Vatar menyingkirkan piring dan alat makan dari hadapannya. Napsu makannya sudah hilang. Kevin, Dody, Brad, Clint menghampirinya ke ruang makan. Mereka tampak ceria dan bahagia. Tunggu, sepertinya ada personil yang kurang. Kemana Harry? Dia tidak ikutan datang ke sini? Oh, ada. Harry sedang selfie dengan Dizza di belakang mereka. Vatar menatap sebal ke arah mereka.
"Selamat pagi, Android. Bagaimana malammu? Apakah lancar?" tanya Brad dan pandangan Vatar beralih pada Brad hanya ditanggapi putaran bola mata Vatar. Sudah mengganggu pagi-pagi lalu keliru menyebut namanya pula. Brad adalah manusia paling menyebalkan yang pernah ia kenal.
"Wajahmu begitu suram. Apakah kau belum melakukannya?" tambah Clint dan semua mata menatap Dizza yang sedang loncat-loncat kegirangan karena bertemu Harry.
"Belum ya?" Brad tertawa.
"Apa perlu kuajari gaya Amerika latin?" tambah Kevin dan langsung dihadiahi semburan kemarahan Vatar.
"Tutup mulutmu, Vin! Segera musnahkan DVD fifty shades keparatmu itu! Otakmu benar-benar sudah kotor!"
"Tenang. Ada apa denganmu, kawan?" Dody menenangkan Vatar yang sudah mulai marah-marah. Bukannya tenang, ia malah semakin naik pitam.
"Justru diriku yang harus bertanya. Ada apa kalian datang kemari? Bukankah seharusnya kalian check in jam empat pagi?"
"Ya ampun, apa itu berarti kau tidak suka dengan kehadiran kami?" tanya Harry pura-pura sedih.
"Tentu saja! Kalian merusak hariku."
Brad menggeleng dan mendesah. "Malangnya nasib kita, man. Padahal kita me re-schedule penerbangan untuk melihat keadaanmu."
"Aku tahu kalian ke sini hanya ingin mem-bully-ku." Vatar bersungut-sungut sementara mereka tertawa bersamaan. Menyebalkan.
"Ketahuan ya?" Clint terkekeh.
"Niat busuk kalian selalu terdeteksi olehku."
"Kau bertambah pintar, Andromeska." Brad menepuk-nepuk bahu Vatar. Sementara Vatar membelalakkan matanya, bukan karena Brad keliru menyebut namanya. Tapi, melihat sepatu Brad yang ikut masuk ke dalam rumah. Vatar tidak memperhatikan bagian bawah tamunya karena terlalu sibuk memperhatikan wajah menjengkelkan mereka.
"Astaga, Brad! Berapa kali sudah kuperingatkan agar melepas sepatu jika datang ke rumahku! Di sini tidak seperti di Amerika, Bodoh!"
"Maaf, Kawan. Aku lupa. Baiklah, aku akan melepasnya." Brad buru-buru melepas sepatunya dan menentengnya keluar. Pandangan Vatar beralih pada semua orang yang berada di sana.
"Apa yang kalian tunggu lagi? Cepat keluar. Semua."
"Tapi, Aku dan Dody sudah melepas sepatu."
"Tidak apa-apa. Ayo, keluar." usir Vatar sembari menyodok punggung mereka satu persatu dengan gagang sapu. Dizza heran melihat tingkah suaminya yang aneh, ia pun melayangkan protes.
"Sayang.. Apa yang kau lakukan pada tamu kita? Kau tidak sopan."
"Mereka sudah akan pulang, Sayang. Biar aku yang mengurusnya." ucap Vatar pada Dizza sambil tersenyum.
"Aku akan mengajak mereka sarapan."
"Dengar, Kawan. Istrimu baik seperti malaikat. Dia sungguh sial mendapat suami kasar sepertimu." cibir Clint.
"Apa? Ayo keluar!" Vatar berteriak dan memukul bokong Clint dengan gagang sapu. Cara itu berhasil membuat mereka keluar dari teritori ruang tamu. Segera Vatar menutup pintu dan menguncinya. Dizza yang melihat itu geleng-geleng kepala. Vatar menuju ke kamar dan mengambil ponselnya. Dizza mengekori Vatar ke kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Teen Fiction[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)