Mina tidak menyangka Jeongyeon akan membawa sopir bersamanya ketika menjemputnya ke restoran.
Dia ingat Sunmi mengatakan bahwa Jeongyeon pergi sendiri dengan mobilnya pagi-pagi sekali.
Setelah masuk ke dalam mobil, dia memperhatikan Jeongyeon tampak kelelahan dan matanya merah.
"Ada apa denganmu?"
Mata Jeongyeon berkedip tanpa sadar ketika melihatnya dan tampak lebih waspada, "Aku tidak bisa tidur semalam."
"........"
Mina menebak apa yang membuatnya tidak bisa tidur dan seketika merasa bersalah, "Ayo pulang dulu dan kita bisa bicara perlahan nanti."
Ketika mereka sampai di rumah, Mina langsung pergi ke dapur, menuangkan sendiri secangkir air panas dan mengambil handuk hangat untuk menutupi mata Jeongyeon.
Dia melipat handuk itu dan memberikan padanya sambil berkata, "Dulu, aku sering meggunakan cara ini ketika mataku sakit karena bekerja semalaman. Kau bisa mencobanya."
"........"
Jeongyeon berkedip bingung, tapi tidak mengambilnya. Mina berpikir bahwa dia tidak percaya, jadi dia melakukannya sendiri.
Dia mendorong bahu Jeongyeon agar bersandar di sofa dan berkata dengan lembut, "Tutup matamu."
Jeongyeon menuruti degan patuh kemudian merasakan handuk hangat dan lembut yang masih lembab membungkus matanya, perlahan meredakan ketidaknyamanannya.
Tetapi dari semua itu, yang lebih menggugah hatinya adalah aroma harum dan sentuhan lembut di kulitnya.
Dia tiba-tiba menggengam tangan Mina, membuat orang itu terpaksa berhenti dan bertanya dengan bingung, "Tidak nyaman?"
Nyaman, sangat nyaman!
Oleh karena itu, dia ingin mempertahankan kelembutan itu selamanya.
Sudut-sudut mulut Jeongyeon perlahan melebar, handuk masih menutupi matanya, tapi tidak mampu menghentikan hasratnya.
Tangannya yang bertumpu di punggung tangan Mina dengan lembut membelainya, diam-diam menarik benang-benang kasih sayang yang terbentang, menjadi saring yang menyelimuti mereka.
Kekuatan Mina perlahan terkuras, bahkan lupa untuk melawan. Antisipasinya meningkat dalam ketegangan, bibirnya terkatup rapat, menunggu Jeongyeon berbicara.
Namun pihak lain tidak kunjung membuka mulutnya sehingga untuk waktu yang lama, satu-satunya suara di ruang tamu yang sunyi adalah campuran napas mereka.
Handuk masih menutupi mata Jeongyeon dan Mina tidak dapat melihat ekspresinya. Namun, dia bisa merasakan keraguannya untuk berbicara tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Mina tidak marah, tapi merasa sebaliknya. Dia mengamati Jeongyeon lebih cermat, seperti ketika dia mempelajari tokoh penting yang akan melakukan kerja sama dengannya, menelitinya dengan matanya, tidak ingin melewatkan detail apapun.
Jeongyeon merasakan tatapan yang begitu intens tertuju padanya, seolah-olah ada nyala api yang membara, membuatnya mengakhiri keraguannya.
Dia tidak lagi bergelut dengan pikirannya untuk mengaku, tapi lebih mencoba mendapatkan kembali rasionalitasnya yang hilang dalam kelembutan Mina.
Di malam yang sunyi itu, Jeongyeon tahu bahwa jika dia mengucapkan beberapa kata manis, Mina memang akan merespon dengan senang hati, seperti yang dikatakan Tzuyu.
Namun, dia tidak bisa mengaku dan menjebaknya sebelum Mina mengetahui kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi di masa depan. Sekarang, keputusan sepenuhnya harus berada di tangan Mina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
Fiksi PenggemarJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
