Duabelas tahun kemudian.
Dizza melingkari kalender di meja kerjanya. Hari ini tepat dua belas tahun perginya Vatar ke luar negeri. Tapi, hingga detik ini ia belum mendapat kabar apapun tentang cowok itu. Kevin dan Dody sudah lost contact dengan Vatar dua tahun silam. Kabar terakhir yang mereka dengar dari Vatar adalah cowok itu sedang uji coba peluncuran kapsul Orion.
Kira-kira bagaimana ya Vatar sekarang? Apa kelakuannya masih seperti dulu? Apakah mulutnya masih kurang ajar dan mesum? Apakah wajahnya masih setampan dulu? Atau bertambah tampankah dia sekarang? Ah, membayangkannya hanya akan membuatnya gila... Tapi, apakah di sana Vatar memikirkannya juga? Menunggunya? Ataukah dia sudah tidak sendiri lagi? Adakah orang lain yang menemaninya di sana?
Dizza bercermin memperhatikan wajahnya sendiri. Sama seperti hari-hari kemarin, ia masih mengenakan jilbab yang sama. Jilbab yang diberikan Vatar padanya. Mungkin orang bosan melihatnya menggunakan warna yang sama tiap hari. Tapi, ia tidak peduli. Ia malah sengaja membeli warna itu sebagai pengganti bila jilbab dari Vatar sedang dicuci. Body cologne dari Vatar pun sudah habis dan ia membeli dengan merk dan variant yang sama sekadar untuk mengingat cowok itu.
Dizza membereskan kertas-kertas dan memasukkannya ke dalam map. Tepat pukul dua belas siang pasiennya sudah habis, jadi ia bisa bersantai dan berlama-lama saat keluar untuk makan nanti. Diliriknya Debby yang berada di sebelahnya sedang asik memainkan ponsel. Debby adalah anak koas di rumah sakit tempat ia bekerja. Usia gadis itu mungkin sekitar dua puluh. Betapa menyenangkan hidupnya, mempunyai pacar dan sering berkomunikasi melalui aplikasi chat. Dulu saat usianya seumur Debby, ia malah sedang galau-galaunya ditinggalkan Vatar. Sangat tragis! Awas saja kalau bertemu nanti, ia akan mencubitnya hingga biru-biru! Huh!
Dizza membuka ponselnya, berharap ada notifikasi dari nomor yang tidak dikenal. Mungkin saja nomor Vatar. Tapi, tidak ada notifikasi seperti itu masuk ke ponselnya. Yang ada malah notifikasi dari grup chat SMA dan kuliahnya. Grup itu tidak pernah sepi, ia tidak tertarik membuka chat itu walaupun jumlahnya sudah mencapai ribuan pesan. Mereka hanya bergosip di dalam sana dan ia terlalu malas untuk membacanya. Ingin rasanya ia keluar saja dari grup chat yang tidak berfaedah itu, tapi kalau keluar ia takut di cap sombong. Maka, ia sengaja membisukan grup chat-nya agar tidak berisik.
"Deb? Mau ikut saya ke restoran atau kamu masih mau senyum-senyum sendiri di situ?" tanya Dizza pada Debby. Cewek itu langsung menoleh dan buru-buru berlari menyusul Dizza yang sudah berjalan agak jauh.
"Tunggu, Dok. Ikut."
"Kamu jangan suka senyum-senyum sendiri apalagi kalo lagi di tempat umum. Nanti kamu disangka orang gila." Dizza menasehati saat mereka sudah selesai memesan makanan di restoran tidak jauh dari rumah sakit.
"Abis pacar saya lucu, Dok."
"Emang kalo lagi pacaran yang diomongin itu apa aja sih?" tanya Dizza tanpa menatap Debbi, ia sedang memasukkan dompetnya ke dalam tas. Mendapat pertanyaan seperti itu Debbi jadi ingin menggoda dokter jomblo yang satu ini.
"Jiahh, dokter kepo. Emang dokter belom pernah pacaran ya?"
"Kamu jangan ngeledek saya ya? Emang belom cukup curhatan saya minggu lalu?"
"Oiya maaf, Dok. Lupa. Ya gitu deh dok ngobrol biasa aja kayak temen. Tapi, kalo sama pacar kan harus lebih spesial. Kayak nanya, udah makan apa belom? Udah mandi? Tadi seharian ngapain aja? Terus ya nyeritain kehidupan sehari-hari. Kalo ada kejadian lucu atau temen yang kocak pasti diceritain juga. Saya juga sering nyeritain dokter ke pacar saya."
"Apa? Tega kamu ya ngegosipin saya di belakang."
"Tenang, Dok. Saya nyeritain yang bagus-bagus kok. Contohnya kayak dokter masuk sekolah selalu dapet beasiswa. Dokter itu pinter, mandiri terus.."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Jugendliteratur[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)