"Selain reputasi keluarga, apa ada syarat tertentu siswa seperti apa yang pantas menjadi bagian dari kalian?"
"Kami mengumpulkan orang-orang dengan prestasi terbanyak, sudah kami katakan sebelumnya," jawaban Acha tidak panjang.
"Seakan orang-orang di sana itu gak punya prestasi yang menggunung itu?"
"Si anjing itu ngomongin kita?" di tempatnya duduk, Gilang bertanya dengan tatapan masih mengarah pada seorang siswa yang mengarahkan telunjuknya pada mereka dengan sedikit berteriak agar suaranya dapat didengar semua orang.
"Blank menjadi bukti kalau mereka mempunyai semua prestasi yang kalian butuhkan. Benu dan Rafael sangat memenuhi kriteria dari segala aspek. Savia? Anna? Gilang, walaupun tidak begitu pintar sehingga tidak memiliki banyak prestasi, tapi mereka punya reputasi keluarga yang sangat bagus. Keluarga Aiden bahkan lebih baik lagi reputasinya. Mendiang Yumna bahkan berasal dari keluarga yang berdiri di bidang pendidikan. Rhea, anak dari pemilik perusahaan media swasta besar. Jangan lupakan Gio yang bahkan nyaris setara dengan Zean dan Acha."
"Sepertinya, kalian tidak tahu apa yang kami sebut dengan reputasi," Kiara menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
Kini Gio mulai mengerti dengan apa yang dilakukan oleh sekumpulan orang-orang menyedihkan itu saat gadis bernama Kiara bersuara.
"Mereka mau membuka semuanya sekaligus," ucapan itu hanya dapat di dengar oleh dirinya sendiri.
"Sebelum mereka dan reputasinya, mari kita bahas beberapa orang yang diberitakan bunuh diri akibat organisasi ini. Ini akan melibatkan kepantasan dalam keanggotaan."
Tampak cahaya proyektor menyala secara tiba-tiba mengarah pada matte white yang memang tersedia diujung. Di sana sebuah pantulan dari laptop tampak jelas bagi semua mata yang menatapnya. Tampak foto delapan orang di layar dengan enam perempuan dan dua laki-laki yang tampak seusia.
Di ruangan sebesar ini, suara bisikan tak lagi terdengar samar. Namun tidak ada yang terdengar jelas karena tertimpa suara bisikan satu sama lain. Kiara kembali menghela nafas, ia menatap keseluruhan anggota yang kini juga menatapnya. Satu pun diantara mereka tidak ada yang berniat untuk menghentikan kicauan para manusia yang berada di dalam ruangan besar itu. Membiarkan mereka terus bertukar kata sepertinya tidak akan masalah.
"Maura Ayu. Adalah anak dari pemilik yayasan Ilmu Nusantara yang dulunya merupakan salah satu yayasan terbesar di Indonesia. Siapa yang tidak tahu Ilmu Nusantara? Dan siapa yang tidak tahu kenapa yayasan itu menghilang dalam sekejap mata beberapa tahun lalu? Korupsi, perdagangan anak, manipulasi media dan ekploitasi dilakukan oleh para petinggi yayasan tersebut. Pada saat yang sama, Maura merupakan bagian dari keanggotaan OSIS Bina Aksara. Benar, dia dikeluarkan karena reputasi keluarganya."
"Tapi itu bukan salahnya!"
Kiara tidak tahu itu suara siapa, tapi terdengar sangat jelas di telinganya. Tatapannya masih fokus menatap layar yang kini menunjukkan foto berkas-berkas kepindahan Maura Ayu di sana.
"Itu sebabnya ada penawaran bantuan dari para orang tua agar ia bisa pindah sekolah ke luar negeri saja, di sekolah yang pastinya tidak kalah bagus," Mada yang melanjutkan.
"Tapi justru ia malah berkhianat dengan mencoba melakukan sabotase pada ujian evaluasi, sehingga bantuan untuk ia sekolah keluar negeri dibatalkan. Maura Ayu tidak pernah dilecehkan, juga tidak pernah melakukan bunuh diri. Kalian pasti menonton beritanya di televisi, dan membaca berita di koran juga" kini layar menampilkan siaran lama televisi mengarah pada berita yang Masa maksudkan.
"Di makanannya, terdapat strawberry yang memicu alergi, dan karena tidak ada lagi pekerja di rumahnya pasca bangkrut keluarga mereka, Maura Ayu terlambat ditemukan. Ia tidak meracuni dirinya sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
OSIS
Historical Fiction"Curang! Mereka curang!" "Pembunuh! Kalian pembunuh!" "Orang-orang sombong itu. Gue bersumpah akan balas kalian semua!" "Berhenti mengatasnamakan dedikasi untuk sekolah! Kalian cuma sekumpulan sampah yang sembunyi di balik organisasi sekolah!" "Kita...
