"Lo ngapain dateng ke sini lagi???" bentak Vatar saat tiba di ruang tamu, bertolak pinggang seolah akan bertemu preman pasar super galak.
Cewek yang sedang duduk santai di sofa empuk berwarna abu-abu muda itu tersentak kaget dan segera bangkit dari duduknya, ia memandang Vatar tak enak hati, seolah Vatar benar-benar tak menginginkannya berada di situ.
"M-maaf Tar...A-aku datang cuma mau kasih ini...." ucapnya terbata-bata. Ia sangat takut kalau Vatar akan membentaknya lagi. Ia menaruh bungkusan yang ada dipangkuannya ke meja, lalu tanpa ragu ia beranjak dari sana.
Ternyata Dizza yang datang. Vatar mengatupkan mulutnya terkesima.
Salah alamat gue...
Dizza sudah berjalan menuju keluar pintu rumahnya kalau tidak dengan sigap Vatar menahan tangannya, sebelum cewek itu benar-benar pergi dari rumahnya. Dan dia akan menyesal seumur hidupnya bila itu terjadi.
"Maaf Za..aku kira Olivia..."
Dizza hampir saja memutar matanya, tapi ditahan dengan sekuat tenaga. Takut-takut Vatar menangkap ekspresinya.
Olivia lagi.
"Kok kasar gitu?" Dizza teringat sesuatu setelah mendengar kata-kata usirannya barusan. Aneh sekali ada cowok yang ngusir pacarnya sendiri.
"A-ku putus sama dia tadi..."
"Ow...maaf..."
Vatar mengernyitkan keningnya heran.
"Cuma itu? Aku kira kamu bakal seneng dengernya..." senyumnya merekah menggoda, seolah menyangkal wrong impression Dizza tadi. Vatar yakin dalam hati Dizza senang mendengar kabar ini. Pipi Dizza memanas mendengarnya.
Ketahuan.
"Aku nggak sejahat itu! Tertawa di atas penderitaan orang lain."
"Terus kenapa tadi pagi kamu nangis kalo bukan cemburu?" pancingnya lagi membuat pipinya benar-benar memerah sekarang.
Sial.. Ia benar-benar sudah ketahuan.
"K-kamu sampai kapan mau pegang tanganku?" Tanya Dizza sambil tertawa menetralkan suasana canggung diantara mereka. Vatar terhenyak melihat tangannya yang masih menggenggam tangan Dizza erat. Sontak Vatar melepaskan tangannya.
"Maaf Za, kebawa suasana...hehehe"
"Kamu pake blush on Tar? Pipi kamu merah..." Dizza memiringkan wajahnya mengamati pipi Vatar.
"I-ini tadi abis bersihin muka..."
"Hah? Emang muka kamu kotor?" Dizza menertawakannya.
"Iya tadi abis dijilat anjing..." sahutnya jutek mengingat kejadian tadi yang membuatnya naik darah. Dizza sudah akan membuka mulutnya untuk memperjelas maksud Vatar, tapi cowok itu malah menarik tangannya lagi dan mengajaknya duduk.
"Kamu bawa apa nih?" tanyanya sambil mengamati bungkusan yang tadi dibawa Dizza.
"Buka aja."
Vatar membukanya dengan penuh rasa penasaran, senyumnya mengembang saat dia melihat isi bungkusan tersebut.
"Wahhhh, batik. Kamu tau aja aku belom punya batik...Makasih ya, Za..."
Vatar mengguncang-guncangkan lengan Dizza saking bahagianya. Seolah baru mendapat hadiah mobil sport miliaran rupiah. Matanya berbinar bahagia.
"Oleh-oleh dari Mas Riza. Ucapan makasih kamu nanti aku sampein deh.."
Seketika raut wajah Vatar sedikit masam, tak se sumringah sebelumnya. Alisnya terangkat sebelah...
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Fiksi Remaja[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)