33. Memory

1K 195 27
                                        

Yang di italic ini Vatar lagi flashback yaa..

Cie cie yang mau di ajak Vatar nostalgia...Cieeee....

"Vin! Dod! Tungguin gue dong!" teriak Vatar pada dua sobatnya itu yang sudah agak jauh mengayuh sepedanya. Vatar sudah tertinggal sepuluh meter dari dua sobatnya itu.

"Hahaha si lemot ketinggalan mulu! Cepetan ah! Gue sama Dody lagi lomba nih." sahut Kevin pada Vatar yang kian menjauh hingga menghilang di tikungan gang. Vatar hanya menggerutu kesal, dua sobatnya tak ada yang peduli padanya yang baru belajar naik sepeda. Tangannya berkeringat, karena sedari tadi terus-terusan memegang stang kuat-kuat. Ia takut tidak bisa mengontrol kecepatannya. Punggungnya pun sudah pegal karena duduk tegak terus. Ia ingin menyudahi saja acara bersepedanya sore ini, Vatar pun membelokkan sepedanya ke arah jalan menuju rumahnya, ia ingin cepat-cepat pulang hingga tidak sadar terlalu ngebut.

Seekor anjing berlari melintas, Vatar pun gugup apa yang harus dilakukan. Jadi, ia membanting stangnya ke kiri. Sukses mendarat di selokan depan rumah tetangganya. Vatar merasakan nyeri yang amat sangat di kaki dan tangannya. Lutut dan sikunya berdarah. Rasanya ia ingin menangis memanggil mamanya. Tapi, niatan itu tidak jadi dilakukan karena ada seorang anak perempuan yang sedang melihat ke arahnya.

Anak perempuan itu terlihat bimbang, gerakan kakinya yang maju mundur tampak lucu. Syahrini mungkin mencontoh gaya maju mundur cantik ala anak itu. Apa anak itu tidak ada niatan untuk menolongnya? Tidak ibakah ia melihat dirinya terjungkal ke dalam selokan? Daritadi ia hanya berdiri saja di sana sambil memegangi dagunya. Apa yang sedang dia pikirkan? Apa dia ingin menertawakannya?

Vatar pun berdiri dengan susah payah, mencoba mengeluarkan sepedanya dari selokan. Untung selokan itu kering, kalau basah ia tidak dapat membayangkan bau pakaiannya seperti apa. Menjijikkan. Vatar menoleh ke arah anak yang memperhatikannya tadi. Ia sudah tidak ada di sana. Mungkin sudah masuk ke rumah dan menertawakannya bersama anggota keluarga yang lain.

Beberapa menit kemudian anak perempuan tadi keluar dari rumahnya dan berlari menghampiri Vatar membawakan kotak berwarna hijau bergambar tanda palang merah. Vatar masih SD, ia hanya tahu lambang itu lambang tambah-tambahan yang sedang diajarkan gurunya di kelas. Apa anak itu sekarang akan mengajaknya untuk main hitung-hitungan? Apa tidak ada waktu lain kalau ingin mengajak bermain? Dasar anak yang tidak peka!

Vatar menunggu saja apa yang ingin dilakukan anak itu. Ia tidak berniat bertanya, hatinya sudah keburu kesal melihat tentengan anak itu yang menurutnya tidak membantu sama sekali. Dengan angkuhnya Vatar masih berdiri dihadapan anak itu, tak bergeming walau anak itu jongkok di bawah kakinya. Vatar merasa seperti raja yang sedang disembah rakyat jelata.

Anak perempuan itu mulai membuka kotak persegi yang dibawanya. Mengeluarkan isinya yang ternyata segulung perban, gunting, plester luka dan botol plastik bertuliskan refanol. Isi kotak itu masih banyak, tapi Vatar tidak memperhatikannya karena fokus pada benda apa saja yang dikeluarkan anak itu. Vatar merasa bersalah sudah berprasangka buruk padanya tadi.

"Maaf, sebenarnya aku nggak boleh ngobrol sama orang asing. Tapi, aku kasian liat keadaan kamu." ujarnya tanpa menatap Vatar. Vatar melongo mendengarnya.

Dirinya yang terjatuh tapi kenapa dia yang minta maaf? Anak aneh.

"Coba kamu julurkan kaki kamu di situ. Biar aku obati luka kamu." perintahnya tanpa menunggu jawaban Vatar, Vatar pun menuruti perintah anak itu. Selama beberapa menit ia membiarkan anak itu menyentuh-nyentuh kulitnya. Entah kenapa, sentuhan anak itu begitu lembut dan menyenangkan. Ia mengamati anak yang ada dihadapannya, kulit putihnya mampu menandingi kulit dirinya yang tergolong putih untuk ukuran seorang anak laki-laki. Rambutnya yang hitam legam diikat ekor kuda. Matanya yang bulat bersinar cerah saat ia menegurnya tadi. Di masa mendatang mungkin anak ini semakin cantik.

Rahasia Dizza [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang