Keesokan paginya, Jeongyeon sengaja bangun pagi-pagi sekali dan buru-buru pergi ke rumah pemilik asli yang pernah dia kunjungi bersama Tzuyu hanya untuk menghindari bertemu dengan Mina.
Terlepas dari kenangan yang menghantui tentang insiden dibanting ke dinding, dia serius mempertimbangkan langkah selanjutnya.
Setelah semalaman merenungkan banyak hal, dia akhirnya memutuskan untuk mengaku secara resmi pada Mina.
Dia juga ingin memberitahu Mina tentang kekhawatirannya selama ini dan beberapa hal yang telah dia sembunyikan darinya.
Dia tidak tahu apakah Mina masih akan menyukainya dengan tulus setelah mendengar semua itu, tapi menghadapi orang yang sangat mencintainya, dia tidak ingin lagi menyembunyikan apapun.
Secara mental, Jeongyeon mulai berlatih bagaimana cara mengatakannya, tanpa membuat Mina marah.
Dia bahkan telah menyiapkan beberapa skenario tentang bagaimana menangani reaksi Mina yang kuat nantinya atau hilangnya kepercayaan padanya. Sampai-sampai, dia berencana untuk membuat dokumen yang berisikan draft terlebih dahulu.
Sementara itu....
Tzuyu yang diganggu di pagi hari, datang ke rumah itu sambil membawa makanan, beberapa bungkusan yang berisi buah dan cemilan di kedua tangannya.
"Jeongyeon, tempat ini punya bubur daging sapi dan telur yang sangat enak. Saat aku lewat, kebetulan tidak ada antrian, jadi aku buru-buru membelinya dan membawakannya untukmu."
Sebelum dia selesai bicara, dia menyadari Jeongyeon tidak repot-repot menyambutnya dan malah terus membelakanginya.
Mengingat panggilan yang tiba-tiba di pagi hari, Tzuyu mengira bahwa dia bertengkar dengan Mina dan sedang dalam suasana hati yang buruk.
Jadi, dia tidak mengganggunya, hanya menaruh barang belanjaan itu di sana dan membawa bubur itu ke dapur, menatanya di atas meja.
"Cepat kemari, nanti buburnya dingin dan rasanya tidak akan enak lagi."
Jeongyeon berjalan perlahan, kepalanya menunduk tampak lesu. Tzuyu memberinya sendok, "Bukankah hubunganmu dengan Mina sudah membaik akhir-akhir ini? Sekarang, kenapa kalian malah bertengkar lagi?"
"......."
Jeongyeon tidak mendongak maupun menjawab, dia hanya menyesap bubur itu dan mendesis dua kali.
"Sshhh...."
"Ada apa?" suara itu mengejutkan Tzuyu.
Jeongyeon terpaksa mengangkat kepalanya, membuat luka di bibirnya sekarang terlihat jelas.
"Ya tuhan!"
Tzuyu menggigit sendok, menebak-nebak bagaimana Jeongyeon bisa mendapatkan luka itu.
Setelah beberapa saat, dia mendekatinya dengan nakal, "Kalian berdua tiba-tiba jadi seperti ini?"
Matanya penuh dengan gosip dan Jeongyeon menatapnya dengan tajam, "Apakah menurutmu luka ini terlihat seperti sengaja dibuat?"
Mata Tzuyu melebar dan terkejut untuk waktu yang lama sebelum berkata, "Apakah Mina sesadis itu?"
Jeongyeon langsung kehilangan selera makan dan menyingkirkan bubur itu lalu pergi ke dapur untuk memotong apel yang di beli Tzuyu dan memakannya sedikit demi sedikit.
"Jangan bicara omong kosong" meskipun terluka, dia tidak lupa membela Mina.
Melihat tatapan membara Tzuyu yang tertuju padanya, dia tak punya pilihan selain menceritakan kejadian malam itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
Fiksi PenggemarJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
