Dizza melempar ponselnya ke kasur setelah menyetel alarm jam tetengah lima pagi, bunyi jangkrik dan tokek terdengar nyaring di suasana malam, namun mata Dizza belum ada tanda-tanda mengantuk, mungkin karena tadi kelamaan tidur siangnya atau ada sesuatu yang sedang di pikirkannya. Entahlah. Dizza memasangkan headset ke telinganya mendengarkan lagu-lagu di playlist-nya sayup-sayup dengan lagu sendu pengantar tidurnya berharap bisa tidur pulas malam ini.
Baby, this is what you came for....
Lightning strikes every time she moves
And everybody's watching her
But she's looking at you, oh, oh
You, oh, oh..
You, oh oh oh oh........
Nada alarm Calvin Harris Feat Rihanna berdering nyaring membelah suasana subuh di kamar Dizza, tapi si penghuni kamar belum terbangun dari tidurnya, alih-alih membuka selimutnya dia malah merapatkan selimut ke semua bagian tubuhnya.
10 menit, 15 menit, 20 menit terus bergulir tanpa ada kepastian kapan Dizza akan bangun atau sekadar melirik jam wekernya.
Gosh! Jam 6???? Dizza melompat dari tempat tidurnya menyambar handuk dan bergegas ke kamar mandi.
Dilihatnya mama yang sedang di dapur, sibuk menyiapkan sarapan. Dizza melemparkan protes pada wanita lima puluh tahunan itu. "Mama kok nggak bangunin aku?"
"Tadi udah Mama ketok-ketok pintu kamarmu. Mama sampe dua kali balik buat ngecek, kamunya belum bangun, makanya kamarnya jangan dikunci, jadi Mama bisa masuk bangunin kamu, emang kamu gak denger alarm kamu bunyi? Kedengeran lho sampe kamar Mama.''
"Ah, nggak mau! Kalo kamar aku gak di kunci nanti Mama buka-buka diary aku, Mama kan kepo." Dizza mengerucutkan mulutnya sebal, mamanya kadang suka memeriksa semua buku-buku sekolahnya termasuk buku diary.
Mama menghela napas. "Hidup itu pilihan Nak, udah cepetan mandi.. Sebentar lagi kakakmu jemput."
Pagi yang rusuh dan terburu menyambut hari Dizza, dia berlari dari luar gerbang sekolahnya, tak peduli sudah berapa banyak orang yang sudah ditabraknya, tanpa sadar kakinya menginjak kaki seseorang di pelataran tempat parkir sekolah.
''AUUWWW sakitt tau!" ujar seseorang bersuara bariton, sudah pasti anak cowok.
"Eh, maaf nggak sengaja." jawabnya tanpa melihat wajah si orang yang terinjak kakinya. Matanya mengarah pada pintu kelasnya yang masih terbuka. Dizza bersyukur belum ada guru yang masuk ke kelas.
"Hei! Kalo ngomong itu liat muka orangnya! Apalagi kamu abis bikin kesalahan, dasar nggak punya tata krama!"
Dizza mendelik, baru sadar siapa si empunya suara dan gaya bahasa merendahkannya itu. Vatar melipat tangannya didada, menunggu reaksi Dizza yang sepertinya marah padanya. Senyum miringnya menyeringai angkuh. Dizza terpaksa mendongakkan kepalanya lebih ke atas, Vatar tinggi banget.
"Mau kamu apa, sih? Ngajak ribut mulu! Aku kan udah minta maaf karena injak kaki kamu."
Vatar tersenyum. "Nah gitu dong! Kalo gini kan manis, apa perlu aku yang ngajarin tata krama, hemm?''
Dizza memonyongkan bibirnya dan hendak berlalu pergi tapi dengan sigap Vatar menahan tangannya. Spontan Dizza menepisnya. "Kamu apa-apaan si pegang-pegang?? Jangan macem-macem ya! Nanti aku teriak!"
"Kamu belum ngasih penjelasan tentang buku biologi yang mau aku pinjem kemarin, kamu boong kan kalo dikumpulin? Tadi aku tanya Zahra teman sekelas kamu katanya bukunya nggak dikumpulin, jadi kamu boongkan sama aku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Novela Juvenil[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)