Untuk yang belum follow, sebelum bab ini ada dua bab yang sudah di publish yaitu bab no mercy dan plan. Jadi, jangan bingung kalo jalan ceritanya nggak nyambung karena di private..hehe. Bab ini sengaja tidak diprivate sebagai pembatas bab selanjutnya, karena kalo dalam mode private itu sama sekali nggak ada notif update. Saya nggak suka bikin PM di feed kalian. Kayak terkesan nyampah.😝
Vatar merasa suara ayam itu sangat dekat, bahkan ia bisa mendengar ayam itu sedang makan. Ia membuka pintu balkon atas kamar tidurnya, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Memeriksa apakah ada yang memelihara unggas itu di wilayahnya. Kalau ada, besok ia akan melaporkan keluhannya pada Pak RT! Lihat saja besok! Vatar mencari-cari sosok yang dimaksud, tapi tetangganya tidak ada yang memelihara hewan itu. Lalu darimana suara ayam itu berasal?
Vatar menghela napas kecewa. Apakah tadi ia sedang berhalusinasi? Atau sedang bermimpi? Tapi ia yakin sekali tadi itu bunyi kokok ayam yang nyata. Vatar membalikkan tubuhnya dengan kesal, berencana ingin melanjutkan tidurnya. Namun, ayam itu berkokok lagi. Kali ini lebih melengking dari yang tadi. Ia baru teringat, ia tidak memeriksa rumahnya sendiri. Benar saja, ayam itu berada tepat di bawah balkon kamar tidurnya.
Ayam itu diletakkan di kurungan bambu yang cukup besar, dengan santainya ia sedang mengais sisa makanan yang berjatuhan. Tanpa ada rasa bersalah bahwa ia baru saja merusak acara istirahat malamnya. Seperti tahu ia sedang diperhatikan, ayam itu berkokok lagi. Jauh lebih melengking dari yang tadi, dasar ayam pamer! Memang dia pikir rumahnya tempat kontes kokok ayam? Sial betul!
Vatar turun dari kamarnya dengan gusar, siapa yang menitipkan ayam di rumahnya? Atau jangan-jangan ada yang membuang ayam, seperti berita pembuangan bayi yang marak di TV. Ia akan melapor kepada polisi besok. Huff, itu berlebihan. Membuang ayam tidak separah membuang bayi yang dapat dipidanakan. Vatar terkekeh sendiri dalam hatinya memikirkan hal tersebut.
Sepulang les ia belum melihat ada ayam di sini. Lalu siapa yang meletakkannya di sini? Tepat di bawah kamarnya pula. Baiklah, ia akan memindahkannya ke kebun belakang agar suaranya tidak senyaring tadi. Vatar mengangkat kandang itu, berat juga. Pasti ayam itu banyak dosa hingga seberat ini. Vatar bertambah jengkel karena ayam itu malah lari ke sana kemari seperti ketakutan, membuat suara gaduh di keheningan malam. Vatar mengumpat melihat kelakuan ayam kurang ajar itu. Mungkin kalau ayam itu diibaratkan manusia, ia sudah berteriak-teriak tidak mau dipindahkan.
"Mau dikemanakan ayam itu??" tanya Evan sambil menodongkan senapan laras panjang miliknya. Seketika Vatar mengangkat tangan. Ia sampai lupa sedang memegang kandang ayam. Kandang ayam itu jatuh bergulir hingga terbalik membuat penghuninya semakin ketakutan. Vatar tidak peduli. Ia lebih sayang nyawanya daripada ayam itu.
"M-mau dipindahkan ke belakang, Pa..." jawab Vatar terbata-bata, kini giliran dirinya yang ketakutan. Evan mengucek-ucek mata, tidak percaya kalau yang dihadapannya itu adalah anaknya.
"Vatar? Papa kira kamu maling ayam, kamu ngapain jam segini belom tidur?" Evan baru mengenali anaknya setelah mendekati Vatar, wajahnya tidak terlihat karena sekeliling remang-remang. Evan pun menurunkan senapannya. Hampir saja ia menembak anaknya sendiri.
"Tadi udah tidur, Pa...Ayamnya bunyi mulu. Berisik." keluh Vatar kesal. Ia merasa terganggu dengan kehadiran ayam itu di rumahnya.
Evan menggeleng pelan. "Kamu ini..Ayam itu ketakutan kalo ditaro belakang. Dia takut sama anjingnya Pak Lucas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Novela Juvenil[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)