Vatar baru saja hendak meninggalkan parkiran, samar-samar ia mendengar suara Dizza yang berada tak jauh dari mobilnya di parkir. Ia melihat cewek itu sedang menurunkan barang-barang dari mobil. Vatar memicingkan matanya karena mengenali mobil itu, Vatar ingat betul honda jazz merah itu milik siapa. Sial! Dizza berangkat bareng Ferdy. Baru beberapa hari ia absen, cowok itu sudah menikungnya. Tapi, untuk sekarang ia tidak mempermasalahkannya dulu dan cepat-cepat memanggil Dizza.
"Za..tunggu Za, aku mau ngomong sama kamu." panggil Vatar. Ia beringsut menghampiri Dizza, Dizza hanya menoleh sebentar saat cowok itu memanggil namanya, berusaha menghindar walau jarak mereka hanya satu meter. Vatar dengan cepat memepetnya.
"Gak perlu," ujarnya sambil berjalan tanpa mempedulikan Vatar yang sudah berjalan bersisian dengannya. Ferdy yang baru selesai mengunci pintu mobil merasa terganggu dengan kehadiran Vatar, mengejar mereka berdua yang sudah berdekatan. Ia sangat gerah dengan rivalnya itu.
"Udahlah, dia udah gak mau ketemu lo! Batu banget si dibilangin!" ujar Ferdy seraya menarik tangan Dizza lalu menyembunyikan cewek itu ke belakang punggungnya.
"Eh! Gue gak ada urusan ya sama lo. Minggir gak?!" Vatar mendelik, mendorong tubuh Ferdy agar menyingkir dari hadapannya.
"Ada juga elo yang minggir!" Ferdy balas mendorong Vatar.
"Elo yang minggir, kampret!" Vatar kembali mendorong Ferdy.
"Elo lah! Gak tau diri banget si? Dasar penjahat!" Ferdy mengangkat kerah baju Vatar, menurunkannya lalu menunjuk dadanya seolah Vatar penjahat kelas kakap buronan DPO.
"Percuma ya, lo di sekolahin? Bacot lo perlu gue brongsong nih kayaknya."
"Apa? Kurang ajar lo!" Ferdy sudah mengangkat tangannya untuk menampar Vatar tapi Dizza memegang lengan Ferdy, ia tidak mau terjadi perkelahian di sini dan menjadi tontonan gratis pagi-pagi.
"Udah Fer, kamu ke kelas duluan aja." pinta Dizza lirih, ia malu karena beberapa murid mulai memperhatikan mereka. Penasaran apa yang terjadi antara dua cowok ganteng yang saling dorong-dorongan. Jangan sampai mereka berkesimpulan dua cowok itu sedang memperebutkannya.
"Tapi, Diz?" protesnya kecewa, baru saja ia mendapat kesempatan emas untuk menghajar Vatar. Dizza malah menghentikannya.
"Please..."
Ferdy menghela napasnya, menurunkan tangannya lalu menatap Vatar galak. "Awas lo ya kasar sama dia, gue abisin lo!"
"Caper..." Vatar bergumam gusar sambil menatap kepergian Ferdy, Ferdy pun masih memelototi Vatar. Saat Ferdy sudah benar-benar jauh Vatar kembali fokus berbicara pada Dizza.
"Kamu belum bisa maafin aku? Please Za, aku bener-bener nyesel..Kalo aku tau dia kakak kamu gak mungkin lah aku pukulin."
Dizza mendongak menatap Vatar lekat-lekat. "Pikirkan itu dari awal."
"Ini salah faham Za, maafin aku." Vatar menggenggam tangan Dizza agar cewek itu luluh untuk memaafkannya. Sudah berkali-kali ia melakukan itu tapi Dizza tidak goyah juga. Vatar bingung sendiri dibuatnya.
"Lepasin tangan aku!" tepis Dizza kasar, tapi gagal...Vatar menarik tangannya lagi.
"Enggak, sebelum kamu maafin aku." Vatar mempererat genggaman tangannya. Ia tidak ingin melepaskan cewek yang ia sayangi ini jatuh ke tangan Ferdy.
"Lepasin Tar! Sakit." Dizza mencoba untuk melepas genggaman Vatar tapi tak bisa, genggaman itu terlalu kuat.
"Maafin aku Za..Aku bener-bener nyesel." ulangnya lagi memelas, Dizza dapat melihat sirat penyesalan di mata Vatar, tapi Dizza sudah teguh dengan pendiriannya bahwa dia harus bersikap tegas pada Vatar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Fiksi Remaja[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)