karena sekarang dia menempati tubuh ini, dia menjadi ikut terpengaruh oleh semuanya.

Untungnya, Tzuyu ada di sana dan rasionalitasnya sedikit kembali, membuatnya tidak terlalu takut lagi.

Jeongyeon menganggukkan kepalanya, menanggapi Tzuyu, "Ya, ayo pergi."

Tzuyu berkata, "Apa kau ingin kembali sekarang? Ini sudah masuk waktu makan siang. Ayo, aku akan mentraktirmu."

Jeongyeon segera menjawab, "Oke, tapi aku yang akan mentraktirmu."

Begitu selesai berbicara, dia mendengar suara seorang wanita, seperti suara di teater berkata, "Apakah kau keberatan jika aku ditambahkan?"

Itu nyonya Kim.

Dia selalu berbicara dengan nada seperti ini dan Jeongyeon bahkan pernah berspekulasi tentang profesinya. Namun, setelah mencari di internet, dia tidak menemukan apapun.

Tuan Kim dari perusahaan Kim Corporate sangat melindungi informasi istrinya, tidak ada informasi tentangnya dimana-mana, bahkan informan Mina juga tidak bisa melacaknya.

Where am i?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang