Jeongyeon langsung mandi setelah kembali ke kamarnya, kemudian berbaring di atas kasur yang empuk dan nyaman.
Karena kelelahan, Jeongyeon seharusnya langsung tertidur, tapi anehnya dia tidak bisa tidur.
Dia terus memeriksa ponselnya, berharap Mina akan menanyakan sesuatu padanya. Tapi dia menunggu hingga tengah malam tanpa adanya pesan. Masih tidak bisa tidur, dia memutuskan untuk keluar dan minum air.
Dia pergi ke dapur dalam gelap dan menyalakan lampu di atas kompor, cukup terang tanpa terlalu menyilaukan.
Meskipun Mina berada jauh di kamar tidur, Jeongyeon secara naluriah tidak ingin mengganggunya.
Namun, dia baru minum setengah gelas airnya ketika mendengar langkah kaki di lorong. Dia berbalik dan melihat Mina memasuki dapur.
Jeongyeon sedikit tersentak, "Apakah aku membangunkanmu?"
Ekpresi Mina tenang saat dia menuangkan segelas air untuk dirinya sendiri, "Haus."
Dia tampak kembali ke dirinya yang dulu, acuh tak acuh dan dingin, membuat Jeongyeon merinding. Mungkin karena piyamanya agak tipis, bahunya sedikit gemetar.
Meskipun Mina terpisah dari Jeongyeon oleh sebuah kitchen island, dia tidak melewatkan hal ini.
Dia berjalan ke termostat dan menaikkan suhu beberapa derajat, seolah mengingatkannya, "Dapur menjadi lebih dingin di malam hari, jadi ingatlah untuk mengatur suhu sebelum minum air."
Jeongyeon mengangguk lalu menyadari ada sesuatu yang salah. Kemudian, dia menatap Mina, tapi pihak lain masih menatap cangkir di tangannya.
"Aku punya pertanyaan yang perlu ku konfirmasi denganmu."
Ujung jari Mina membuat lingkaran di permukaan batu yang halus, sebuah pertanyaan yang membuatnya terjaga sepanjang malam.
"Pertanyaan apa?" tanya Jeongyeon sambil mempersiapkan diri.
"Kapan kau benar-benar mulai menyukaiku?"
"......"
Pertanyaan ini sedikit membingungkan Jeongyeon. Menyukai seseorang adalah proses perubahan emosi yang halus.
Dia tidak memiliki pengalaman praktis dan tidak ada cara untuk membandingkan, jadi dia hanya bisa mencari petunjuk dalam ingatannya.
Mungkin dia sudah berpikir cukup lama karena suara Mina terdengar sedikit dingin, "Sulit untuk dipikirkan atau sulit untuk dijawab?"
"Bukan keduanya."
Jeongyeon mengakui dengan jujur, "Awalnya aku pikir itu di mulai sejak kita menonton konser Dahyun, tapi setelah kupikir lagi, kurasa seharusnya jauh sebelum itu, tapi jika aku harus bicara tentang perasaan ketertarikan yang naluriah, sepertinya itu terjadi setelah acara ulang tahun ibuku."
Dia juga cukup tak berdaya, "Aku terus menggeser garis waktuku ke belakang dan aku tidak tahu mana yang harus dihitung."
"........"
Mina tidak menyangka jawabannya akan seperti ini, tapi setelah memikirkannya, dia merasakan kehangatan yang manis dihatinya.
Dia masih menundukkan kepalanya, tapi kali ini menyembunyikan lekukan di bibirnya, "Kemarilah."
Jeongyeon berpikir Mina ingin mengajukan pertanyaan lain, jadi dia berjalan mengelilinginya.
Ketika dia sampai di dekatnya, Mina perlahan mendongak. Tatapannya tertuju pada wajah Jeongyeon, akhirnya berhenti pada luka di bibirnya.
Kejadian hari ini tidak seseram kemarin, tapi tetap saja menggetarkan hati Mina. Dia meletakkan cangkirnya, melangkah dua langkah ke depan, hampir menyentuh Jeongyeon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
Fiksi PenggemarJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
