Setelah melakukan pertemuan dengan ahli biologi forensik itu, Jeongyeon merasa kelelahan, baik secara fisik maupun mental.
Awalnya dia berencana untuk langsung pulang, namun setelah meninggalkan gedung itu, entah kenapa, dia mulai merasa gelisah dan tidak nyaman.
Tanpa berpikir panjang, dia langsung memutar arah kemudi, mengambil jalur yang menuju ke perusahaan Mina.
Entahlah...
Dia hanya merasa bahwa dia akan jauh lebih aman jika bersamanya.
Jeongyeon mengemudi dengan sangat pelan, pikirannya terbebani, takut mengemudi terlalu cepat dan menyebabkan kecelakaan.
Saat itu....
Mina sedang bersandar di sofa kantornya, meregangkan tubuhnya dan mengambil ponselnya untuk bermain sebentar, memanfaatkan momen istirahat yang langka baginya. Namun, tiba-tiba dia mendengar pintu terbuka.
Klik.
Dia menoleh dan bertemu pandang dengan Jeongyeon, membuatnya terkejut akan kedatangannya yang tiba-tiba.
Mina menaruh ponselnya di meja dan bertanya dengan senyum yang sedikit santai, "Ada apa? Kenapa kau tidak menghubungiku kalau kau akan datang?"
Jeongyeon mengerutkan bibir dan secara naluriah menjawab, "Tidak ada apa-apa."
Tapi suaranya tercekat saat dia menjawab, gemetar di akhir kalimat.
Mina segera mengerutkan kening, berdiri dan berjalan ke arahnya. Jeongyeon mengangkat map berkas, seolah-olah ingin menunjukkan kepadanya.
Ketika dia hendak melangkah untuk mendekatinya, kakinya melemas dan di hampir jatuh. Mina bereaksi cepat, menangkapnya dan kemudian berat badan Jeongyeon menimpanya.
Melihat ada yang tidak beres, Mina melembutkan suaranya dan bertanya, "Apa yang terjadi?"
"Biarkan aku mengatur napas." kata Jeongyeon, mencoba terdengar normal.
"Tenang saja." Mina menghiburnya.
"Jangan terburu-buru."
Dia membantunya duduk di sofa, dimana Jeongyeon langsung meringkuk di sudut, mengambil posisi yang sangat defensif.
Mina menuangkan segelas air hangat untuknya dan berbisik, "Minumlah."
Jari-jari Jeongyeon gemetar saat mengambil gelas itu dan dia harus memegangnya dengan kedua tangannya.
Dia meneguk beberapa tegukan, air menetes di sudut bibirnya yang bahkan tidak dapat dia usap.
Mina bertanya dengan khawatir, "Apakah kau mengemudi ke sini seperti ini?"
Jeongyeon sedikit memejamkan mata, "Aku mengemudi sangat pelan, bisakah kau menungguku untuk mengatur napas?"
"Baiklah." Mina meletakkan cangkir itu dan diam-diam menunggu sampai dia tenang.
Sebelumnya, ketika Jeongyeon berhadapan dengan ahli biologi forensik itu, dia masih merasa baik-baik saja dan semuanya berjalan normal.
Tidak ada kenangan pemilik asli yang muncul dan juga tidak ada perasaan tidak nyaman maupun hal lainnya. Tapi setelah meninggalkan gedung itu, semuanya mulai tak terkendali.
Dalam perjalanan ke perusahaan Mina, dia takut sesuatu terjadi, jadi dia memaksa dirinya untuk berkonsentrasi pada jalan. Baru sekarang, setelah bertemu dengan Mina, ketegangannya perlahan mereda.
Kepalanya tertunduk di antara lututnya dan dia tampak rapuh. Mina duduk disampingnya, mengamati lalu memperhatikan amplop berkas berwarna coklat yang hendak diberikan padanya dan bertanya dengan suara rendah, "Bolehkah aku melihatnya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
Fiksi PenggemarJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
