Dizza saat ini sedang bersama Ferdy di kamar inap kakaknya. Ferdy ikut-ikutan memberikan perhatian seperti yang Vatar berikan pada Dizza yaitu menyuruh orang untuk menunggui kakaknya saat Dizza sekolah dan hal lain yang biasa Vatar lakukan untuk Dizza. Semua cara ia lakukan untuk menarik hati cewek itu.
"Gimana es kopinya? Agak pait atau kemanisan?" tanya Ferdy pada Dizza, ia takut es kopi yang ia belikan ini tidak sama dengan yang sering dibelikan Vatar. Sebelum menjenguk, ia sengaja mampir ke kedai kopi langganan Dizza.
Dizza menyedotnya sedikit lalu mencecapnya perlahan. "Pas kok."
"Kalo kurang manis liat aku aja, Diz..hehehe."
Dizza tertawa. "Receh...."
"Receh dolar mah mahal, Diz."
"Hehehe, kamu bisa aja."
"Udah belajar buat UTS besok?"
"Aku jarang belajar kalo mau UTS. Gak tau kenapa kalo sengaja belajar malah rumusnya gak keluar di soal. Kayaknya aku sial."
"Wah, aku iri sama kamu yang cuek gini tapi selalu berhasil jadi juara kelas."
Dizza tersenyum tipis. "Cuma kebetulan."
"Kebetulan yang menguntungkan, ya?"
"Aku belum ada apa-apanya Fer, dibanding Vatar." Dizza refleks menyebutkan nama itu, nama yang tak pernah ia sebut beberapa hari ini. Ferdy pun terkejut mendengarnya, bukan apa-apa, Ferdy yakin bisa menandingi apapun dari Vatar, tapi satu. Ia tidak bisa menandingi otak encer Vatar. Itu memang menjadi salah satu kelemahannya.
"Dia sih emang udah gen einstein kali Diz, wajar kok kalo kamu kalah..hehe." Ferdy membelai lembut puncak kepala Dizza. Dizza kaget sebenarnya karena belum ada yang pernah melakukan itu selain almarhum papa dan kakaknya.
"Iya sih. Hehehe." Dizza pun maklum karena hal itu masih dianggapnya wajar dan ia bertingkah seperti biasa lagi.
"Besok mapel pertama apa, Diz?"
"Kimia."jawab Dizza singkat.
"Udah langsung ngebul dong, ya?"
"Kalo IPA bukannya emang ngebul semua, Fer?"
"Biologi emang bikin ngebul?"
Ferdy mengernyitkan alisnya. Sepengetahuannya mata pelajaran itu tidak ada rumus hitung-hitungan.
"Bisa, kalo soalnya disuruh ngitung berapa jumlah kaki seribu pusing juga kali, yah?"
"Hahahaha, kamu ngarang deh."
"Kamu tidur duluan Fer, biar besok fit ngerjain soalnya aku mau ngaji sebentar."
"Ih, ya ampun kriteria calon istri idaman nih."
"Gombal!"
"Ya udah, aku tidur duluan ya?" ujar Ferdy yang hanya dibalas anggukan kepala Dizza.
Semenjak bertikai dengan Vatar, Ferdy menggantikan cowok itu menginap di sana. Walaupun mereka tidak sekamar karena kebetulan saudara Ferdy sedang dirawat juga di rumah sakit itu. Dizza bersyukur masih ada orang yang peduli padanya. Karena bila malam tiba ia merasa kesepian tanpa ada teman. Kadang bila sangat kesepian ia conference call dengan ganknya hingga kuping panas.
Sejujurnya Dizza merindukan banyak hal dari Vatar, cowok itu memiliki tatapan yang begitu lembut, suaranya yang berat namun syahdu, wangi parfumnya yang begitu menenangkan. Berat sekali untuk Dizza memutuskan komunikasi dengan Vatar, tapi ia terlanjur kecewa dengan ulahnya yang kelewat barbar. Dizza ingin memberikan sedikit hukuman pada cowok itu agar berpikir dulu sebelum bertindak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Roman pour Adolescents[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)