40. Good Bye Singapore

911 197 33
                                        

Saya kasih videonya kalo ada yg nggak tau soundtracknya

Vatar, Kevin, dan Dody segera meninggalkan lokasi mall dan naik MRT menuju Stadium tempat konser berlangsung, hanya butuh waktu lima belas menit untuk tiba di sana. Di luar basah, sepertinya hujan baru saja berhenti, para penonton yang sudah mengantri dari jam sebelas terlihat basah kuyup lalu menyerbu stand penjualan merchandise untuk membeli pakaian.

Vatar mengecek ulang tiket yang berkategori standing, karena jika salah masuk mereka tidak dapat masuk kembali karena tiket tidak bisa re-entry. Setelah tiket di scan, mereka mengambil sebuah wristband dan love pin yang berlaku untuk masing-masing orang. Wristband tersebut akan menyala pada saat konser dimulai.

Tepat pukul tujuh, mereka menikmati performance james kent yang merupakan penyanyi pembuka konser selama satu jam, lalu sesuai jadwal pada pukul delapan Chris Martin dkk mulai memasuki area panggung, suasana riuh seketika saat Chris menyapa penggemarnya yang berada di Singapura.

A head full of dream menjadi lagu pembuka konser, mereka membawakan tujuh belas lagu yang diambil dari album terbaru dan sisanya lagu lama yang masih hits hingga sekarang. Vatar merasa terenyuh saat Chris menyanyikan lagu fix you, mungkin dirinya terlalu meresapi lagu itu yang sedikit banyak hampir mirip dengan perasaannya saat ini.

Lagu up and up menjadi lagu penutup konser, Chris sempat membentangkan bendera Amerika. Lalu berterima kasih kepada penggemarnya yang sudah menonton konser tour mereka. Satu persatu penonton keluar stadium dengan tertib, begitu juga mereka bertiga. Kevin dan Dody sudah terlihat lelah dan mengantuk.

Esok harinya, Kevin dan Dody kesiangan... Begitu juga Vatar, cowok itu masih bergelung dibalik selimut tebalnya. Mereka terbangun karena dikejutkan oleh telepon hotel yang mengingatkan mereka harus check out jam dua siang. Dua orang itu berebut ingin memakai kamar mandi. Mereka harus bergegas, karena jadwal hari ini adalah mencari oleh-oleh.

"Tar? Bangun, Tar... Mandi gih, udah siang nih...." Dody mengguncang-guncang punggung Vatar agar cowok itu segera bangun. Tapi, lima belas menit berselang Vatar tak kunjung bangun. Tidak sabar, Dody mengangkat selimut Vatar lalu mengecek hidung Vatar masih bernapas atau tidak. Masih, tapi napasnya terasa hangat. Dody pindah memeriksa dahinya. Ya ampun, panas banget... Vatar demam!

"Kenapa, Dod? Muka lo kayak nahan mencret..." tanya Kevin asal, ia baru saja selesai mandi hendak menaruh handuknya yang basah di jemuran.

"Vatar sakit, Vin.. Pegang deh, badannya panas banget.." jawab Dody cemas.

Kevin menghampiri Vatar, lalu meletakkan tangannya di dahi cowok yang masih tertidur pulas itu. "Oia, yah kayak gini nggak jadi pergi kita..."

"Pantes aja panas banget, empat puluh derajat celcius..." ucap Dody setelah mencabut termometer dari mulut Vatar, lalu mencari sesuatu ke dalam tas kecil yang ia bawa.

"Lo bawa obat-obatan, Dod?" tanya Kevin, melongok tas kecil Dody yang berisi obat flu, obat migrain, obat sakit gigi, obat rematik, obat nyeri sendi, minyak angin, plester luka, koyo. Dody seperti apotek berjalan.

"Bawalah, ni Vatar harus minum obat dulu." ujarnya sambil memperlihatkan dua tablet berwarna kuning dan orange di telapak tangannya.

"Eh, lo mau kasih obat apaan tuh? Jangan sembarangan! Ntar anak orang semaput baru nyaho ente..." cegah Kevin cemas, ia menahan tangan Dody yang tengah meletakkan obat itu di meja sebelah tempat tidur. Dody memang bercita-cita menjadi dokter, tapi Kevin tidak setuju jika Vatar dijadikan kelinci percobaan oleh Dody.

Rahasia Dizza [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang