58. Karma

956 241 115
                                        

Dizza masih berada di dalam taksi, ia memang menyuruh supir untuk berkeliling kota Jakarta. Ia belum mau pulang, pulang hanya akan membuatnya teringat pada Vatar. Hampir satu jam ia menangis, sebenarnya ia malu dengan sopir taksi itu. Tapi, ia sudah tidak tahan untuk menahan tangisannya. Lagipula, mereka hanya berdua di dalam sana kenapa juga harus malu?

Dizza menyeka sisa bekas airmatanya. Rasanya sakit sekali saat seseorang itu pergi dengan meninggalkan pesan yang membuatnya berharap. Untuk apa Vatar melakukan semua ini bila pada akhirnya ia akan dilupakan? Untuk apa? Kalau saja dulu Vatar pergi begitu saja, mungkin dirinya tidak akan terlalu banyak berharap seperti sekarang. Atau dari awal Vatar memang sengaja membuatnya patah hati? Sungguh, kalau seperti itu tujuannya ia tidak akan pernah memaafkan Vatar. Lalu, bagaimana sekarang ia menyusun kembali serpihan hatinya yang sudah hancur? Harus dengan cara apa agar bisa utuh lagi?

Dizza terisak sambil memanggil nama Vatar, ia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi melampiaskan kekecewaannya. Karena hanya dengan menangislah ia dapat sedikit melegakan kegundahan hatinya. Kemacetan Jakarta yang biasanya membuatnya kesal, kini hal itu bukan masalah baginya. Ia tiba di rumah dua jam kemudian. Saat akan membayar taksi, ia baru teringat tidak membawa banyak uang tunai maka ia menyuruh supir itu menunggu. Dizza pun masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang, tidak sampai sepuluh menit ia keluar lagi dan taksi yang ia tumpangi tadi sudah pergi. Kenapa dia pergi? Padahal argonya mahal sekali. Aneh...

Yah, mungkin saja sopir itu merasa kasihan karena di dalam mobil dirinya menangis bagai besok kiamat dan belum bertobat. Ah, sial! Apakah dirinya tadi begitu menyedihkan hingga sopir itu merasa iba? Ia tidak suka dikasihani orang. Lagipula, ia merasa berhutang jika belum membayar taksi itu. Apakah ia berdosa? Ya sudahlah, kan sopir itu yang menghilang begitu saja tanpa mau dibayar.

Dizza merebahkan tubuhnya di kasur. Ia melirik benda-benda pemberian Vatar. Airmatanya kembali berlinang. Ia masih belum percaya bahwa Vatar sudah menikah dan sebentar lagi akan mempunyai anak. Ia berharap sedang bermimpi dan berharap ada orang yang membangunkannya. Sayangnya, ini adalah kenyataan pahit yang harus ia telan.

KRUK!

Dizza mencari asal suara itu, suara yang ditimbulkan dari perutnya sendiri. Dasar perut tidak tahu diri! Apakah dia tidak tahu kalau dirinya sedang galau? Masih sempat saja memperingatkannya untuk makan. Memang tidak bisa ditunda barang sebentar? Ia tidak mau makan! Ia hanya mau Vatarnya kembali!

Tiga hari tiga malam Dizza bergumul di kamar bersama kegundahannya. Ia absen tiga hari. Debbi si anak koas hari ini datang ke rumah membujuknya agar besok masuk kerja. Ia khawatir bila perasaannya belum tenang ia bisa melakukan mal praktik. Seperti salah membuat resep penguat kandungan tapi meleset menjadi resep penggugur kandungan. Itu bisa saja terjadi, kan?

Dizza merasa sudah kehilangan semangat dalam hidupnya. Ia berharap mendapat senyum dari Vatar setelah sekian lama tidak bertemu dan kini mereka bertemu sudah berhasil di profesi masing-masing. Bukan ia ingin mendapat pujian atau apapun, ini memang mimpinya dari dulu. Tapi, ini terasa berbeda bila kata-kata itu diucapkan oleh orang yang disayangi. Semua akan terdengar istimewa.

Sejak kapan Vatar menikah? Apakah Kevin dan Dody tidak mengetahui perubahan status Vatar tersebut? Apakah mereka sengaja merahasiakan itu dari dirinya? Dan apakah kejadian ini ada hubungannya dengan masa lalunya bersama Ferdy? Apa sekarang ia sedang mendapat karma karena telah menyia-nyiakan orang yang mengajaknya bertunangan? Dan kini dirinya sedang diganjar hukuman ditinggal menikah oleh Vatar? Oh, kenapa karma begitu cepat datang?

Keesokannya Dizza datang terlambat. Ia baru bisa tidur jam empat pagi. Alhasil, pasien di luar ruangannya sudah berjubel dan terlihat menggerutu karena poli belum juga dibuka. Debbi yang berada di dalam tampak kelabakan menjawab pertanyaan mengenai keterlambatan dirinya. Kasian anak itu jadi korban ulah galaunya. Dizza pun mulai memeriksa pasien-pasiennya secara maraton.

Rahasia Dizza [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang