60. Fall To Pieces II

922 236 107
                                        

Di sini ada Directioner? Kalo ada, tau dong ya lagu 18... Kalo yang belom tau saya kasih videonya walaupun cuma official sih. Agak dikencengin ya volumenya, soalnya lagunya bisik2 gitu. 

Debbi menatap Dizza yang ternyata sedang menatapnya juga, ia mengerti perasaan Dizza sekarang. Debbi merasa prihatin dengan nasib dokter jomblonya itu, pasti hatinya sakit sekali harus menyaksikan laki-laki yang dinantinya duabelas tahun bertunangan di depan matanya sendiri. Kalau dirinya menjadi Dizza mungkin ia tidak akan kuat.

Dizza merasa lemas. Dua kaki yang berpijak di tanah seolah tidak kuasa lagi menopang berat tubuhnya. Ia menyesal telah datang ke tempat ini, seharusnya ia menolak undangan Vatar. Ini sama saja undangan kematian untuknya. Hati dan perasaannya semakin hancur mengetahui kenyataan bahwa Vatar menghamili Diana di luar nikah.

Dizza tidak menyangka Vatar akan berubah sedrastis itu. Ia pikir Vatar adalah sosok laki-laki yang baik dan tidak neko-neko. Ternyata, duabelas tahun dapat mengubah segalanya. Mengubah pribadi Vatar menjadi negatif. Kenyataan itu begitu memukulnya. Untuk sekarang, ia hanya bisa bersyukur Allah menunjukkan padanya bahwa Vatar tidak sesempurna itu.

Dizza berjalan memasuki halaman utama. Disana sudah berkumpul keluarga dan teman-teman Vatar, karena kebanyakan dari mereka adalah orang asing. Mungkin mereka adalah teman-teman Vatar saat berada di luar negeri. Dizza berusaha mencari orang yang dikenalnya, tapi tidak ada satu pun. Apakah Kevin dan Dody tidak diundang ke acara ini? Mustahil.

Cukup lama Dizza berkeliling mencari orang yang dikenalnya. Kakinya terasa pegal karena high heel yang dikenakannya, sepatu sialan itu seringkali membuatnya hampir terjungkal. Untung saja ada Debbi yang setia berada di sampingnya, jadi ia bisa berpegangan pada anak bawangnya itu. Kalau tidak, ia pasti sudah terjatuh dan menjadi tontonan orang.

Dizza bertemu dengan ART Vatar yang sedang menata makanan di meja, Dizza pun memberikan buah tangannya pada ART itu. Tidak mungkin kan ia memanggil-manggil Vatar sementara cowok itu sedang berbincang-bincang dengan keluarga besarnya. Begini-begini ia pun masih mempunyai sedikit tata krama.

Dizza memandang Vatar dari kejauhan, ia sengaja mengambil tempat yang agak jauh dari tempat Vatar berada agar cowok itu tidak mengetahui kehadirannya. Vatar terlihat bahagia dan akrab berbicara dengan keluarga besarnya. Ya tentu saja bahagia.. Ini kan hari pertunangan dan tidak lama lagi dia akan menikah. Semua orang pasti berbahagia di hari sakral mereka.

Vatar tampak gagah sekaligus menyebalkan dengan setelan jas itu. Penampilannya mengingatkan pada acara perpisahan SMA nya dulu. Dimana mereka dipasangkan menjadi raja dan ratu sekolah walaupun masih perang dingin. Kalau saja dulu dirinya tidak gengsian, mungkin hubungan mereka sekarang akan lebih jelas dan tidak menggantung.

Kini Vatar sibuk seperti mencari orang karena acara akan segera dimulai. Beberapa kali ia bolak-balik ke dalam rumah dan keluar lagi. Entah apa yang dicarinya. Debbi yang berada di sampingnya sedang lahap menyantap cup cake yang tersedia di meja. Sebenarnya ia menyukai kue semacam itu, tapi ia keburu kenyang dengan fakta Vatar dan Diana MBA.

"Kenapa terlambat?" tiba-tiba ada suara di sebelahnya, Dizza kelabakan karena tahu-tahu Vatar sudah di sisinya. Ia jadi tergagap salah tingkah.

"A-anu tadi aku ketiduran. Maaf. Acara tujuh bulanannya nggak jadi?"

"Emang kamu kira sekarang jam berapa? Acara tujuh bulanan selesai jam enam tadi." ujar Vatar sambil tertawa. Tawa lepas tanpa beban yang memperlihatkan giginya yang rapi dan putih. Vatar masih seperti dulu, bersih.

Well, bodo amat! Buang pikiran itu, Dizza! Dia itu tunangan orang lain.

"Seharusnya aku nggak usah dateng sekarang ya, kan nggak diundang." cibir Dizza sensi.

Rahasia Dizza [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang