Dizza terisak-isak setelah kepergian Vatar. Vatar sudah menikah, Diana itu istrinya, dan calon anaknya laki-laki. Kehidupannya sudah sempurna! Apa yang bisa ia harapkan lagi dari Vatar? Dia tidak kan berpaling padanya. Penantiannya tidak menghasilkan apa-apa, penantian yang kosong. Sakit hati ini, sakit...
Dizza tidak percaya dengan semua ini. Dulu Vatar yang memujanya, menantinya. Kini sudah berpindah ke lain hati. Sebegitu mudahkan Vatar melupakan dirinya? Hanya sampai di sini saja kah perjuangan Vatar untuk mendapatkannya? You're full of shit, Tar!
Debbi yang baru kembali dari kantin tampak keheranan melihat dokter jomblonya menangis, ia sama sekali tidak mengerti dengan perubahan mood guru besarnya itu. Tadi marah-marah, membentak, menyuruh dan sekarang menangis. Biasanya dokter jomblonya itu terkenal ramah, lembut dan sopan. Ada apa gerangan? Apa dia benar-benar kerasukan setan jembatan Ancol?
"Dok? Dokter kenapa?" tanya Debbi khawatir, ia menaruh plastik makanan yang tadi dibelinya di meja. Dizza tidak menjawabnya, ia malah semakin terisak. Debbi mengambilkan tisu dan segelas air untuk Dizza.
"Minum dulu, Dok. Pelan-pelan cerita sama saya. Dokter kenapa?" ujar Debbi sembari menggeser kursi putar tepat di sebelah Dizza. Dizza menerima gelas berisi air yang diberikan Debbi dan meminumnya hingga habis.
"Vatar udah nikah, Deb."
Debbi mengerutkan keningnya. "Dokter tau darimana?"
"Kemarin saya liat mereka pulang bareng dari Amrik." sahut Dizza sembari menyeka airmatanya dengan tisu. Ia tidak mau menangis lagi. Ia harus kuat. Orang yang ditangisinya saja tidak memikirkan perasaanya. Untuk apa ia capek-capek membuang tenaganya sia-sia untuk menangis.
"Emang dokter udah tanya sama dia?"
"Belom sih. Tapi, mereka mesra banget." ujar Dizza, ingatannya melayang pada kedatangan mereka saat di bandara dan barusan. Hatinya sakit melihat Vatar bermesraan dengan perempuan lain hingga ia tidak dapat menyembunyikan kekesalannya. Lebih tepatnya sih kalau ia cemburu...
"Kali aja itu temen atau sodaranya, Dok." celetuk Debbi spontan, Dizza semakin kesal mendengar tebakan Debbi yang seolah menganggap enteng masalahnya.
"Menurut kamu pasien yang barusan dateng itu suami istri apa bukan?"
"Pasien yang mana?" tanya Debbi bingung sambil mengingat-ingat pasien yang datang hari ini.
"Yang pas saya suruh kamu beli makanan."
"Ooh yang suaminya ganteng itu ya, Dok? Lah itu mah ketauan suami istri, Dok. Suaminya aja mesra gitu. Saya aja pengen Dok gantiin posisi istrinya." puji Debbi malu-malu.
"Nah, kamu aja berpikir sama kayak saya 'kan?"
"Emang kenapa? Bukannya itu temen Dokter?" tanya Debbi heran, ia bingung dengan Dizza yang membahas pasien barusan padahal kan mereka sedang membahas Vatar.
"Itu Vatar, Deb."
"Hah?? Ja-jadi Diana yang diliat Dokter di bandara itu perempuan hamil yang tadi?" tanya Debbi terkejut, ia hampir saja menjatuhkan styrofom yang sedang dipegangnya. Dizza mengangguk pelan,
"Iya dan laki-laki yang kamu pelototin sambil ngences itu Vatar, Deb." sindir Dizza sebal. Ia memperhatikan Debbi memandangi Vatar tanpa berkedip. Debbi menggaruk rambutnya tidak enak.
"Maaf. Dok. Saya nggak tau kalo itu Pak Vatar."
Dizza melipirkan bibirnya. "Kalo kamu jadi saya perasaan kamu gimana?"
"Cemburu lah, Dok. Kesel, marah." Debbi berseru sambil memukul meja dengan penggaris, gayanya seperti seorang hakim yang sedang mengetuk palu keadilan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Fiksi Remaja[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)