Keesokan paginya, Mina sengaja memasang alarm agar dia bangun lebih pagi dan membuat sarapan untuk Jeongyeon sebagai ucapan terima kasih.
Tapi ketika turun ke bawah, dia menemukan Jeongyeon sudah berada di dapur dan sedang mengaduk panci dengan wajah serius.
Mina menghela napas, merasa tak berdaya. Lagi-lagi dia kalah cepat dari Jeongyeon, meski begitu dia tetap menggodanya, "Kau bangun pagi sekali, begitu rajin"
"??????"
Jeongyeon terkejut mendengar suara yang tiba-tiba itu lalu menoleh ke belakang dan berkata, "Aku juga baru bangun."
Melihat senyum menggoda masih terukir di bibir Mina, dia menjelaskan dengan lemah, "Baru saja hujan dan udara diluar sangat segar."
Alis Mina sedikit terangkat, merasa tertarik, "Jadi, kau pergi jalan-jalan pagi-pagi sekali?"
Jeongyeon mengangguk, "Ya."
Mina berseru lagi, "Jeongyeon, aku tidak menyangka kau seorang morning person."
"......"
Jeongyeon tidak yakin apakah Mina benar-benar sedang memujinya atau hanya ingin menggodanya.
Dia tidak berkomentar dengan kata-kata itu, hanya berbalik dan lanjut mengaduk panci di atas kompor.
Jeongyeon memasak bubur lagi pagi ini, khawatir Mina akan merasa bosan, jadi dia bertanya padanya, apakah dia merasa tidak enak badan dan ingin makan yang lain.
Mina juga berhenti menggodanya dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja, bahkan dia bermimpi indah semalam.
Dia juga memberitahu Jeongyeon untuk tidak perlu menambahkan makanan lain karena dia mungkin tidak bisa menghabiskannya.
"Kau yakin tidak ingin makan yang lain?" tanya Jeongyeon.
"Ya, bubur saja sudah cukup." tegas Mina.
Jeongyeon memperhatikan wajah Mina dan mengakui bahwa dia memang tampak jauh lebih baik dari pada kemarin, "Kalau begitu, aku akan menambahkan satu telur lagi untukmu."
"???????"
Setelah menghabiskan bubur dan telur rebus ekstranya, Mina beranjak dari meja makan dan hendak kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Namun saat melewati Jeongyeon, dia dengan sengaja menyentuh bahunya dan meremasnya, "Jeongyeon teruslah berolahraga."
"Hah?"
Jeongyeon yang hendak memasukan sesendok bubur ke mulutnya langsung berhenti dan berbalik ingin berkata bahwa dia selalu rutin berolahraga.
Namun, saat itu Mina sudah berbalik dan keluar dari ruang makan, diikuti dengan suara tawanya yang ceria.
Ada apa dengannya?
Jeongyeon merasa seperti mendapat sindiran bertubi-tubi di pagi hari. Namun, ini juga menunjukkan bahwa Mina telah sepenuhnya mengubah suasana hatinya.
Syukurlah.
Jeongyeon akhirnya merasa lega.
Dia sangat mengkhawatirkan Mina hingga tidak bisa tidur dengan nyenyak dan ini juga salah satu alasan dia bangun pagi sekali hari ini.
Untungnya sekarang Mina terlihat baik-baik saja sehingga dia bisa kembali fokus pada aktivitasnya sendiri.
Hari ini, dia berencana bertemu dengan Sana untuk membicarakan bisnis mereka yang diam-diam sudah berjalan selama hampir enam bulan.
Sebelumnya, mereka hanya berkomunikasi lewat e-mail untuk mendiskusikan beberapa hal. Namun hari ini, Jeongyeon ingin bertemu dan bertatap muka langsung dengan Sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
Fiksi PenggemarJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
