Saat mereka sedang asyik-asyik memasak bersama di dapur, handphone Dizza berbunyi nyaring, ternyata Mas Riza menelponnya.
"Assalamualaikum, Mas...." sapa Dizza riang, tidak biasanya kakaknya menelepon sore-sore begini. Ia pikir kakaknya akan bertanya tentang akan dibawakan apa nanti setelah pulang kerja. Dizza sudah membayangkan makanan yang lezat.
"W-walaikumsalam, Diz..." jawab kakaknya terbata, suaranya terdengar parau seperti menahan tangis.
"Mas? Mas kenapa?" tanya Dizza sedikit panik.
"L-liat berita di TV Diz, pesawat yang ditumpangi orang tua kita meledak pas take off.."
Terdengar tangis kakaknya pecah. Dizza masih terpaku tak percaya, jiwanya seolah melayang, diraihnya remote TV yang tak jauh darinya. Tangannya gemetar menekan tombol per tombol channel TV yang menayangkan berita sore ini. Benar, sekarang berita itu menjadi headline news. Lututnya lemas, tangan yang memegang handphone nya terkulai begitu saja hingga handphone nya jatuh ke lantai. Masih terdengar suara kakaknya yang memanggil-manggil namanya.
Mendengar ada suara benda jatuh Arum melihat apa yang terjadi, ternyata Dizza sedang menangis, menutupi wajahnya. Dia terlihat begitu terpukul, tapi Arum tidak tahu apa yang terjadi sampai dirinya melihat berita itu. Arum menghampiri Dizza dan memeluknya.
"Diz ortu lo beneran ada di pesawat itu?" Tanya Arum hati-hati, ia takut dengan pertanyaannya itu membuat sahabatnya semakin menangis.
"I-iya nomor penerbangannya sama, Rum..."
"Coba lo tanya rumah sakit yang menangani korban meninggal pesawat itu ada gak nama ortu lo?"
"Semua penumpang nggak ada yang selamat Rum, semua meninggal..." Dizza terisak-isak di pelukan Arum.
"Duh Diz gue gak tau harus ngomong apa, gue turut berduka ya..." Arum membelai pelan punggung Dizza agar sahabatnya itu bisa tabah.
Teman-teman yang lain pun ikut mematung memandang pemandangan pilu itu. Hanya isakan tangis yang bergema di ruang keluarga rumah Dizza. Tak lama Mas Riza pulang dan memeluk adiknya itu. Kini temannya pun tahu mereka hanya kakak dan adik, mereka sudah tidak lagi mempersalahkan itu.
Berita kepergian itu menyebar begitu cepat, para tetangga dan sanak saudara mulai berdatangan ke rumah, tak terkecuali Vatar. Cowok itu tanpa absen menemani Dizza, menungguinya, menenangkannya. Dizza pun sedikit terbantu dengan kehadiran cowok itu, yang rela meminjamkan bahunya untuk tempat menangis.
Entah apa yang terjadi kalau Vatar tak ada, dia adalah teman terdekat dari rumahnya, karena teman ganknya berbeda wilayah dari kediamannya. Dizza terpukul dengan kepergian orang tuanya, dia masih belum percaya kalau ini kenyataan. Dia seperti sedang bermimpi buruk, berharap ada seseorang yang membangunkannya. Tapi, sayangnya ini adalah realita hidup yang harus ia jalani.
"Udah dong Za, sampe kapan kamu nangis? Ortu kamu pasti sedih kalo liat kamu begini..." Vatar menasehatinya setelah satu minggu dia mengurung dirinya di kamar, tugas-tugas sekolah pun jarang dia kerjakan. Dizza hanya diam mengelap air matanya yang terus-terusan mengalir.
"Berjuang, demi ortu kamu..Aku tau ini berat tapi aku yakin kamu bisa lalui ini semua. Life must go on Za..." Lanjutnya lagi, Vatar menangkup pipi Dizza yang basah, cewek itu benar-benar kacau, wajahnya pucat, matanya bengkak, mungkin siang dan malam menangis.
"Mudah kamu ngomong gitu, kamu gak ngerasain jadi aku..." Dizza menyingkirkan tangan Vatar dari wajahnya. Matanya memandang lurus ke depan. Kosong.
"Aku juga pasti akan mengalami itu, tapi bagaimana sikap kita menghadapi situasi yang ada..."
"Aku nggak sekuat kamu, Tar..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Roman pour Adolescents[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)