"Dizza lagi?" tanya Kevin membuyarkan lamunan Vatar. Vatar mengangguk lemah.
Kevin adalah soulmate nya, masalah apapun termasuk masalah hati Vatar selalu curhat dengan cowok itu, begitu pun sebaliknya. Mereka sudah tahu sifat masing-masing jadi sudah tidak ada yang perlu mereka sembunyikan satu sama lain.
Kevin tahu Vatar sudah lama memendam perasaannya pada Dizza namun Vatar tidak mau menyatakannya karena dia belum siap di tolak oleh cewek itu, dia tidak mau bernasib sama dengan cowok-cowok lain yang menembaknya.
"Nyesel kan lo! Udah gue bilang tembak aja, walaupun ditolak yang penting kan lo udah lega dia udah tau perasaan lo."
"Percuma, dia ternyata udah lama punya pacar! Pantesan aja cowok-cowok pada di tolak faktanya begitu, tadi lo liatkan dia sekarang berani bawa pacarnya ke sekolah? Itu karena gue yang bilang ke Vania cowok itu dateng ke rumah Dizza! Kalo enggak, mungkin sampe sekarang dia masih nutupin hubungannya!" Jelas Vatar berapi-api.
"Iya tadi gue liat cowoknya, nggak nyangka gue tipenya Dizza yang dewasa-dewasa gitu, tapi cowoknya gue akuin ganteng sih mirip-mirip kayak christian sugiono gitu..hehe."
Vatar melirik Kevin dengan mata sinis, tangannya yang sedari tadi meremas kertas dia lemparkan ke kepala Kevin.
SEMPRULLL LOO...MALAH IKUT-IKUTAN MUJI TU COWOK!
Bukan muhrim bukan muhrim apaan! Bullshit banget gaya pacarannya bahkan lebih parah dari gaya pacarannya, selama ini dia belum pernah peluk-peluk apalagi cium-cium mantan pacarnya, paling banter pegangan tangan doang nggak lebih.
Vatar bukan kesal karena Dizza punya pacar, yah walaupun diakui itu juga berperan besar efek bad mood nya hari ini, Vatar kesal karena prinsip Dizza yang selalu bawa-bawa agama, padahal sikapnya bertolak belakang dengan ajaran agama, sok alim, berasa paling suci, berasa paling bersih padahal kenyataannya itu hanya kamuflase untuk menutupi aibnya.
Bel rumah Vatar berbunyi, orang tuanya sedang tidak berada di rumah jadi mau tak mau Vatar harus turun membukakan pintu, karena kamarnya berada di lantai dua. Padahal sebenarnya dia malas beranjak dari kamarnya.
Betapa terkejutnya Vatar ketika dia membuka pintu rumahnya, Dizza berdiri cantik dengan long dress ungu muda dan jilbab dengan warna senada. Belum pernah sekali pun selama mereka bertetangga Dizza datang ke rumahnya, kecuali Mamanya, Ayu yang memang sering datang untuk mengobrol dengan Mamanya Vatar, Mira.
Dizza tampak akan mulai berbicara begitu pula Vatar, mereka berbicara bersamaan, keduanya tertawa, lalu Vatar mempersilakan Dizza masuk dan berbicara duluan.
"Kok kamu belum rapi, Tar? Acaranya setengah jam lagi loh!" Dizza melongok jam tangan di pergelangan tangannya cemas.
"Maksud kamu?" Vatar bingung.
Dizza mengecek hpnya. "Jangan bilang kamu belum buka BBM aku, tu kan bener masih ceklis.. Iih Vatar kamu gimana sii hape kamu dikemanain??"
Vatar buru-buru meraba sakunya dan mendapati ponselnya mati. Vatar pun segera berlari ke kamarnya untuk bersiap-siap walaupun dia tidak tahu dia akan di bawa gadis itu kemana. Dia menurut saja saat Diza menyarankan untuk memakai kemeja dan celana bahan untuk datang ke acara tersebut,
Sebenernya acara apaan si? Kenapa nggak ngomong daritadi? Bikin ribet aja dadakan begini...
Di mobil, Vatar tak kuasa untuk tak mencuri pandang ke arah Dizza, gadis itu tampak makin cantik dengan riasan sederhana tanpa berlebihan, wajahnya yang mulus tanpa jerawat semakin bersinar di bubuhi bedak ringan, bibirnya yang tipis tampak sedikit penuh karena di pulas lipstik vibrant red. Sungguh menggoda untuk di kecup, beruntung sekali seorang Riza memiliki gadis secantik ini. Rasa iri menguasai hati Vatar. Vatar menggeleng-gelengkan kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Jugendliteratur[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)