Dizza dan Arum telah selesai mengerjakan tugas kelompoknya, Dizza melihat jam di pergelangan tangannya, jam tujuh malam. Arum akan dijemput kakaknya, sedangkan Dizza ingin naik bus ke rumah sakit. Arum menyuruh Dizza untuk menelepon Ferdy agar cowok itu menjemputnya, tapi Dizza tidak mau. Ia tidak ingin mengganggu Ferdy yang sedang ada urusan.
Tanpa sepengetahuan Dizza, Arum menelepon Ferdy. Padahal Dizza sudah melarangnya. Ferdy langsung menjemputnya saat itu juga, ia jadi tidak enak dengan Ferdy. Dia pasti sedang istirahat di rumahnya dan telepon dari Arum pasti sangat mengganggunya. Walaupun Ferdy pacarnya, ia tidak ingin selalu bergantung pada cowok itu. Ia ingin melakukan hal yang bisa dilakukan sendiri tanpa harus dibantu orang lain.
"Kamu kenapa nggak ngabarin aku kalo pulang malem? Padahal kan tadi aku telepon kamu, kenapa nggak diangkat?" tanya Ferdy saat Arum sudah pamit pulang duluan. Mereka sudah berada di dalam mobil, Ferdy tidak menyalakan mesinnya karena ingin membahas masalah ini terlebih dahulu.
"A-aku nggak mau ngerepotin kamu, Fer..."
"Sayang, aku nggak pernah direpotin sama kamu sama sekali.. Ini tuh udah malem, kalo kamu kenapa-kenapa gimana?"
"Iya, tapi aku udah banyak ngerepotin kamu.. Kamu selalu bantu aku.." Dizza tertunduk malu mengatakannya.
"Sssh ssshh, udah jangan disebut-sebut. Pokoknya kalo ada apa-apa kamu harus ngabarin aku. Kalo nggak, aku marah sama kamu." tutur Ferdy sambil menggenggam tangan Dizza. Dizza semakin tidak enak dan merasa bersalah di waktu yang bersamaan.
"Iya, maaf."
Ferdy menghela napasnya. "Ya udah, sekarang mau kemana? Kamu udah makan belum?"
"Aku nggak laper, kita ke rumah aja ya? Aku pengen mandi."
"Ya udah..." ucap Ferdy sambil menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan parkiran sekolah yang sudah sepi.
Selama di jalan Dizza tidur, ia mengantuk sekali. Hari ini hari yang melelahkan untuknya, ia tidak pernah tertidur seperti ini saat bersama Ferdy. Tapi kali ini ia tidak dapat menahannya, ia terlalu mengantuk. Ferdy yang melihat Dizza sudah tertidur pulas hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Pacarnya itu mudah sekali tertidur padahal baru beberapa detik menempelkan kepalanya disandaran kursi mobil.
"Sayang? Udah nyampe nih..." Ferdy menepuk pelan pundak Dizza, ia khawatir Dizza terkejut mendengar suaranya. Dizza membuka matanya perlahan, sinar lampu jalan sedikit menyilaukan matanya.
"Oh, udah nyampe? Kok cepet banget yah.."
"Kamunya tidur mulu sih, padahal dijalan tadi macet loh satu jam. Coba liat sekarang jam berapa?"
Dizza melirik jam tangannya. "Ya ampun udah jam sembilan. Berarti aku udah tidur dua jam?"
Ferdy mengangguk sambil meringis.
"Maaf ya aku tinggal tidur, aku ngantuk banget."
"Tau deh yang abis lembur beresin ruang lab." cibir Ferdy.
"Kok tau? Arum ya yang bilang?"
Ferdy tertawa, Dizza mengerucutkan bibirnya. Ia malu aibnya diketahui Ferdy, padahal tadi ia menutupinya. Arum memang tidak bisa menjaga mulutnya sama sekali.
"Nggak apa-apa, sayang.. Habis ini ke rumahku ya? Beresin kamar aku."
Dizza hampir saja akan mencubit Ferdy, ia ingat dulu bila Vatar yang meledeknya ia pasti akan mencubit cowok itu. Tapi, rasanya berbeda bila Ferdy yang meledeknya. Ahh, apa yang sedang ia pikirkan? Ia harus mengingat juga sudah berapa kesialan yang menghampirinya bila menyebut nama Vatar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Teen Fiction[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)